Novel

Love, It’s A Gift

Wilda Jnh

Kisah perjalanan cinta seorang chef yang memiliki kemampuan melihat masa depan dari bola mata perempuan yang sedang menjalin cinta dengannya.
Sebuah Gift yang membuat tali asmara sang chef andal tak pernah berjalan mulus. Setiap kali akan beranjak ke tahap serius, Tony dibayang-bayangi oleh kilas balik yang dilihatnya dari tatapan sang pacar. Dan itu selalu menimbulkan keraguan di hatinya.
Gift itu pula yang telah menempatkan dirinya pada pilihan sulit. Dua orang wanita terbaik disuguhkan Tuhan untuk Tony. Dan ia harus memilih salah satu dari mereka.

Mampukah Tony membuat keputusan terbaik dalam hidupnya??

____Ini adalah novel pertama saya. Kritik dan saran disilahkan (asal objektif,lugas,dan tepat). Selamat membaca, readers!____kunjungi juga Wattpad penulis WildaJnh

Prolog.

Meski sulit, sebuah keputusan besar harus diambil berdasarkan nurani terdalam.
Apapun risikonya, keputusan itu adalah yang terbaik dan akan melahirkan jalan-jalan indah untuk dilalui
Tony tahu benar hatinya tak pernah salah. Namun, terkadang Gift memberinya spoiler tentang tantangan yang harus ia hadapi.


PART 1
New York City adalah gambaran sempurna kesemrawutan sibuknya lautan manusia. Lalu lalang pedestrian yang selalu membanjiri jalanan kota di antara gedung-gedung bertingkat yang entah ada berapa puluh lantai menjulang tinggi. Jika dilihat dari atas, para pejalan kaki yang rush in time itu lebih terlihat seperti barisan semut. Bergerak cepat saling mendahului ataupun bersalipan.

Pemandangan pedestrian yang memenuhi jalanan NYC.Credit: google image

Bedanya, manusia-manusia ini tak saling bertegur sapa saat berpapasan. Siapa yang tahu, di negeri yang mayoritas warganya kaukasoid itu, seorang pemuda asli Jawa sedang mengadu nasib di sebuah restoran Indonesia yang berdiri di pojokan kota Brooklyn. Sebuah restoran sederhana yang juga surga nostalgia bagi warga Indonesia yang tinggal di sana.
“Tiga soto dan dua ayam panggang. Come on, chop chop, Guys!” teriak kepala koki yang sedari tadi mondar-mandir dengan mengacak pinggang. Pria 40 tahun-an itu terlihat bersemangat.
“Tony, sini! Saya mau bicara sama kamu,” sapanya pada salah satu asisten koki andalan.
“Iya, Pak.” Tony segera mengelap tangan dan berlari menuju bos yang berwajah mirip seperti Surya Saputra itu. Bedanya sang bos ini tidak suka berakting, dia adalah juru masak senior sekaligus pemilik Khatulistiwa Restaurant.
“Untuk promosi yang saya singgung minggu lalu, kamu yang saya pilih jadi koki senior tetap di sini.”
Bak mendapat undian di tengah krisis moneter, mata Tony berbinar mendengar ucapan sang kepala koki yang telah membimbing sekaligus memberinya kesempatan magang di restoran ini.
“Pak, ini beneran? Saya yang dipilih?” tanya Tony meyakinkan sekali lagi.
“Iya, saya suka kerja kamu. Sudah, back to work!” seru Pak Indrawan sambil menepuk pundak Tony yang masih tersenyum lebar kegirangan.
Yes, Sir!” balasnya dengan mantap.
**
Sore itu Tony tidak sabar ingin segera bertemu Sarah. Gadis blasteran Amerika-Indonesia yang telah dipacarinya sejak pekan lalu. Sarah tinggal tiga blok dari apartemen Tony. Ia hanya perlu jalan sekitar 15 menit untuk sampai ke tempat Sarah. “Hello, Honey!” sapa Tony melihat Sarah yang cantik rupawan dengan rambut coklat kemerahan yang terurai di pundak.
Hey! How’s everything going? Ada ayam yang nggak mati setelah kamu sembelih?” kata Sarah dengan aksen Indonesia yang belepotan. Dia sangat suka cerita Tony saat menyembelih ayam di rumah sang nenek, di mana ayam itu ternyata belum mati dan malah berdiri dan lari-lari.
Haha, no. But, today I got promotion …” kata Tony dengan mata membelalak dan senyum lebar.
Oh, wow! Congratulations! I’m so happy for you, Sayang!” ucap Sarah sambil mencubit kedua pipi Tony yang memerah sejak tadi.
“Kita harus merayakan ini! Times Square?” tanya Tony bersemangat.
Alright, let’s go!” Sarah menggandeng lengan Tony dan menyandarkan kelapanya di pundak pria yang hampir sama tinggi dengannya itu.

Brooklyn bridge. Jembatan ikon yang menghubungkan kota Manhattan dengan Brooklyn. Credit: google image

Sarah adalah teman baik Tony. Mereka bertemu di bandara saat Tony pertama kali menapakkan kaki di negeri Paman Sam dua tahun lalu. Karena warna koper mereka sama, Tony dan Sarah salah mengambil koper. Setelah tiba di apartemen, barulah Sarah sadar koper yang dibawanya milik orang lain. Untung saja, nametag Tony dilengkapi alamat email sehingga Sarah bisa menghubunginya. Sejak itu, mereka jadi akrab dan berteman.
Keduanya tak pernah menyangka akan jadi sepasang kekasih. Sarah sibuk bekerja di perusahaan publisher buku, sementara Tony menjadi chef di Khatulistiwa Restaurant, yang kini telah jadi tempat kerja tetapnya. Hingga minggu lalu di Brooklyn Bridge, Tony mengungkapkan perasaannya pada Sarah yang telah ia pendam sejak pertama kali melihat gadis bermata hazelnut itu.
“Aku nggak percaya kita pacaran. It’s our second date!” Sarah tampak sumringah.

Tony memegang tangan putihnya yang lembut di atas meja. Mereka saling menatap. Sesaat Tony masih digelimangi rasa bahagia dan cinta, tiba-tiba ia melihat sesuatu melalui mata cantik Sarah. Dia seperti berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Tony melihat bayangan Sarah yang tengah duduk dengan wajah sedih. Guratan senyum bahagia itu sirna. Lalu dia melihat dirinya sedang duduk di lantai dapur restoran. Meringkuk dan menangis tersedu. Dia kembali tersadar dari kilas bayangan itu. Dilihatnya Sarah masih tersenyum lebar, duduk dengan tengan. Menunggu waiter membuka champagne mereka.
“Aku juga senang, you’re an amazing woman!” Suara Tony sedikit bergetar karena kini ia setengah ragu pada hubungan baru mereka.

Baru setengah jam mereka makan, Sarah antusias bercerita tentang novel yang baru saja dirilis oleh perusahaannya. Sementara Tony hanya merespon singkat. Otaknya tak bisa berhenti memikirkan kilas bayangan yang baru saja dia lihat.
“Tony? Are you listening to me?” tanya Sarah sambil melambaikan tangan ke depan wajah Tony yang sama sekali tak terlihat fokus padanya ataupun makanan mereka.
“Oh, sorry. Iya aku dengerin kamu kok.”
“Well, habis ini kita mau ke mana lagi?” Sarah berkedip manja pada Tony, seakan memeberinya kode untuk sesuatu yang harusnya telah Toni pahami.
“Aku …. aku … ummm, kita pulang aja, ya. I don’t feel really well. Mungkin capek seharian manggang ayam, haha.” Jelas sekali alasan bohong Tony. Sarah tersenyum kecut. Bibirnya manyun.
I see. It’s okay. Kita masih punya banyak waktu. No rush, Baby.” Mata Sarah tak pernah lepas dari wajah tampan pria asli Jawa itu. Seakan penuh harap bahwa hubungan mereka akan berjalan mulus.
Malam itu Tony tak bisa tidur nyenyak. Kemampuan yang selalu disebutnya Gift itu memang selalu muncul saat Tony mulai merajut tali percintaan dengan wanita. Tapi Tony telah menyukai Sarah sejak lama. Dan baru saja dia merasakan manisnya romansa dengan perempuan bertubuh sempurna itu. Pikirannya melalang buana. Apa maksudnya kilas bayangan tadi? Padahal gue yakin Sarah baik buat gue.


PART 2
Langit kota Tokyo tampak mendung. Tony memandang pada gumpalan awan abu-abu yang terlihat seperti kapuk bantal tua. Beberapa kali guncangan turbulence terasa. Namun si burung besi ini tetap mengudara dengan gagah. Semenit kemudian sang pilot bersuara, “Ladies and gentlemen, please fasten your seatbelts and put your trays and seats in the upright position. We’ll be landing at Narita in about 15 minutes.”

Pemandangan kota Tokyo dari udara.Credit: foto dari teman penulis yang khusus diambil untuk Love It’s A Gift.
Narita airport.

Gemercik hujan membasahi aspal Narita Airport. Senja terlihat lebih muram. Semuram hati Anthony yang bergejolak ingin keluar menembus tulang dadanya. Ya, Tony sedang dirundung duka atas kepergian sang ayah menghadap sang Pencipta. Ini pula yang menjadi alasannya pulang lebih awal, terlalu awal, di saat karirnya mulai menanjak. Baru dua hari yang lalu Tony merasa di puncak tertinggi gunung impiannya. Mendapat promosi di restoran dan pacar cantik yang dia dambakan. Impian Tony yang hampir sempurna harus sirna karena kegigihan bakti pada keluarga. Dari ingar bingar Brooklyn, New York City, Chef Anthony Kingraja Putra harus putar balik ke Nusantara.

Salah satu stand shopping di Narita Airport.

Masih termenung karena kalutnya pikiran dan hati, Tony tak sadar ponsel di tangannya berdering. Hingga seorang perempuan di sebelahnya harus menegur.
Sir, I’m sorry. Your phone is ringing,” kata perempuan berjilbab itu sambil sedikit condong melihat ke wajah Tony yang benar-benar tak peduli pada sekelilingnya. Perempuan itu lalu memetikkan jari ke depan wajah Tony beberapa kali sampai dia tersadar dari lamunannya.
Perempuan itu berucap lirih, “Phone … Phone….” Tony bingung dan kaget saat ponselnya berdering kembali.
“Oh, yes. Thanks,” ucap Tony sambil segera mengangkat ponsel.
“Halo, Bang! Udah sampai mana?” suara parau sang adik terdengar samar-samar di telepon.
“Ini udah di Tokyo. Ibu gimana?”
“Masih syok. Tapi semuanya masih di sini nemenin kita. Bang Tony hati-hati ya.”
“Iya, Benid jagain ibu, ya”

Lalu lalang para penumpang lain di hadapan Tony sama sekali tak membuat perhatiannya teralihkan. Dia masih menyelami pikiran yang belum bisa sepenuhnya mencerna apa yang telah terjadi. Sepersekian detik sebelum ponselnya berdering, Tony masih berpikir bahwa kepulangannya ini adalah kunjungan biasa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, sang ayah akan ada di bandara dengan kaos doreng dan topi berlogo TNI. Pria tegap berbadan kekar dan garis wajah tegas yang jarang sekali tersenyum padanya itu akan menepuk pundak Tony dan memeluknya 3 detik, tanpa sepatah kata pun. Tiga detik itulah yang sebenarnya sangat ia harapkan saat ini.


Ponsel Tony berdering sekali lagi. Pesan whatsapp dari Sarah rupanya, “Hey, Tony. I’m sorry I was mad. Aku gak percaya hubungan kita harus sesingkat ini. But, I hope we could still be friends. Take care.
Me too. Kamu selalu jadi teman terbaikku, Sarah.” Ditekannya tombol kirim. Tony memandangi sesaat foto profil Sarah yang tersenyum lebar dengan gigi putih sempurnanya. Pony-nya tersusun rapi menutupi sebagian kening. Kening yang ia kecup untuk terakhir kali dua hari lalu. Kecupan selamat tinggal di bandara John F. Kennedy Airport yang tak pernah dia harapkan. Apalagi, setelah dikecup keningnya, Sarah menampar Tony dan beralalu sambil menangis. Dia amat kecewa dengan keputusan Tony untuk pulang ke Indonesia dan tak kembali lagi ke Amerika. Sarah berharap Tony akan kembali setelah masa berkabungnya usai. Namun Tony tidak ingin jadi anak dan abang yang egois bagi ibu dan adiknya. Dia harus pulang dan selalu ada untuk mereka, selamanya.

