Mmbaca Itu Susah-Susah Gampang

Eng, Bukan En… 🙂

Masih basah ingatanku kali pertama mengeja huruf-huruf alfabet. Sekitar umur empat tahun, aku mulai mengenal huruf. Kala itu aku terbata-bata mengucapkan huruf A sampai Z dengan tuntunan kakakku. Begitu telaten ia mengajari hingga akhirnya, setelah berhari-hari menghafalkan A sampai Z, aku berhasil. Tidak cukup sampai di situ, aku belajar menulis huruf-huruf itu. Tangan mungilku sangat akrab dengan pensil dan buku tulis. Tidak peduli ada garis-garis di setiap kertasnya, aku menulis sesuka hatiku dengan ukuran yang menurutku memuaskan. Setiap