Tiba saatnya boarding. Saat hendak berdiri mata Tony tertuju pada sebuah buku dengan sampul merah dan nametag Gita Mulia Dewi di samping ia duduk. “Sepertinya itu buku cewek tadi” batinnya. Tony menoleh sekitar, tapi perempuan tadi telah pergi. Tanpa pikir panjang dia membawa buku itu untuk diberikan pada petugas bandara. Barangkali mereka bisa menemukan sang pemilik buku. Sesaat sebelum Tony mulai berjalan pergi, terlihat seorang gadis berjilbab yang lari dengan tergopoh-gopoh menujunya.
Hey, wait! It’s my book! Permisi, Mas …,” teriak gadis itu yang kini makin dekat menghampiri Tony, menghampiri buku itu lebih tepatnya.
“Saya sudah duga, it’s your book, ini ….” Tony mengangsurkan buku itu dan melempar senyum pada gadis cantik berwajah mungil yang mendongak dan menyunggingkan senyum manis padanya.
“Iya saya hampir lupa. Terima kasih, this book is my life, haha,” ucap cewek berjilbab abu-abu muda itu. Dia mendongak kembali dan menatap wajah Tony. Mereka bertemu pandang sesaat. Dalam hitungan kurang dari satu detik, Tony tiba-tiba seakan berada pada ruang dan waktu lain. Dia melihat sosok gadis pemilik buku itu, tengah duduk di sebuah kafe bersama seorang laki-laki. Tak jelas siapa laki-laki itu. Tony mendekat beberapa langkah, tapi dia telah kembali pada ruang dan waktu yang sesungguhnya, dia sedang berdiri di depan gadis berjilbab pemilik buku merah tadi, bersiap untuk boarding. “Mulai lagi” kata Tony dalam hati.

PART 3
Setelah transit tiga jam di Tokyo, pukul 12.45 dini hari Tony tiba di bandara Soekarno Hatta. Delapan belas jam total lama penerbangan dari New York ke Tangerang. Lelahnya perjalanan tak begitu ia rasakan karena menahan rindu, sedih, dan duka yang kian memuncak di dada. Pria berbaju doreng berbadan tegap itu tentu saja tidak lagi menunggunya di depan escalator seperti tahun lalu. Tony berjalan makin cepat karena tak ingin larut dalam lamunan. Beratnya ransel dan dua koper besar yang diseretnya tak membebani langkah Tony, yang ada di pikirannya hanyalah sang ibu dan Benida-adiknya. Dia ingin segera bertemu dan memeluk mereka. Lebih dari tiga detik.

Cengkareng Tangerang dari udara


“Anthony!” seorang pria paruh baya bersarung dan memakai peci putih tiba-tiba memanggil dan berjalan cepat ke arahnya. “Kamu pasti lupa dengan saya. Pak Hisyam, yang dulu sering mancing dengan bapak kamu waktu masih di Sidoarjo,” katanya sambil menyalami Tony.
“Tentu saya ingat, Pak. Saya dulu juga suka ikut dan makan bekal bapak”
“Saya turut berdukacita. Mayjen Sudjarwo adalah teman terbaik saya” Pak Hisyam menepuk pundak Tony.
“Assalamualaikum, Bapak…” seorang gadis berjilbab abu-abu mendekat dan memeluk Pak Hisyam. Rupanya gadis pemilik buku itu putrinya. Pemandangan yang indah dan membuat Tony iri. Gadis itu dipeluk sang ayah. Lebih dari tiga detik dengan sangat erat.
“Wa’alaukumsalam, Alhamdulillah kamu datang dengan selamat, Nduk”
Gita kemudian melepas pelukan rindu sang ayah dan berbalik menoleh pada Tony yang mematung melihat kehangatan cinta anak dan bapak itu. “Loh, bapak kenal sama mas ini?”
“Ya jelas kenal, Git. Dia ini anak teman bapak. Nak Anthony kenal dengan Gita? Atau kalian satu penerbangan tadi?”
“Belum kenal, Pak. Tadi kebetulan kami ketemu di Jepang saat transit. Terus naik pesawat yang sama” belum kenal? Pikir Tony yang baru sadar dengan ucapannya yang lebih terdengar seperti mengharap untuk berkenalan.
“Oh begitu. Nak Anthony mau pulang? Ayo bareng saya dan Gita sekalian!”
“Oh, terima kasih, Pak. Saya naik taksi saja.”
“Jangan gitu, lah. Kamu ini anak teman terbaik bapak, ayo bareng kami saja!” Tony mengangguk dengan sopan.


Dari balik kaca mobil, Tony melihat karangan bunga berjejer di depan pagar rumahnya. Bermacam-macam warna, font tulisan yang berbeda-beda, tapi dengan maksud yang sama. Turut berduka cita atas meninggalnya Mayor Jendral Sudjarwo Pratikno. Mobil Pak Hisyam berhenti di depan pagar rumah Tony yang tertutup rapat. “Nah, sudah sampai,” Pak Hisyam menoleh pada Tony yang diam seribu bahasa menatap pada pagar besi hitam itu, “Nak, Anthony! Sudah sampai.”
“Oh, iya Pak. Terima kasih.” Mereka lalu bergegas keluar mobil dan menurunkan tas dan koper-koper Tony.
“Sekali lagi, bapak turut sedih atas kepergian bapakmu. Semoga kamu kuat dan tabah, ya Nak,”
“Terima kasih, Pak. Mari mampir dulu,”
“Sudah malam, baiknya saya langsung pulang saja. Salam buat ibu dan adikmu, ya.”
“Baik, pak. Sekali lagi terima kasih.”
Gita membuka kaca mobil dan mendongakkan kepalanya ke luar, “Mas, Anthony! Yang sabar dan kuat ya,” senyumnya terlihat manis meski hanya dalam remang-remang di tengah malam gulita. Tony mengangguk dan mengembangakan senyum balik pada Gita.
Setelah mobil Pak Hisyam pergi, Tony berjalan menuju sisi kanan pagar besi itu dan menekan bel. Sesaat kemudian Bagus membukanya dan langsung merangkul sang kakak. Keduanya terisak tanpa sepatah kata.
“Assalamualaikum, ibuk …” Tony berhambur pada Bu Halimah-ibunya-yang telah menunggu di sofa ruang tengah. Dia tak sanggup lagi menahan air mata yang sejak kemarin ditahannya. Tangisnya pecah bagai seorang bocah yang menangis di pangkuan sang ibunda.
“Wa’alaikumsalam, Anthony,” sang ibu membelai lembut punggung Tony.
Suasana duka masih sangat terasa. Tony kehabisan kata-kata dan hanya bisa tertunduk lesu di sofa. Pundaknya menjadi sandaran sang ibu dan adiknya. “Maafin bapakmu kalau ada salah, ya Le,” kata Bu Halimah dengan suara terisak.
“Bapak nggak pernah punya salah ke Tony, bu. Justru Tony yang selalu buat salah ke bapak. Selama ini bapak cuma pengin Tony jadi anak yang baik dan bertanggung jawab, itu pun Tony masih nggak bisa, Bu,” ucap Tony dengan butiran hangat yang tak berhenti mentes sejak tadi. Dia menoleh pada Benida yang telah terlelap dengan mata sembab di sampingnya. Disandarkannya kepala sang adik pada bantal sofa di dekatnya.
“Kamu ke kamar aja, istirahat. Pasti capek banget.” Bu Halimah mengusap wajah Tony dengan tangannya yang hangat. Tony mengangguk dan beranjak ke kamarnya.
Anthony si sulung, yang kini menjadi pengganti ayahnya, sang nahkoda keluarga. Inilah alasan kuat dan tepat Tony menanggalkan mimpinya jadi chef internasional. Kini dia akan selalu ada untuk keluarga yang selalu dicintainya. Menjadi anak berbakti dan kakak yang mengayomi.


PART 4
Satu bulan sejak kepulangannya ke Jakarta, Tony masih berdiam diri di rumah. Hari-harinya banyak dihabiskan di ruang kerja sang ayah dan dapur. Dia kerap berdiri mematung memandangi foto ayahnya. Foto Mayjen Sudjarwo dengan seragam TNI lengkap, didampingi Bu Halimah dengan kebaya merah di sampingnya. Masih teringat jelas di benak Tony percakapan terakhirnya dengan sang ayah lewat video call satu minggu lalu.
“Tony masih mau di sini, Pak. Sepertinya mereka bakal kasih promosi.”
“Promosi apa? Kamu mau dikasih restoran?” Tony terdiam sejenak mendengar ucapan ayahnya yang kian hari kian serius membujuknya pulang.
“Ya jadi chef tetap lah, Pak”
“Pokoknya, kalau kamu tidak jadi dapat promosi, pulang saja! Buka warung di sini!”
Tony tersenyum mengingat kalimat terakhir ayahnya. Didekatinya foto besar dalam bingkai kayu jati itu, “Ucapan orang tua itu adalah doa, Pak. Sekarang Tony benar-benar pulang. Dan mungkin akan buka warung.”

Hubungan Tony dengan ayahnya memang tidak begitu baik sejak dia kabur dari Akademi Militer, dan memilih untuk menekuni dunia kuliner. Tony tidak benar-benar merasa yakin dengan pilihan sang ayah, yang sangat menginginkannya untuk mengikuti jejaknya menjadi prajurit negara. Tony ingin berpetualang dengan caranya sendiri. Mengikuti passion-nya. Dia lebih rileks di dapur daripada di lapangan tempur. Dia juga lebih piawai meracik bumbu daripada membidik musuh dengan senapan. Tubuh atletisnya lebih lincah untuk bergeser sana sini kala memasak dua atau lebih jenis makanan dalam waktu bersamaan.
Awalnya, sang ayah bersikukuh tidak mau membiayai kuliahnya di jurusan kuliner, karena Tony telah membuatnya malu dengan pengunduran dirinya dari Akmil, yang tentu saja tidak sedikit biayanya. Hingga bujukan Bu Halimah yang amat sayang pada putra mereka itu mampu meluluhkan hati sang mayor. Dengan syarat, Tony tak dapat jatah uang apapun selain biaya kuliah di dua tahun pertama. Alhasih, ia kerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhan lainnya.

Pagi itu Tony tengah sibuk memasak di dapur. Lengkap dengan atribut chef. Sengaja ia mengistirahatkan Mbak Jum, ART mereka, dan mengambil alih dapur untuk sementara.
“Wuih, Chef Anthony lagi beraksi! Masak apa, bang?” sapa Benid yang sudah berseragam lengkap hendak pergi sekolah.
“Abang masak pepes ikan, sayur kerawu, tempe dan kawan-kawan”
“Nah, loh. Kok nggak masak ala-ala western gitu, sih? Waffle, kek? Pasta? Atau steak, Bang?”
“Ya nggak cocok buat sarapan, lah, dek. Waffle cocok sih. But trust me, jauh lebih mantap pepes ikan.”
Benid mendekati abangnya dan mencolek bagian perutnya yang datar. Sontak Tony pun berjingkat kaget, “Benid! It’s my tickle spot!” Benid cekikikan sambil menyambar tempe goreng keemasan yang rasanya menggoyang lidah. Gadis remaja itu tahu betul titik geli si abang yang makin hari menjelma jadi Tony Stark karena sering berbahasa Inggris.


Ding …! Dong…! Bel pintu rumah berdentang. Benida berlari membukakan pintu. Dari dapur Tony dapat mendengar suara dua perempuan. Dia kenal itu suara adiknya, tapi yang satu lagi … “Morning, Chef Anthony!” sapa seorang gadis berjilbab biru yang sudah tak asing baginya, Gita. Tony tiba-tiba saja salah tingkah, spatula yang dipegangnya hampir jatuh. “Morning, Gita! Mau cicipi masakan saya?”
“Hmmm … smells good,” kata Gita sambil menguncupkan bibirnya, “Haha, aku ke sini diutus bapak dan ibu, Mas.” Gita mengeluarkan dua ikat buah rambutan dan satu box kecil yang ternyata berisi terasi. “Ini ada titipan dari bapak dan ibu Gita. Beliau kemarin baru pulang dari Sidoarjo. Katanya ibu mas Anthony suka rambutan dan penggemar berat terasi madura, ya?”
“Oh, sebenarnya aku yang suka rambutan. But it’s true, ibu suka banget sambal terasi” Tony memetik satu buah rambutan dari ranting yang masih terikat. Dikupasnya buah khas Indonesia yang kulitnya berambut jabrik itu.

Suasana sarapan pagi di rumah Tony jadi lebih berwarna dengan hadirnya Gita yang cantik duduk di salah satu kursi berhadapan dengan Tony. Selain cantik, gadis berjilbab dan stylish itu adalah seorang yang sangat sopan dan berpendidikan. Ia baru selesai kuliah di Jerman dengan jurusan Ilmu Gizi. Dengan latar belakang anak dari sahabat karib sang ayah, tentu saja sangat mudah bagi Bu Halimah untuk jatuh hati pada gadis itu.
“Nak Gita, ayo nambah lagi! Nasinya ditambah, pepesnya juga” kata Bu Halimah yang tak lepas dari senyum dan tawa kecil sejak bertemu Gita setengah jam lalu.
“Iya, bu. Ini udah banyak banget”
“Mbak Gita kan ahli gizi, Buk. Jadi tiap makan ya harus dengan porsi dan nilai gizi seimbang. Iya, kan Mbak?” celetuk Benida.
“Pepes kan kaya protein dari ikannya. Tony juga pasti kalau masak perhitungin gizinya supaya gak ilang, iya kan Le?” ucap Bu Halimah sambil menyenggol kaki Tony di bawah meja. Tony seketika tersedak. Entah apa maksud ibunya begitu. Tapi sepertinya ibu ingin ia lebih responsif dengan percakapan mereka. “Oh, jelas lah. Itu adalah aturan dasar healthy cook,” jawabnya singkat.
“Nak Gita sudah punya pacar?” pertanyaan singkat padat jelas namun bermakna ganda itu membuat pipi putih Gita memerah seketika. Tony juga langsung memelototi piringnya yang kini setengah kosong, karena nasi yang baru saja ia sendok telah bercampur pepes ikan dalam mulutnya, bak sumpalan. Ia berhenti mengunyah seketika dan melirik Gita yang masih merona, terlihat makin cantik. “Ehem, belum Bu.” Gita tersenyum memandang Bu Halimah. Namun bola matanya perlahan bergeser ke arah Tony mulutnya masih penuh sumpalan nasi dan pepes. Matanya melebar seperti orang jantungan.

Pepes ikan. Credit: google image

PART 5
Welcome to Kedai Hoky!
“Good morning, Guys! Saya Anthony kepala koki Kedai Hoky, mengucapkan terima kasih dan selamat datang kepada rekan-rekan sekalian. Hari ini adalah hari pertama Kedai Hoky buka, saya harap semuanya telah paham dan cakap terhadap tugas masing-masing sebagaimana kita gladi kemarin” Tony berdiri di depan para pegawai Kedai Hoky. Kedai makan yang baru saja ia resmikan kemarin. Kedai milik Pak Indrawan, senior chef sekaligus pemilik Khatulistiwa Restaurant–tempat Tony bekerja di Brooklyn. Beliau sangat mengagumi pria muda berbakat dan tangkas itu sehingga mempercayakan Kedai Hoky padanya di Jakarta.
Meski begitu, Tony memilih untuk menjadi kepala juru masak dan menyarankan posisi manager kepada Hengky, sahabatnya sejak SMA yang baru saja terkena PHK karena perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar.
“Okay, rekan-rekan! Sudah dengar sambutan dari kepala koki kita. Sekarang marilah kita mulai bekerja … Kedai Hoky ….!” Hengky terhenti sesaat dengan tangan terkepal di dadanya, ia lupa jargon mereka yang telah disepakati kemarin. “Kedai Hoky! Semangat dan senyum setiap saat!” seru Tony yang segera menyahut. Diikuti oleh para pegawai yang kemudian bersorak sorai. Mereka berlalu dengan saling berbisik dan menoleh pada Hengky yang pura-pura merapikan dasinya.
“Gimana, sih Heng? Baru juga hari pertama, lo lupa jargon kita,” kata Tony sambil merapikan rambut yang siap ditutupi topi koki putih.
“Nerpes gue deket lo. Kayak keulang lagi rasanya jadi Hengky kecil sahabat Anthony yang gagah rupawan.”
At least, jabatan lo lebih tinggi dari tinggi badan gue sekarang.”
“Tetep aja, semua cewek selalu lebih girang lihat elo daripada gue.”
“Haha, lo kan udah berbini, Heng. Don’t expect girls to turn on you!
“Ya, at least, gue kan lagi hot-hotnya nih, Ton. Hot daddy muda gitu.” Hengky menyenggol pundak Tony sambil berinjit, berusaha menyamai tingginya.
“Hot-hot pala lo!” Tony berlalu sambil nyengir pada sahabatnya yang sedikit sableng itu.


Seminggu kemudian, Kedai Hoky kedatangan Emak Enyuss-foodvloger, untuk me-review beberapa menu andalan mereka, seperti ayam panggang sambal hot, steak ayam, dan beberapa pasta dengan sentuhan international flavor. Ini adalah strategi promosi yang disarankan Hengky sang manager.
“Sumpah, ya Gais, ini ayam enduuul bener! Bumbunya mantab, passs banget di lidah eike yang seksi inih,” kata Anjas alias Anjani alias Emak Enyuss panggilan online-nya.
Anjas tak henti-hentinya makan dengan lahap. Sesekali ia mendesis karena sensasi pedas sambal hot yang terasa. Tanpa sendok atau garpu, pria kemayu itu mencoel-coel ayam panggang yang sengaja dimasak khusus secara utuh untuknya.
“Gais, harus pada coba yah! Ini kedai bukan sembarang kedai. Chef yang masak ini, nih … aduh gustiiii … ganteng maksimal! Eike sampai naksir … sir … sir…!”
Hengky berdiri di belakang juru kamera dengan mulut menganga dan geleng-geleng kepala. Pria gemulai yang subscriber-nya jutaan itu tak hanya me-review makanan, tapi juga kepala koki mereka dengan suara melengking.
Sekali post video review makanan, ribuan likes dan viewers membanjiri akunnya. Tentu saja, tak lama setelah itu, resto atau warung yang di-review akan ramai pengunjung.
“Jadi, elu-elu pada gak cuma bisa cuci mulut dan kenyangin perut, tapi juga bisa cuci mata, hihihi … kayaknya sih si chef ganteng masih jomblo, Gais. Soalnya dari tadi gemeteran mulu tiap eike lirik ….” Tony tersenyum pada Emak Enyuss yang mengedipkan mata padanya.
“Sst, Ton! Lo beneran gemeteran?” bisik Hengky pada Tony yang bahu kekarnya terguncang karena tawanya.
“Kita harus tetap ramah dan professional, Heng. Elo kan yang nyaranin kita undang si Anjani Emak Enyuss ini. Let’s see how it works, kalau berhasil dan banyak yang suka kedai kita, gue bakal buat menu baru dan undang dia lagi” Tony berlalu sambil menepuk pundak Hengky.
“Anjani? Si Emak Enyuss gemulai ini namanya Anjani?” Hengky bergumam sambil mengernyitkan dahinya.


PART 6
English Light
Benar saja, segera setelah video review Kedai Hoky diunggah di kanal Youtube Emak Enyuss, pengunjung ramai menyerbu kedai di daerah Jakarta Selatan itu. Tony terlihat lincah ke sana ke mari mengolah masakan, sekaligus membimbing para asisten koki di dapur. Sementara Hengky sibuk mengawasi para waiters yang hampir tidak punya waktu untuk duduk barang semenit.
Setelah jam makan siang usai, kedai jadi lebih lengang. Para pegawai merenggangkan otot mereka. Hengky memandangi monitor komputer di kasir sambil senyum-senyum. Omset mereka naik secara drastis dalam sehari, “Moga-moga tiap hari naik terus nih grafik. Baru kali ini gue jadi manager bener,” gumamnya masih dengan senyum selebar daun talas.
“Heng, gue pergi dulu. Picking up my little sister,” kata Tony sambil menanggalkan atribut koki dan telah berganti dengan kaos polos hijau muda disertai jaket parka putih. Tampak serasi dengan jeans-nya.
“Lo gak balik lagi? Terus gimana kalau ntar malam rame lagi?” Hengky khawatir bagai akan ditinggal istri.
Just few minutes. Gue jemput Benid di rumah, terus anterin dia ke English Course, then I’ll be back here.” Tony berlalu tanpa peduli Hengky yang hendak menanyai lagi.
Siang itu Benida ada tes di tempat kursus bahasa Inggris, English Light. Pak Ajis sang supir sedang sakit sehingga tidak bisa mengantar Benida dalam beberapa hari ini. Tony tidak tega jika sang adik harus pergi dan pulang naik taksi atau ojek online. Lagipula, dia ingin menjadi abang yang bisa diandalkan.
Ready for your test?” tanya Tony sembari memasangkan seatbelt pada adiknya yang masih merapikan rambut pendeknya. Rambut hitam legam yang baru saja di-smoothing tiga hari lalu.
I think I’m ready. Oh ya, Bang, nanti juga ada evaluasi tes bulan lalu. Jadi harus ada wali siswa. Abang bisa, kan gantiin ibuk?”
Of course, Benid. Itu kan gunanya abang pulang,” Tony men-starter SUV-nya. Mereka meninggalkan kompleks perumahan menuju English Light.
Ini kali pertama Tony menjadi wali siswa bagi Benida. Meski hanya untuk formalitas evaluasi kursus bahasa Inggris, dirinya merasa berguna. Bu Halimah sedang dalam masa iddah. Beliau memilih untuk rehat dari kegiatan di luar rumah. Sehingga segala yang berurusan dengan luar rumah menjadi tanggung jawab Tony. Termasuk mengurusi dua Swalayan milik keluarganya, yang harus dipantau dua kali seminggu.
Welcome to EL!” sapa seorang resepsionis di loby English Light yang terletak di salah satu ruko daerah Pancoran itu.
Benida menghampiri resepsionis muda yang menyunggingkan senyum ramah padanya, “Hello, Miss. Can I see my tutor adviser?”
Resepsionis itu melirik pada Tony yang berdiri di belakang Benida, lalu menjawabnya, “Oh sure. Wait a minute.”
Tak lama setelah sang resepsionis menutup gagang telepon, seorang perempuan muda berambut hitam lurus terikat rapi dengan kaos hitam bertuliskan EL di saku kanannya berjalan mendekati Benida dan Tony.
Hello, Benida! Mau tes dulu atau evaluasi tes yang kemarin?” tanya perempuan itu.
“Evaluasi dulu saja, Miss. Abang saya nggak bisa lama-lama soalnya.” Benida menoleh pada Tony yang masih sibuk membalas pesan di ponselnya.
“Oh, ini wali kamu?” tanya sang tutor. Benida menyenggol lengan sang abang hingga ia menoleh padanya.
“Oh, iya benar saya kakaknya Benida. Anthony.” Tony mengulurkan tangannya dan disambut tangan putih lembut sang tutor yang berperawakan sedang itu. “Lovely,” jawabnya singkat tak lepas dari senyum ramah andalan bimbel kursusan.
Tony kaget mendengar jawaban tutor bermata sipit itu, “Harusnya kan balik sebutin namanya. Kok malah muji nama gue? Lovely?” batinnya.
“Mari langsung ke ruang evaluasi!” ajak sang tutor yang membimbing langkah mereka menuju ruangan di lantai dua.


Mereka masuk ke ruangan berukuran 4×4 meter yang minimalis namun rapi dan bersih. Ada sofa di pojok kanan di mana sang tutor mempersilahkan Tony dan Benida duduk. Ia lalu sibuk mengeluarkan beberapa lembar kertas dari map yang dipegangnya sejak tadi. “Baik, mari kita mulai evaluasi untuk tes bulan lalu,” katanya dengan tenang sambil menyodorkan lembaran pertama pada Tony, yang tampak serius memperhatikan.
So, Benida Mutiara Putri. Progresnya sudah bagus, selalu mendapat nilai A. Vocabulary-nya juga banyak. Kesalahan grammar hanya sedikit. Mungkin yang perlu diasah lagi adalah skill writing.” Perempuan berkulit kuning langsat itu menjelaskan dengan lugas. Tony manggut-manggut bangga pada sang adik yang selalu dianggapnya masih ingusan itu.
“Jadi, kemampuan bahasa Inggris Benida sudah baik. tapi akan lebih baik kalau skill writing-nya juga ditingkatkan. Ini akan sangat berguna bagi Benid yang ingin jadi dokter.”
“Tentang itu, saya masih mau berpikir ulang, Miss.” Benida mengaitkan jemari kedua tangannya.
Why? I thought it was your dream?
“Umm, masih bimbang. I want to rethink about it,” kata Benida sambil melipat bibirnya ke dalam. Dia ingat betul sang ayah mendukung penuh mimpinya untuk jadi dokter. Tiba-tiba ia teringat ayahnya kerap berujar, “Kalau bapak sakit sewaktu-waktu, kan enak. Nggak perlu ke rumah sakit. Cukup kamu periksa saja langsung sembuh. Lha wong dokternya anak sendiri, cantik pula.”
“Pak Anthony, jadi evaluasi untuk tes bulan lalu kurang lebih seperti itu. Ada yang mau ditanyakan? Barangkali Benida ada keluhan tentang pembelajaran di English Light?” Suara sang tutor membuyarkan lamunan Benida.
Tony menegakkan duduknya dan mulai membuka suara, “Saya rasa adik saya tidak ada masalah dengan pembelajaran di sini. Banyak kemajuan, apalagi semenjak saya pulang, kami sering bicara bahasa Inggris. Jadi itu bisa membantu fluency speaking-nya.”
Oh, that’s good then. Kalau tidak salah bapak ini jadi chef di US, ya? Benida pernah bercerita tentang Anda saat ada tugas family description.
“Iya, benar. Saya baru satu bulan di rumah. Jangan panggil saya bapak, cukup Tony saja.”
“Saya agak canggung sebenarnya bicara dengan chef internasional, haha, maaf.”
“Santai saja, Miss … maaf tadi Anda belum menyebutkan nama, ya?”
“Saya sebut nama, kok. Ayo tebak siapa?” tutor itu sudah tidak heran dengan beberapa orang yang lupa dengan namanya, karena memang terdengar aneh.
Sementara Tony masih bertanya-tanya, apakah ia yang lupa atau memang tutor muda ini yang belum menyebutkan nama. “Namanya Miss Love, bang. Kan tadi udah bilang,” Benida menyenggol Tony yang kini makin penasaran.
“Lovely?” Tony menebak dengan sedikit ragu.
Yep. Perkenalkan, saya Lovely Putrikita. Tutor bahasa Inggris English Light. Just call me Love,” katanya sambil merapikan kertas-kertas evaluasi dan memasukkannya ke dalam map lagi.
Wow, such a rare and pretty name! Baru kali ini saya dengar nama unik seperti itu,” kata Tony yang bersiap untuk berdiri, mengikuti gerak tubuh Love yang menandakan pertemuan evaluasi ini segera berakhir.
“Sudah tidak heran, Pak. Banyak yang salfok dengan nama saya yang aneh itu.”
No, menurut saya itu nama yang unik. And it could be the only one in the world.
“Itu pujian atau ledekan, ya Pak?”
“Pujian tentunya. Nama itu sepertinya cocok dengan Anda. And come on, just Tony.”
“Okay, Tony,” sahut Love. Mereka bersalaman dan meninggalkan ruangan itu. Benida yang berjalan di antara Tony dan Love melirik keduanya yang kini malah bercakap-cakap santai bak teman lama.
“Terima kasih, Miss Love. Saya titip Benida,” kata Tony, kemudian menoleh pada Benida, “I’ll pick you up later, okay?” lanjutnya.
Benida hanya menangguk. Tony pergi setelah melambaikan tangan padanya dan Love, berjalan ke luar menuju mobilnya.

PART 7
Saat tiba di Kedai Hoky, Tony dikejutkan oleh kedatangan Gita yang duduk di salah satu meja customer. Ia sedang menyeruput Americano coffee dan fokus pada monitor laptopnya.
“Hi, Git! Udah lama?” sapa Tony menarik kursi kosong pada meja yang sama. Gita mengalihkan pandangan ke Tony, kacamata kotak ber-frame coklat tua membuatnya terlihat seperti kutu buku.
“Baru aja, kok Mas. I’m sorry, aku nggak bisa datang saat acara peresmian minggu lalu.”
Oh, that’s okay. Kamu pasti sedang sibuk di perusahaan barumu.”
“Lumayan, sih. Kukira bakal banyak habisin waktu di lab, ternyata bulan pertama ini mereka nempatin aku di bagian administrasi,” ucap Gita sembari melepas kacamata dan memijat pelan bagian tengah keningnya.
Tony memandangi Gita yang kepalanya dibalut jilbab rapat. Membuatnya seperti sesuatu yang eksklusif dan terlindungi. Ia lalu teringat kilas bayangan yang pernah dilihatnya saat pertama kali mereka bertemu. Di mana gadis cantik bermata belo itu sedang duduk di sebuah kafe bersama seorang lelaki. Suasana kafe yang ia lihat saat itu memang tidak asing. Mungkinkah kilas bayangan itu momen ini? Pikiran Tony dipenuhi teka-teki.
“Mas, boleh pesan makanan, nggak?” tanya Gita membuyarkan renungan Tony.
“Oh, sure. Mau pesan apa?”
“Aku dari tadi ngelirik pasta,” ujar Gita sambil membolak-balikkan buku menu, “emm, this one. Carbonara tapi pastanya pakai fettucini aja.” Dia menunjuk pada gambar menu pasta carbonara dengan taburan wijen dan parsley.
“Masa cuma itu? Dessert?” Tony mengusulkan cheese cake. Gita membalas dengan anggukan.
Okay, wait patiently.” Tony beranjak menuju dapur. Sementara Gita mematikan laptop dan beralih pada layar ponselnya bergambar apel tergigit.
Hengky yang memperhatikan mereka sejak tadi tersenyum tipis. Dia lalu menghampiri Tony yang sibuk membuat pesanan Gita di dapur.
“Cewek baru lo? Cantik dan rapat tutupnya,” bisiknya. Tony langsung menyentil daun telinga sang manager.
Don’t you see? I’m cooking,” balas Tony singkat.
“Aduh,” keluh Hengky yang meringis sambil mengelus-elus daun telingannya, “berani lo ya nyentil kuping manager sendiri. Gue kan cuma nanya.”
“Gue lagi sibuk, Heng. Jangan tanya aneh-aneh.”
“Udah dapat petunjuk? Dari Gift elo, tuh.”
Tony melirik Hengky yang menyipitkan mata padanya, dan bersiap untuk menyentil lagi. Tapi dia berhasil mundur dengan sigap, “Eits, gak kena.”
Still unclear. Excusme, Manager Heng,” kata Tony yang telah siap mengantar pesanan Gita di kedua tangannya.
Hengky masih mengamati tingkah sahabatnya. Dia penasaran apakah Tony masih memiliki kemampuan aneh yang kerap menimbulkan masalah di masa lalu itu. Tony adalah cowok terfavorit di SMA. Semua cewek mendambakan ketua tim basket berambut hitam lurus itu. Selain populer karena tampilan fisik yang paripurna, Tony juga kerap gonta-ganti gebetan. Hampir tak ada cewek yang bertahan lebih dari satu minggu dalam tali kasih sang arjuna muda itu. Parahnya, tiap putus dengan mereka, Hengky selalu jadi sasaran terror. Entah itu gambar doodle Tony dan dirinya di pajang di mading sekolah, atau SMS ancaman mengempesi ban sepeda motor mereka. Hingga tas yang dipenuhi sampah. Hengky merasa seperti jadi manager artis idola yang digiliai wanita. Anehnya, Tony tak pernah sekali pun marah pada mereka. Hingga suatu hari, Tony menceritakan tentang kemampuannya dapat melihat kilas bayangan di masa depan. Gift yang telah berkali-kali menyelamatkannya dari hubungan yang berakhir pahit. Juga membuatnya kesulitan mencari tambatan hati sejati.

Fettuccini carbonara. Credit: google image

PART 8
EL Spelling Bee Competition.
Matahari di langit Jakarta terasa memanggang. Mobil dan motor memadati jalan-jalan protokol. Mengepulkan gas CO yang membuat udara pengap, sangat terasa terutama saat di lampu merah. Beberapa pengemudi motor tampak mengipasi wajah dengan tangan. Seorang perempuan berjaket biru muda dengan helm merah tampak memicingkan mata. Beberapa kali dia melirik lampu lalu litas yang tak kunjung berubah hijau. Mesin motor matic-nya mati dalam mode idling stop.
“Duhh, bisa telat beneran nih. Lama banget sih lampu merahnya,” keluh Love sembari mengecek jam yang tergelang di tangan.
Love sebenarnya orang yang disiplin dan tepat waktu. Tapi pagi ini dia terganggu oleh pesan beruntun di ponselnya. Pesan-pesan itu bertuliskan, “Halo. Apa kabar Cinta? I’m coming.” Dan dikirim hingga belasan kali. Love sangat khawatir dan mem-black list nomer peneror. Tapi semenit kemudian, ada nomer asing lain menelponnya berkali-kali. Dan selalu diputuskan saat ia menjawab. Love semakin tak tenang. Seseorang telah meneror perempuan 25 tahun itu.


Welcome to EL Spelling Bee Competition! Silahkan duduk di kursi sesuai nomer peserta bagi yang baru datang.” Suara MC acara lomba Spelling Bee menggema ke seluruh ruangan convention hall. Benida yang baru datang mencari kursi dengan nomer 23. Dia berjalan di antara deretan kursi peserta. Ada sekitar lima puluh peserta Spelling Bee tingkat SMP di pekan kompetisi EL yang bertempat di Plaza Mall Indah itu. Para peserta ini berasal dari seluruh cabang EL di Jakarta Selatan.
You got your seat?” tanya Tony yang dari tadi membuntuti sang adik.
Yup. Abang tunggu di kursi pendamping aja.”
Okay, good luck! Traktir bakso beranak ya, sesuai janji.”
“Iya, kalau menang.”
You’ll win, Benid! Adik abang pasti menang.”
Benida mengacungkan jempol pada Tony dan menyuruhnya pergi. Ia kembali fokus latihan mengeja kata dalam bahasa Inggris. Sementara saat hendak berjalan ke kursi pengunjung, Tony tak sengaja menabrak Love yang tampak buru-buru.
“Oh, maaf. Saya nggak sengaja.” Tony langsung membungkuk dan membantu Love merapikan kertas-kertas yang terjatuh.
“No, saya yang kurang hati-hati. Buru-buru soalnya. Permisi ya Mas Anthony. Terima kasih,” kata Love yang segera berdiri dan meninggalkan Tony.
Tanpa sadar, ponsel Love terjatuh. Tony memungut benda pipih dengang case silicon biru bergambar hati itu. Dia menoleh ke kerumunan staff EL di bawah panggung. Namun saat hendak mengembalikan, ia justru melihat si pemilik ponsel telah berdiri di atas panggung dan memegang mikrofon.
Tony memutuskan untuk menunggu Love turun dari panggung. Tapi sepertinya itu akan lama. Karena perempuan yang fasih berbahasa Inggris itu rupanya menjadi salah satu juri. Tony memasukkan ponsel itu ke saku cealnanya lalu duduk di kursi pendamping bersama para wali siswa. Kebanyakan dari mereka ibu muda. Tak sedikit yang curi-curi pandang pada Tony yang sibuk membalas pesan beruntun dari Hengky. Sang manager itu memang selalu gelisah tiap kali ditinggalnya ke luar kedai. Ia masih belum percaya diri tanpa dampingan sang koki andalan.
Next, contestant number twenty three. Please come forward!” seru MC. Tony mendongakkan kepalanya untuk melihat sang adik tampil. Dia tersenyum bangga. Tiba-tiba ada getaran dari saku celananya. Ponsel Love berdering. Tony tak menghiraukannya. Tapi benda itu berdering lagi. Hingga akhirnya Tony mengangkat panggilan itu, “Halo!” ucapnya sambil terus memperhatikan Benida yang lancar mengeja kosa kata dari juri.
“Ini siapa?” samar-samar Tony mendengar suara lelaki dari ponsel itu. Namun riuh tepuk tangan audien mengaburkannya. Tony pun bersorak, “Wow, Lovely!” Para ibu muda spontan melihat aksinya. Mereka mentup mulut menahan tawa. Tony tersenyum kikuk. Ia baru sadar masih tersambung dengan panggilan di ponsel Love, “Halo!” Tak ada jawaban. Ponsel itu berdering lagi tapi bukan panggilan. Beberapa pesan muncul. Love tidak memasang kunci kode pada ponselnya sehingga Tony bisa melihat pesan-pesan aneh itu. “Siapa lo? Pacar barunya Love? Awas lo! F**k YOU!” Tony mengerutkan dahi melihat pesan bernada kasar di layar ponsel sang tutor.


Setelah seluruh peserta tampil, para juri sibuk mengakumulasi nilai. Hanya sepuluh peserta yang akan maju ke babak final. Tony ingin menemui Love dan mengembalikan ponsel itu. Tapi dia juga kepikiran dengan pesan kasar yang baru dilihatnya. Waktu istirahat tiba, Tony berdiri dan mencari Love. Terlihat tutor muda itu berjalan cepat ke luar convention hall dengan gurat wajah serius. Dia bahkan tak dengar Tony memanggilnya. Tony terpaksa mengikutinya.
Tony menghentikan langkah saat melihat Love ternyata menemui seorang lelaki. “Halo, Lovely Sayang.” kata seorang lelaki gondrong dengan kumis dan berewok tipis. Dia merentangkan kedua tangannya seperti akan memeluk Love. Tapi tutor itu menolak dan langsung menarik lengan lelaki itu. Mereka berjalan cepat ke pintu keluar menuju parkiran mobil di lantai dua mall.
Tony menyembunyikan diri di balik pilar di antara mobil-mobil yang terparkir rapi. Dari balik pilar besar itu ia melihat pemandangan yang amat dibencinya sampai mati. Lelaki itu menampar dan menjambak Love.
“Beraninya kamu punya pacar baru!” kata lelaki itu dengan mata melotot.
“Auh, sakit Mahendra!” rintih Love yang kesakitan. Ikatan rambut lurusnya ditarik keras oleh lelaki kasar itu. Tony tak pikir panjang dan menghampiri mereka.
Mahendra melayangkan tangan kanannya yang siap memukul Love lagi. “Hey, hentikan!” teriak Tony yang telah berdiri di samping mereka dan menahan tangan Mahendra. Dia menoleh pada Tony dan menjadi lebih kalap. Tangan kirinya mendorong Love hingga tersugkur ke lantai.
“Siapa lo? Jangan ikut campur urusan gue,” murka lelaki yang tingginya setara dengan dagu Tony itu. Tony teringat suara lelaki di telepon tadi. Dia menduga lelaki kasar ini adalah orangnya.
“Gue yang angkat telepon tadi,” balas Tony yang menatap tajam.
“Jadi lo pacar barunya? Love belum putus sama gue. Dia masih milik gue, Mahendra Anggara!” bentaknya, lalu menepis tangan Tony yang dari tadi masih menahan lengan kanannya.
“Oh ya? Kalau gitu sekarang juga kalian putus,” jawab Tony singkat. Masih dengan tatapan tajam dan tubuh bergeming.
“Lo pikir lo siapa? Itu permintaan konyol dan gak akan gue ….”
“Ini perintah, bukan permintaan!” sela Tony dengan nada tegas bak seorang jendral yang memerintah pasukan. Mata Mahendra memerah. Dia tak sabar lagi dan melayangkan tinjuan pada Tony. Tapi dengan sigap koki atletis itu menepisnya. Mahendra mencoba menendang Tony tapi dia juga berhasil menahannya. Tony segera memelintir tangan lelaki berkulit sawo matang itu dan mendorongnya ke pilar besar. Tubuhnya terimpit tubuh kekar Tony. Rambut gondrongnya semerawut menutupi wajah. Dia meringis kesakitan saat Tony menekan plitiran tangannya.
“Jangan sekali-kali berbuat kasar sama perempuan!” gertak Tony tegas.
“Arrgh, sialan lo! Elo nggak tahu apa-apa.”
“Gue nggak perlu tahu kenapa, yang jelas, apapun alasan elo berbuat kasar sama cewek itu salah besar!”
“Elo nggak berhak milikin Love! Dia milik gue!”
“Laki-laki kasar seperti lo adalah sampah! Nggak pantas untuk perempuan mana pun di dunia ini. Now, leaver her! Jangan ganggu cewek gue lagi!” tegas Tony yang menekan tubuh Mahendra lebih kuat, “Di sini ada CCTV, kalau lo mau bikin kekerasan lagi, dengan senang hati gue ladenin.” Tony menekan tubuh Mahendra lebih keras ke pilar, lalu melepaskannya.
Mahendra segera pergi dengan tatapan mencancam pada Tony. Sementara Love masih terduduk di lantai parkiran. Dia terisak sambil memegangi pipinya yang merah akibat pukulan mantan pacar kurang ajar itu. Tony menghampiri tutor malang itu dan bersimpuh di sampingnya.
Dia merendahkan pandangan ke wajah Love yang bercucuran air mata, “Are you okay, Love?” tanya Tony mengangsurkan sapu tangan putih padanya.
“Terima kasih, Mas. Nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada Mas Anthony.”
“Saya antar ke rumah sakit, ya?”
No, saya nggak apa-apa. And please, don’t tell anyone about this,” pinta Love yang kini memandang mata teduh koki penolongnya. Tony melihat ada ketakutan di wajah perempuan bernama unik itu. Namun, tiba-tiba dia melihat sesuatu dari mata sipit Love yang cantik. Kilas bayangan. Gift itu muncul.

PART 9
Tony mengeluarkan ponsel dari saku celana. Diberikannya benda pipih itu pada Love. “You dropped it, saat kita tabrakan di hall. Dan maaf, saya tadi angkat telpon dan lihat pesan dari…”
“Mahendra, my ex boyfriend.
“Dia nggak seharusnya berbuat seperti itu sama kamu. Saya benar-benar tidak tahan lihat perempuan diperlakukan kasar.” Tony membantu Love yang sempoyongan untuk berdiri. Mereka berjalan ke pinggir parkiran dan duduk di palang besi pembatas.
Do you wanna talk about it? Maaf bukannya saya lancang. Tapi, sejujurnya saya khawatir sama kamu. Sepertinya laki-laki itu tidak akan pergi begitu saja.”
“Dia memang selalu mengikuti saya. Kami putus tiga bulan lalu. But somehow he is obsessed with me. Dan nggak terima saya putusin.” Tony memperhatikan guratan sedih di wajah perempuan malang itu. Dia menyesal tidak memberi tinjuan pada lelaki tak tahu diri tadi.
“Tapi seminggu terakhir ini dia kerap meneror saya. It drives me crazy.” Love memijat kepalanya yang masih terasa pening karena jambakan sang mantan yang kasar.
“Mas Anthony, saya sebenarnya jadi khawatir juga dengan Anda. You said I was your girlfriend.
Oh, about that… I’m really sorry, saya terpaksa bilang begitu. Untuk menlindungi kamu. Nggak ada maksud kurang ajar atau apapun,” kata Tony yang sedikit canggung.
“Tapi itu artinya Mahendra kemungkinan akan mengincar Anda juga. Maafkan saya, Anda jadi terlibat masalah bodoh ini.”
“No, saya bersyukur bisa bantu.”
Tony meminta ponsel Love dan mengetikkan nomer, “Call me if you need help,” katanya setelah menyimpan nomernya pada ponsel tutor itu.
Thank you so much.
No problem. Anggap saja kita teman.”
Keduanya tersenyum. Mereka lalu masuk ke convention hall sambil berbincang ringan. Membuat Love merasa lebih baik dan kembali ke kursi juri.

Benida mengiris pentol bakso yang berisi telur puyuh dan cabai. Sendok dan garpu yang dipegangnya bekerja sama membelah pentol sebesar bola kasti itu. Bakso mercon beranak dekat persimpangan barat EL adalah favoritnya. Sementara sang abang masih terpaku menatap mangkuknya. Bakso itu belum tersentuh.
Tony terpikirkan kilas bayangan yang ia lihat di mata Love. Dia melihat dirinya menarik tangan perempuan itu. Menyelamatkannya dari bara api. Hampir saja tubuh Love tersentuh api yang menyulut ganas. Entah apa maksunya, Tony merasa tutor itu butuh pelindung.
“Bang, dimakan dong. Katanya minta tarktir bakso kalau Benid menang,” ucap Benida lalu meniup pelan irisan pentol yang menancap di garpunya.
“Iyaaa, Benid Queen Bee,” balas Tony yang segera membelah pentol baksonya. Koki muda itu lalu manggut-manggut menikmati bakso mercon beranak super pedas.
“Kok Queen Bee?” protes Benid, mulutnya mengunyah sambil mendesis pelan.
“Kan kamu menang lomba Spelling Bee. So, the winner is called Queen Bee,” jawab Tony yang masih santai menyeruput kuah bakso yang sedap.
“Ngarang,” balas Benida. “By the way, Bang. Tadi Benid lihat abang jalan dari luar sama Miss Love. Where had you been?” selidik Benida penasaran.
Oh, long story. Intinya, abang nolongin dia.”
Benida mengerutkan dahinya. Merasa ada yang aneh pada sang kakak yang seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi dia memilih diam dan melahap baksonya kembali.

Bakso beranak. Credit: google image

PART 10
Hengky tampak gelisah. Dia mondar-mandir sambil menggigit kuku jarinya. Semalam Pak Indrawan pemilik kedai menelponnya. Dia menegur—lebih terdengar seperti nasihat—karena Hengky salah audit pendapatan bulan ini. Manager muda itu makin krisis kepercayaan diri. Dia curhat habis-habisan pada Tony, khawatir Pak Indrawan akan memecatnya jika kesalahan itu terulang lagi.
“Demit lo!” maki Hengky pada Tony yang dari tadi belum merespon ocehannya.
Damn it, Heng. Bukan demit,” balas Tony sambil menghirup hot mocha.
“Whateper lah. Dari tadi gue curhat lo gak kasih solusi sama sekali.” Hengky mengerucutkan mulutnya persis seperti istri yang merajuk.
“Tanpa gue kasih saran, jawabannya udah jelas. Elo harus lebih teliti dan hati-hati.”
“Tiap kali ditegur atasan, yang ada di kepala gue selalu Raisa sama Nabila. Gue takut dipecat, terus mau makan apa anak bini gue?” Hengky meremas kepala, lalu menenggelamkannya di lengan yang terlipat di atas meja.
Don’t be too hard on yourself. Sejauh ini, progres kerja lo bagus. Kesalahan itu wajar. Nobody is perfect,” jawab Tony santai, masih menikmati hot mocha. “Yang penting belajar dari kesalaha, dan jangan ulangi lagi,” imbuhnya.
Tony menoleh pada pintu kedai yang terbuka. Benida berjalan masuk dengan santai. Tony hampir tersedak melihat seorang perempuan yang mengekor di belakang adiknya. Perempuan berperawakan sedang dengan rambut hitam lurus terikat rapi. Mata sipitnya hampir tertutup rapat saat senyum ramahnya merekah.
“Hai, Bang! Hai juga Bang Heng!” sapa Benid ringan, “Benid dianter Ms. Love, Bang. Sekalian mau ngomong sesuatu katanya,” lanjutnya.
Tony segera bangkit dari kursi dan mempersilahkan Love duduk di. Tak lupa ia juga memperkenalkan Hengky sang maganer padanya.
“Jadi, kedatangan saya ke sini untuk mengembalikan ini,” ucap Love sembari mengangsurkan sapu tangan putih milik Tony, “Terima kasih, Mas.”
“You say thanks too much. Santai saja,” balas Tony ringan. “Belum makan malam, kan? Let’s have diner together!”
“Oh, sebenarnya ada yang ingin saya diskusikan …”
“Nggak baik nolak rejeki.” Hengky menginterupsi. Bibirnya tersenyum tipis bagai kertas lipat. Matanya bermain. Manager muda beristri itu sedang beraksi. Love tidak menolak tawaran makan malam dari sang koki dan manger. Sementara Benida yang dari tadi menejelajahi buku menu telah menemukan pilihannya. “Benid mau steak ayam sama … lemonade.”
“Miss Love…?” Tony bertanya layaknya seorang waiter.
Chicken salad. Dressing-nya dikit aja ya,” jawabnya mantap dan menutup buku menu.
No drink?
“Oh, ginger tea, please.
Tony meninggalkan mereka menuju dapur. Dia samar-samar mendengar si sahabat memulai jurus gombalannya, “So, namanya Love? Berarti Cinta … sesuatu yang indah dan membuat siapapun terlena.”
Tony mendengkus. Dia tak habis pikir sahabatnya yang telah beristri masih bisa melontarkan rayuan pada tutor muda itu. “Dasar Hengky sableng,” batinnya.
**

Setelah seluruh pesanan siap, mereka mulai makan. Tony duduk di samping sang manager, berhadapan langsung dengan Love yang duduk di samping Benida yang makan sembari berselancar di Instagram-nya. Sementara Hengky sejak tadi menggoda Love dengan candaan—gombalan—yang membuat perempuan itu sesekali tertawa. Tony memotong salah satu kisah konyol Hengky tentang ikan paus yang jatuh cinta pada lumba-lumba, “So, you said you wanted to discuss about something… bisa kita mulai bicara sekarang?”
Love beralih menatap Tony dengan mulut mengunyah chicken salad. Dia berdehem dan mulai bicara, “Oh, sure. Jadi, EL sedang mencari tempat untuk cooking class activity. Berkaitan dengan materi procedure text untuk trailblazer alias tingkat SMP.” Tony mencondongkan tubuhnya ke meja. Mulai tertarik dengan kegiatan yang berbau promosi.
“Sebenarnya saya ingin menitipkan sapu tangan Mas Anthony pada Benida, lalu dia mengusulkan Kedai Hoky untuk hosting kegiatan kami. But, honestly I think it is a good opportunity untuk promosi juga,” lanjut Love.
Interesting … saya tertarik. Bagaimana Manager Heng?” tanya Tony pada sang menager yang telah mengacungkan dua jempol padanya.
“Kita juga butuh bantuan chef untuk mendampingi, is that okay?”
Of course, saya bisa damping,” jawab Tony mantap.
“Manager juga bisa dampingi, kan?” Hengky berharap pada tutor muda itu. Benida tertawa melihat ekspresi sahabat abangnya yang melongo, “Manager ngitungin duwit aja, Bang Heng. Hahaha.” Disusul dengan tawa Tony dan Love.
Tawa mereka terhenti saat seorang perempuan muda berjilbab memasuki kedai yang hampir sepi. Gita mampir untuk makan malam. Semua mata tertuju pada perempuan cantik bermata belo itu.
“Hai, Mbak Gita!” sapa Benida. Gita tersenyum ramah. Hengky spontan menyeret kursi dari meja lain dan mempersilahkan duduk. Meja persegi itu normalnya untuk empat orang. Tapi karena ini kategori gawat darurat menurut Hengky, meja itu difungsikan untuk melebihi kapasitas. Semua tersenyum pada Gita yang ambil posisi duduk di antara Benida dan Hengky. “Baru pulang, Git?” tanya Tony.
“Iya, Mas,” jawab Gita santai.
“Oh ya, ini Love. Tutor bahasa Inggrisnya Benid. Love ini Gita, temanku.” Tony memperkenalkan dua perempuan cantik itu. Keduanya saling melambaikan tangan dan tersenyum simpul ala cewek-cewek muda menyapa satu sama lain.
“Mau pesan apa, Gita? Pasti belum makan, ya?” tanya Hengky ramah.
“Menu barunya Mas Tony,” jawab Gita melihat Tony yang langsung menghentikan suapan nasinya.
“Menu baru?” Tony kebingungan karena memang dirinya belum mewujudkan ide menu baru, yang pernah disinggungnya dengan Hengky.
“Iya, Bu Halimah telpon aku, katanya Mas Tony buat menu baru dan undang aku ke sini buat cicipi,” ucap Gita yang kini juga merasa kikuk.
Tony melirik Benida yang menahan tawa. Ia pura-pura sibuk dengan ponselnya. Jelas sekali, sang ibu sedang mencoba mendekatkannya dengan putri teman akrab mendiang sang ayah tersebut. Hengky menyenggol kaki Tony di bawah meja. Situasi ini sangat aneh dan harus segera diperbaiki.
“Oh, sebenarnya, aku kehabisan bahan, Git. What about something else? Steak ayam mungkin?” Tony berusaha menutupi awkward moment itu. Gita pun sepertinya paham. Dia langsung mengiyakan dengan alasan sudah sangat lapar.
**

“Baiklah, Mas Anthony, Mas Hengky. Saya rasa diskusi kita sudah cukup jelas, ya. So, saya pamit dulu,” ucap Love yang bersiap untuk pergi.
“Terima kasih, Love. Semoga kegiatannya lancar. Dan kirim detailnya by WhatsApp saja,” balas Tony, Love mengangguk.
“Everyone, saya pamit dulu. Have a good meal, Gita.”
Gita membalas dengan senyum dan anggukan. Tony mengantar Love keluar kedai. Mereka terlihat bercakap-cakap akrab. Gita tak bisa melepaskan pandangan dari mereka. Hengky mengamati gadis berjilbab merah maroon itu. Ia seperti melihat ekspresi tatapan Raisa—istrinya—yang sedang cemburu.
**

PART 11
Pagi itu adalah hari pertama Bu Halimah selesai masa iddah. Beliau ingin berziarah ke makam sang suami. Ditemani Tony dan Benida, Bu Halimah tak kuasa menahan tangis tatkala menaburkan bunga segar di atas makam Mayor Sudjarwo. Perempuan 50 tahun itu sangat merindukan sosok suami yang telah membersamai selama 29 tahun. Tony memapah sang ibu menuju mobil, sedangkan Benida memegangi payung.
“Gimana diner kamu sama Gita semalam?” tanya Bu Halimah pada Tony yang fokus menyetir.
“Alasan ibu kurang tepat, Tony kan belum buat menu baru,” jawab Tony ringan.
“Ya, habisnya kamu ini kurang gerak cepat … menurut kamu Gita itu gimana, Le?” Tony tahu ke mana arah pembicaraan itu. Dia melirik Benida dari kaca tengah mobil. Sang adik mengangkat alis.
“Baik, cantik, pintar,” respon Tony masih tanpa ekspresi.
“Masa cuma itu? Kamu ini udah hampir kepala tiga. Yang serius dong kalau cari jodoh,” pinta sang ibu.
“Jangan khawatir bu, kepala Tony selamanya akan tetap satu, kok.”
Bu Halimah memukul pelan pundak sang putra dengan tawa lirih. “Eh, kamu ini dibilangi malah ngelawak.”
“Ya ibu penginnya Tony gimana? Jujur kan, bu?”
“Iya. Ya udah ibu dulu yang jujur. Sebenarnya sejak bertemu Gita pertama kali, ibu langsung sreg. Kayak lihat calon mantu. Ibu suka Gita itu sopan, soliha. Bahkan kamu lihat sendiri, ibu sekarang tergerak mulai pakai jilbab,” suara Bu Halimah terdengar terisak pada kalimat terakhirnya, “Ibu nyesel banget, kenapa nggak dari dulu, saat bapakmu masih ada. Kan bisa lihat ibu pakai jilbab. Beliau pasti senang,” lanjutnya sambil menitikan bulir dari mata. Benida mengelus pundak sang ibu dari belakang. Disambut dengan genggaman tangan hangat Bu Halimah.
“Bapak sekarang pasti lihat dari surga, Buk,” ucap Benida menghibur sang ibu.
Dalam pikiran Tony, kebahagiaan Ibu adalah segalanya. Ia mencerna perkataan ibunya sebagai permintaan untuk melamar Gita. Meski masih kenal beberapa bulan dan belum dekat sama sekali, Tony bisa merasakan, tidak sulit bagi lelaki mana pun untuk menyukai gadis seperti Gita. Dia adalah gambaran sempurna calon menantu dan calon istri. Namun, meski sesempurna itu gambaran sosok Gita, ia malah belum yakin apakah dirinya mampu membahagiakan gadis berjilbab itu.

PART 12
EL Cooking Class at Kedai Hoky
Sabtu pagi yang basah. Hujan deras mengguyur Jakarta. Tony tampak malas membuka mata yang memicing karena cahaya layar ponselnya. Matanya membelalak seketika melihat pesan WhatsApp dari Love, “Mas Anthony sudah siap, ya. Kita ketemu di kedai jam 11. Kelas mulai pukul 13.00 (thumb emoji).”
Okay, Love.” Bibir Tony membentuk lengkungan melihat balasannya pada tutor muda itu. Dia teringat dulu pernah membalas pesan Sarah dengan kata-kata yang sama, “Okay, Love.” Meski tulisannya sama, tapi secara harfiah bermakna beda. Love ini nama orang, sedangkan Love yang ditujukannya pada Sarah adalah panggilan sayang.
Tony jadi memikirkan betapa uniknya nama tutor itu sekali lagi. Lovely Putrikita. Pastilah orang tuanya saling mencintai. Atau sangat menyayangi putri mereka. Sambil berpikir tanpa sadar ia menekan tombol status WhatsApp akun Love. Terlihat foto perempuan itu memakai topi hitam dengan rambut terikat ke belakang—seperti biasa—dan jaket tipis merah, senada dengan celana trainingnya. Caption-nya berbunyi, “Gagal jogging this early morning :(.” Pada slide berikutnya, ia memasang foto secangkir kopi dan mie instan dilengkapi telur ceplok. “The rain tells to make this :p.” Perut Tony kerocongan melihat foto itu. Sebelum bangkit dari kasurnya, dia menekan sekali lagi foto pertama Love. Perempuan itu memutar bola mata ke atas. Mulutnya membentuk garis datar. (
**
Siswa EL terlihat antusias mengikuti cooking class. Mereka di bagi jadi beberapa grup. Tiga orang per grup harus membuat cake, pasta, dan jus buah. Benida bersama dua temannya membuat chocolate cake dan pasta salad. Tony menerangkan tentang alat-alat dapur dan bahan-bahan yang ada.
So, class … have fun cooking!” Tony mengamati para siswa memasak. Love dan dua tutor EL lainnya mendokumentasikan kegiatan itu. Benida tampak sibuk membuat adonan kue. Sementara salah satu temannya menuliskan bahan dan alat, serta cara membuat masakan mereka dalam bahasa Inggris. Teks ini kemudian akan dipresentasikan per tim.
Beberapa wali siswa yang menunggu putra-putri mereka sambil menikmati menu makanan. Mereka tampak nyaman berada di Kedai Hoky. Tony menghampiri Love yang berdiri di dekat bunga hias besar.
“Gimana acara ini so far?” tanya Tony membuka percakapan.
Love menoleh dan tersenyum, “It goes very well. Seperti dugaan saya, semuanya enjoy dengan atmosfer Kedai Hoky.”
Tony tersenyum puas mendengar jawaban Love. Mereka berbincang ringan. Tony selalu merasa nyaman bicara dengan tutor itu. Dia menceritakan pengalamannya selama jadi koki di Amerika. Bagaimana ia selalu bermimpi ingin punya restoran sendiri. “Setidaknya Kedai Hoky bisa jadi training saya untuk mengelola restoran sendiri. Pak Indrawan sangat baik mempercayakan kedai ini pada saya,” ujar Tony.
“Saya malah mengira kedai ini memang milik Mas Anthony. Pantes banget soalnya,” kata Love yang mendongak memandang Tony dengan topi kokinya. Mereka lalu keliling dan mewawancarai para siswa dengan bahasa Inggris. Ini berguna untuk melatih speaking skill dan pengetahuan mereka seputar kuliner dan alat masak. Bisa dibilang, cooking class ini miniatur Master Chef ala EL.
**
Seusai kegiatan cooking class, Love dan para tutor membantu waiters membersihkan kedai. Mereka bekerja sama sambil berbincang. Hengky tak lupa melontarkan humornya kepada para tutor muda. Semua tak lebih ia lakukan untuk keramah-tamahan. Tony mem-posting kegiatan EL hari ini ke laman Instagram Kedai Hoky. Tak lupa ia menandai akun EL dan Love—yang baru diketahuinya pagi tadi karena tak tahan ingin stalking lebih jauh tentang nama uniknya.
“Maaf semuanya, saya harus pergi dulu,” ucap Love tergesa-gesa menyambar tasnya di kursi. Tony yang melihat Love gelisah segera mengejarnya hingga ke parkiran. “Love! What’s wrong?” teriaknya berusaha menghentikan tutor itu.
“Mahendra,” jawab Love sambil terisak. Dia segera memakai helm dan memundurkan motornya.
“Wait, saya ikut,” kata Tony sambil memegangi stang motor Love.
“Nggak usah, Mas. Ini urusan saya. Dan mungkin akan berbahaya kalau Mas Anthony ikut.”
“Justru akan lebih bahaya jika saya nggak ikut.” Tony mengambil helm di atas motor N-Max milik Hengky. Dengan sigap ia menggeser Love ke belakang dan telah duduk di jok depan motor matic itu, “What is he doing now? Dan kita harus ke mana?” tanya Tony pada Love yang masih kalut ketakutan.
“Dia telepon, mamaku diculik …,” suara Love jadi parau. Dia menyodorkan ponselnya pada Tony. Terlihat pesan share location dari Mahendra. Tony langsung tancap gas mengikuti peta digital tersebut. “Pegang pinggangku. Berdoa, aku yakin mama kamu akan baik-baik saja,” kata Tony dari balik helm. Love menurut dan berpegang erat pada pinggang Tony yang masih berpakaian koki.


PART 13
Mereka mengendarai motor matic Love membelah jalanan Jakarta yang padat kendaraan. Tony berkali-kali memilih jalur cepat dan meliuk-liuk di belokan gang. Alamat yang mereka tuju mengarah ke sebuah gudang tua. Jarak gudang itu dari perumahan cukup jauh. Love makin curiga Mahendra merencanakan jebakan. “Mahendra benar-benar sudah nggak waras … should I call the police?” batin Love. Ia khawatir akan keselamatan Tony. Pun keselamatan ibunya. Lelaki kasar itu berkali-kali mengirim pesan ancaman agar tak menghubungi polisi. Atau ibunya bisa celaka. Astaga, Love benar-benar dalam kesulitan.
Tony dan Love sampai di depan gudang tua. Bangunan itu tampak tak terurus lama. Jalanan juga sepi. Tony waspada saat turun dari motor. Love mengekor di belakangnya. Bunyi pesan masuk di ponsel Love, dari Mahendra. “Masuk ke gudang. Cowok lo juga.” Tony mengangguk mantap pada Love setelah melihat pesan itu. Mata teduhnya tampak fokus pada pintu besar dari besi tua di depan. Mereka melangkah perlahan. Tony menggenggam erat tangan Love yang gemetar.
Keduanya menoleh ke kanan kiri jikalau ada seseorang. Setelah beberapa meter berada dalam gudang, barulah Mahendra muncul dari balik tumpukan tong bekas minyak. Diikuti dua temannya yang menyeret ibu Love—tangan terikat dan mulut diplaster. Love histeris dan hendak berlari menyelamatkan sang ibu, namun Tony menahannya. “Wait … don’t be reckless. Jangan gegabah, Love,” lirih Tony di telinga Love.
“Mahendra! Lepasin mama gue! Dasar cowok brengsek!” maki Love pada pria gondrong itu. Mahendra maju mendekat. Tony segera pasang badan di depan Love, namun tak melepas tangannya.
“Love, gue cinta sama lo. Mama juga udah setuju, iya kan Ma?” Mahendra menoleh pada ibu Love yang bercucuran air mata. Wanita itu meronta-ronta dengan dua tangan yang terikat. Pundaknya ditekan dua lelaki bertampang preman hingga tersungkur. Lagi-lagi itu membuat Love histeris dan melangkah maju, tapi Tony segera mendekap tutor itu.
I said wait!” seru Tony yang makin tegas.
“Ikut gue sekarang. Kita nikah, terus ke Bali. Gue janji nggak akan kasar lagi, sayang. Kita bawa mama juga, ya,” rayu Mahendra dengan ekspresi yang membuat Love makin jijik.
“Nggak akan! Bebasin mama gue!” Love memberontak berkali-kali namun Tony tetap mendekapnya.
Very well … Lovely! Sekarang gue mau bicara sama cowok lo. Pahlawan yang sebentar lagi babak belur ini.” Mahendra mendekati mereka. Tony membimbing tubuh Love ke belakang. Ia kini berhadapan dengan lelaki itu.
“Mau lo apa sebenarnya?” tanya Tony tanpa ragu.
“Tinggalin Love. Gue udah bilang. Lo nggak tau apa-apa. Gue cuma mau nebus kesalahan!” nada tinggi Mahendra menggema. “Lovely Sayang, atas nama papaku, aku minta maaf. Aku mau nebus kesalahan dengan nikahin kamu, Sayang. Mau ya….”
Love menggelengkan kepala dan berteriak, “NEVER! Kamu dan papamu adalah orang terkejam dan jahat!” Mata sipit Love dipenuhi air mata. Ibunya pun berkali-kali memberontak namun tak berdaya.
Mahendra maju mendekati Tony. Matanya merah. Amarahnya memuncak. “Gue tantang lo buat duel,” ucapnya menatap Tony tanpa berkedip.
Tony menarik Love ke sampingnya dan berbisik, “Kamu mundur. Tunggu di pojokan. Trust me.” Love menurut dan menjauh dari dua lelaki yang siap berduel itu.
Mahendra mulai melangkah dan melayangkan tinju pada Tony. Terdengar suara rusuh dibelakangnya. Dua pria yang memegangi ibu Love dihantam dari belakang oleh seseorang bertopi hitam. Pria gagah itu menghajar keduanya. Tony yang melihat Mahendra lengah segera meninju dan menahan badannya. Mahendra meronta dan berusaha lepas dari kuncian Tony tapi mustahil.
Sementara Love menghambur pada sang ibu yang jatuh tersungkur. Dia segera membuka plaster dan tali yang mengikat tangan wanita yang amat ia cintai itu. Sang ibu sangat ketakutan dan tenggelam ke dalam pelukan Love. Mereka menjauh dari perkelahian sengit antara pria bertopi hitam dan dua preman Mahendra.
“Sialan! Cemen lo, nggak berani datang sendirian,” ujar Mahendra terbata karena badannya terhimpit kedua tangan Tony.
“Gue udah ngira, lo pasti bawa orang juga,” kata Tony sambil memukul tengkuk lelaki gondrong itu hingga pingsan. Sementara dua preman yang dihadapi pria bertopi hitam tadi kabur dengan luka-luka di wajah dan perut. Pria itu hendak mengejar tapi Tony menghentikannya.
“Candra!” panggil Tony pada pria itu, “Biarin aja. Kita urus yang ini.” Tony menunjuk pada Mahendra yang tengkurap tak sadarkan diri di bawahnya.
“Gue udah telpon anak buah gue. Semoga dua preman tadi ketangkep di luar. Lo nggak apa-apa?” ucap lelaki bernama Candra sambil mengulurkan tangan. Tony dan Candra bersalaman dan saling mengepalkan genggaman.
Thanks udah tepat waktu,” kata Tony.
Anytime, bro!” balas Candra. Pria bertubuh setara dengan Tony itu segera mengikat tangan Mahendra dengan tali.
Tony menelpon Hengky untuk segera datang membawakan mobilnya. Ia lalu menghampiri Love dan sang ibu yang masih menggigil ketakutan.
“Jangan dekat-dekat … jangan!” kata wanita bermata sipit yang terlihat gemetar itu. “Princess … Bunda Ratu takut …” lanjutnya.
Tony terperanjat melihat ekspresi ibu Love. Wanita itu kembali menenggelamkan kepalanya dalam pelukan sang putri. Tony mengalihkan pandangan ke Love yang membuka mulutnya tanpa suara, “Nanti aku jelasin. Thank you so much.


PART 14
Dalam perjalanan, ibu Love—belakangan diketahui bernama Lily Indah—sudah jauh lebih tenang. Wanita itu tampak kelelahan dan tertidur di pundak sang putri. “Mohon atas maaf sikap mamaku tadi, Mas. Beliau sedang dalam masa pemulihan,” ucap Love dari jok belakang. Tony meliriknya dari kaca tengah mobil.
“Mama kamu sakit?”
“Sejak bercerai dari papa, mama menderita PTSD. Sempat dirawat di rumah sakit juga.” Ada jeda kesunyian setelah kalimat terakhir Love.
“Terus, maksud Mahendra dia mau nebus kesalahan? What happened?” tanya Tony.
“Papa pernah punya bisnis properti. Tapi sekitar dua tahun lalu papa dijebak rekan kerjanya sendiri. Kami bangkrut dan menjual hampir seluruh aset. Hanya tersisa rumah,” tutur Love sambil mengelus rambut sang ibu.
“Sejak itu papa jadi temperamen. Kerap berlaku kasar pada mama. Dan puncaknya setahun lalu, papa menceraikan mama. Terus pergi entah ke mana. Terakhir aku dengar beliau nikah dengan janda kaya raya di Bandung. But I never see them.” Sesekali Love melihat ke luar kaca mobil. Tony mendengarkan kisah pilu sang tutor dengan tetap fokus menyetir.
“Mahendra datang bagai pahlawan. Dia berlaku baik dan menyenangkan. Setelah tujuh bulan pacaran, aku baru tahu ayahnya adalah dalang di balik bangkrutnya bisnis papa.”
Tony mulai paham dengan kisah hidup tutor muda itu. “Menurut saya, cara Mahendra memaksa kamu menikah dengannya untuk alasan menebus kesalahan itu sangat tidak masuk akal.”
Love berdecak. “Itu cuma alibinya aja, Mas. Mahendra adalah tipe orang yang harus memiliki apapun yang dia mau. I really regret that I knew this guy,” sesal Love.
It all happens for a purpose. Pasti ada hikmah di balik semua yang telah menimpa kamu,” hibur Tony.
Mereka sampai sebuah rumah sederhana bercat putih dengan pagar hitam. Terlihat seperti rumah tua namun terawat. Tony membantu Love dan ibunya turun dari mobil dan memapah ke dalam. Bu Lily sudah tampak lebih tenang di dekat Tony. Tak lama kemudian, Hengky muncul dengan motor matic Love.
“Silahkan, masuk!” ajak Love setelah membuka pintu rumah. Ia mengantar sang ibu istirahat di kamar. Tony dan Hengky duduk di sofa hijau tua di ruang tamu sederhana yang bersih. Tony tak asing dengan ruangan itu—yang terlihat di status WhatsApp Love pagi tadi. Tak lama kemudian Love keluar dengan nampan berisi dua cangkir kopi.
“Silahkan diminum. Semoga bisa bikin rileks,” ucap Love sambil menyuguhkan kopi di meja. “Kalau boleh tahu, gimana bisa teman Mas Anthony datang? I didn’t see you call him.”
Setelah menghirup kopinya, Tony menjawab pertanyaan Love dengan santai, “Saat aku ngejar kamu keluar kedai, aku kasih kode bahaya ke teman intelku, Candra. Aku kasih akses dia agar bisa melacak posisiku lewat HP.”
“Sejak kejadian di mall waktu itu. Aku ngerasa perlu proteksi diri. So aku minta bantuan Candra,” papar Tony.
I see. You’re smart. Sekali lagi terima kasih,” ucap Love yang kini terlihat amat letih.
Hengky yang sebenarnya tidak tahu duduk permasalahan ini hanya bisa terdiam. Dia awalnya syok melihat Tony yang tanjap gas membonceng Love tanpa berpamitan. Sempat dikiranya Tony ingin membawa kabur tutor itu. Setelah menyelesaikan tegukan terakhir kopinya, Tony dan Hengky pamit undur diri. Hengky membantu Love memasukkan motornya ke rumah.
“Hati-hati, Miss Love. Jangan keluar rumah. Jagain mamanya aja,” pesan Hengky pada tutor muda itu. Love tersenyum simpul dan menjabat tangannya. Tak lupa ia menyalami Tony sang penolong dan memandang mata teduhnya. Hati Love berdesir kali ini. Ia tak menyangka koki muda itu telah menyelamatkan hidupnya dua kali.
**
Hengky yang duduk di samping kemudi terlihat murung. “Masalah kayak gini, bisa-bisanya lo gak cerita ke gue. Malah hubungin si Candra Kirana lagi,” gerutunya.
“Haha, lo cemburu?” ledek Tony pada sahabatnya yang posesif.
“Bukan gitu, Ton. Gue jadi ngerasa gak berguna. Sahabat lagi dalam bahaya, yang nolongin malah mantan rival.”
“Lo udah bantuin gue, Heng. Helm lo gue pinjem, dan lo bawain mobil ke tempat sialan tadi. You’re very helpful.” Tony merasa seperti sedang merayu pacar yang merajuk. Hengky memang selalu sensitif tiap Tony berhubungan dengan Candra Abimanyu—yang selalu disebut mantan rivalnya di SMA. Candra sebenarnya baik tapi Hengky ingin selalu jadi satu-satunya sahabat terbaik Tony. Sahabat sableng yang akan selalu ada untuknya.

PART 15
Sore itu Kedai Hoky mengadakan Live Music. Archer Band sedang tampil di sisi kiri menghadap ke ruang utama. Hengky yang malam itu mengajak Raisa beserta putri balita mereka Nabila, tampak bahagia.
“Halo, Nabila! Raisa junior banget anak lo mukanya,” ucap Tony sambil menggendong Nabila kecil berpipi bakpao.
“Untung kagak mirip bapaknya,” kata Raisa cuek, yang kemudian dibalas ciuman kecil oleh Hengky di pipinya.
“Tetep aja, Nabila akan mewarisi bakatku, Sayang.”
“Bakat gombal? No way!” Raisa mencubit hidung Hengky hingga kepalanya menggeleng. Tony tertawa keras melihat mereka yang kadang seperti sitkom.
Raisa adalah teman sekelas Tony dan Hengky. Dulu ia sebenarnya mendambakan Tony. Tapi saat mereka jalan bareng, Tony melihat bayangan Raisa bersama Hengky. Sejak itu, ia malah balik mencomblangkan dua insan beda karakter itu. Meski berkali-kali menolak cinta Hengky, barulah di kampus yang kebetulan mereka satu jurusan, Raisa luluh.


Lucky I’m in love with my best friend (Beruntungnya aku jatuh cinta pada teman baikku)
Lucky to have been where I have been (Beruntungnya aku telah berada di tempatku berada)
Lucky to be coming home again (Beruntungnya aku pulang kembali)
Terdengar Archer Band sedang melantunkan lagu Lucky yang dipopulerkan Jason Mraz—request khusus dari Hengky untuk sang istri tercinta, Raisa. “For you, Raisa Sayang,” ujar Hengky sambil menggendong Nabila dan menari-nari kecil.

Menjelang malam, suasana Kedai Hoky terasa makin spesial. Bu Halimah datang bersama Benida. Malam ini beliau mengundang keluarga Pak Hisyam untuk makan malam bersama. Sekaligus menampilkan menu baru yang dibuat Tony—maksud sesungguhnya adalah mendekatkan dua keluarga.
Gita tampak anggun dengan blouse warna pink nude, dipadukan dengan kulot kremnya. Tak lupa outer tanpa lengan berwarna senada dengan kulotnya melengkapi outfit gadis muda itu. Jilbab broken white-nya diikat ke belakang. Gita sepertinya tahu cara membuat dirinya tampak rapi dan elegan. Dia berjalan beriringan dengan ayah dan ibunya. Mereka disambut senyum ramah Bu Halimah yang memakai dress panjang bermotif bunga. Jilbab polos panjangnya menutup hingga pinggang.
Benida lari menuju dapur memberitahu sang abang, “Bang, Mbak Gita dan keluarga udah datang.”
“Okay, hampir siap kok,” sahut Tony yang sibuk mengolah menu barunya.
“Gugup nggak, Bang?”
“Emang mau lamaran? Pakai gugup segala,” jawab Tony tanpa memedulikan adiknya yang jahil.
Pak Hisyam dan istrinya tampak senang melihat suasana Kedai Hoky yang santai dan nyaman. Hiasan lampu gantung ala vintage menerangi meja besar mereka. Hengky memperkenalkan diri. Dia mengaku bangga bisa bekerja bersama koki handal yang juga sahabatnya sendiri. Pak Hisyam menepuk pundak manager muda itu dan memberi semangat.
Setelah berbincang beberapa saat barulah Tony datang bersama dua waiters yang membawa pesanan mereka pada troli besar. “Selamat datang di Kedai Hoky, Om, Tante, Gita,” sapanya. Tony menyalami mereka lalu membantu waiters menghidangkan menu spesial mereka.
“Wah, ini benar-benar Master Chef kita!” puji Pak Hisyam.
“Terima kasih, Om. Ini adalah menu terbaru kami. Burger Season dan Ayam Multi Rasa. Ditambah Veges Party alias Pesta Sayuran. Semoga semuanya suka,”
Tony melepas topi kokinya lalu duduk di samping Benida, berhadapan dengan Gita. Bu Halimah membuka makan malam yang terasa seperti acara temu dua keluarga itu dengan senyum lebar. “Terima kasih, Pak Hisyam sekeluarga sudah bersedia hadir atas undangan saya. Almarhum suami saya pasti sangat senang tahu kita masih bisa menyambung tali silaturahim.”
“Sama-sama, Jeng. Kami juga berterima kasih sudah diundang. Senang sekali rasanya seperti saudara,” sahut Bu Arini, istri Pak Hisyam.
“Mungkin ini memang takdir dan siapa tahu kita beneran bakal jadi saudara,” ujar Bu Halimah sambil mengiris burger besar. “Mari, kita makan.”
Kata-kata ibunya terdengar jelas sebagai kode, agar dua keluarga ini benar-benar akan merajut tali kekerabatan—besanan. Sendok Tony dan Gita bertabrakan saat hendak mengambil sayuran tumis campur jamur di depan mereka. Seketika mereka beradu pandang. Tony melihat sebuah bayangan dari mata belok gadis itu. Seperti biasa, Gift-nya muncul tiba-tiba.
**


Dalam kilas bayangan itu Tony melihat dirinya dan Gita melangkah keluar dari pelaminan dengan senyum bahagia. Namun seperti scene film yang berubah dalam sejenak, dia melihat Gita dengan derai air mata dan amukan hebat. Tak terdengar jelas apa yang diucapkan perempuan berjilbab itu. Kemudian Tony kaget bukan kepalang mengetahui dirinya tengah berdiri menggandeng tangan seorang perempuan. Love.
Meski terasa beberapa menit seperti berada dalam sebuah adegan, nyatanya kilas bayangan itu hanyalah kurang dari satu detik dan Tony telah kembali pada realita. Gita mengendikkan dagunya agar Tony meyendok sayuran tumis di mangkuk besar itu. Tony segera melakukannya, diikuti dengan Gita. Dia tersenyum simpul. Tony memakan tumisnya yang berada satu piring dengan ayam krispi (bagian dari Ayam Multi Rasa). Tony mulai berkeringat dingin. Tangannya bergetar. Lalu melemas. Kilas bayangan tadi benar-benar mengguncangnya. Bagaimana mungkin ia bisa menyakiti gadis sempurna di depan matanya itu.
Kini Archer Band sedang memainkan lagu If I Fell by The Beatles, namun mereka bermain versi akustik.
If I fell in love with you (Bila aku jatuh cinta padamu)
Would you promise to be true (Maukah kau berjanji untuk sungguh-sungguh)
And help me understand (Dan membantuku memahami)
‘Cos I’ve been in love before (Karena aku telah jatuh cinta sebelumnya)
And I found that love was more than just holding hands (Dan kutemukan bahwa cinta lebih dari sekedar berpegangan tangan)
Saat tiba pada bagian ‘And I would be sad if our new love was in vain,’ Tony mengulangnya dalam hati berkali-kali, “Aku akan sedih jika hubungan kita yang baik dan indah akan jadi sia-sia, Git.”
**

PART 16
Selesai makan, Bu Halimah tampak masih bercenkerama dengan Pak Hisyam dan Bu Arini. Benida mengajak Gita untuk bernyanyi, “Mbak Gita, ayo temenin Benid nyanyi!”
“Ah, nggak ah. Suara Mbak jelek, bikin perut mules ntar,” kata Gita yang malu-malu.
“Hmm orang aku pernah lihat Mbak Gita nyanyi di Story Instagram, ayolah Mbak, ntar jadi backing aja deh,” paksa Benida. Gita menggelengkan kepala seraya beranjak dari meja mereka.
“Bang Tony pegangin HP Benid, ya! Live IG!” Tony tak bisa menolak sergapan sang adik yang sudah bersemangat itu.
Gita dan Benida tampak berunding dengan Archer Band untuk jadi pengiring music mereka. Selanjutnya saat mereka telah siap, Tony mulai Live IG akun Benida merekam aksi dua cewek itu di panggung mini. Mereka menyanyikan lagu Bubbly oleh Colbie Caillat. Benida berkali-kali menempelkan tubuhnya pada Gita, seolah mereka telah jadi kakak-adik. Tony senang melihat keakraban itu, tapi dia lalu teringat kilas bayangannya tadi. Dan senyumnya perlahan sirna.
You make me smile (Kau membuatku tersenyum)
Please stay for a while now (Tolong tinggalah sebentar sekarang)
Just take your time (Gunakan waktumu)
Wherever you go (Ke mana pun kau pergi)

But what am I gonna say (Tapi apa yang akan kukatakan)
When you make me feel this way? (Kapankah kau membuatku merasa begini?)


Setelah selesai menyanyi, Gita duduk di sebuah bangku di samping Tony. Hengky yang baru sampai setelah mengantar Raisa dan Nabila pulang tersenyum girang melihat sahabanya duduk dengan gadis berjilbab itu. Dalam hati Hengky berharap agar Tony segera menemukan tambatan hati yang sejati.
“Mas, aku mau tanya sesuatu,” ucap Gita, membuat Tony menoleh padanya.
“Yes, please,” kata Tony dengan sedikit senyum.
“Are you comfortable being around me?” Pertanyaan yang sulit dimaknai bagi Tony. Sangat bergantung pada jawabannya setelah ini.
“Hmm, of course. Aku nyaman,” respon Tony.
“Good. Aku tenang kalau gitu.” Gita kemudian bercerita tentang betapa canggungnya dia kembali ke Indonesia setelah empat tahun tinggal di Jerman. Meski sebenarnya ia masih ingin melanjutkan S2 di sana, tapi sang ayah menyuruhnya segera pulang dan berkumpul dengan keluarga. Kisahnya mirip dengan Tony. Mereka berdua punya mimpi yang tertunda demi bakti pada keluarga.
“Nduk, ayo pulang! Wah-wah, kok malah asik ngobrol berdua ini …,” kata Pak Hisyam yang sudah bersiap untuk keluar kedai. Tony dan Gita kompak langsung berdiri.
“Gita boleh kok kalau mau nginep di rumah tante,” ujar Bu Halimah yang terdengr modus camer alias calon mertua. “Nanti bisa temenin Benid tidur, lagian kantor kamu deket kan dengan rumah tante,” rayunya lagi.
“Makasih, Tante. Kapan-kapan saja. Inysa Allah.” Gita mencium tangan Bu Halimah. Kemudian merangkul Benid dan mencium pipinya.
“Beneran ya, Mbak. Nanti kita bisa marathon drakor. Nggak usah tidur hehe.”
“Iya, horor juga, haha.” Benida bergidik mendengar kata horror. Gita sengaja menggodanya.
Tony sekali lagi terpesona oleh kekraban Gita dan Benida. Dia membayangkan bagaimana bahagianya sang adik bila mereka benar-benar jadi ipar. Tapi bayangan itu buru-buru ia tepis. Kilas bayangan tadi benar-benar menyuramkan pandangannya.

“Waduh, kok kempes ini,” suara Pak Hisyam terdengar dari parkiran.
“Ada apa, Om?” Tony segera menghampiri. Tampak mobil Pak Hisyam tidak seimbang. Salah satu bannya kempes.
“Biar saya dongkrak, Om.”
“Eh, nggak usah. Saya telpon tukang dongkrak saja. Kamu pasti capek. Udah biarin aja, Nak Anthony.”
“Lama Om biasanya kalau malam gini.”
“Pakai mobil Tony saja, Pak. Mobil Pak Hisyam biar sini dulu. Besuk baru diganti bannya,” usul Bu Halimah. Pak Hisyam awalnya menolak. Tapi atas desakan Bu Halimah dan Tony, beliau akhirnya setuju.
**
Pukul 02.00 dini hari. Mata Tony masih belum juga memejam. Meski ia telah mencoba tidur berbagai posisi, tapi sepertinya pikiran dan matanya tak ingin beristirahat. Jika tadi Tony terfokus pada betapa hancurnya perasaan Gita dalam kilas bayangan itu, kini ia jadi memikirkan perempuan yang digandengnya, Lovely. Meski akhir-akhir ini mereka kerap berinteraksi, dan selalu ketemu saat Tony mengantar Benida ke EL, Tony tak pernah menyadari ada perasaan apapun pada tutor muda itu. Hanya saja, ia merasa selalu ingin melindunginya. Mungkin ini adalah simpati. Kepedulian semata.
Tony meraih ponselnya. Dia memulai aplikasi Instagram. Tujuannya untuk mengalihkan perhatian dengan mengecek akun Kedai Hoky. Ia berencana menghubungi Emak Enyuss melalui DM untuk me-review menu barunya. Tapi jempolnya tak tahan untuk tidak menekan history pencarian, dan menemukan nama akun “LovePutri0912.”
Logo bundar dengan foto Love sedang tersenyum ia tekan. Terlihat story IG-nya memuat beberapa kegiatan EL. Dan yang terakhir adalah foto dirinya bersama Bu Lily sang ibu. Keduanya tampak mirip. Tony menahan lama story IG itu. Ia jadi ingat kejadian di gudang tua beberapa hari lalu hingga tak sadar menekan tombol reaksi berbentuk hati yang otomatis terkirim pada akun IG Love. “OH SH*T!!! BEGO BANGET GUE!” umpat Tony yang segera bangkit dari rebahannya.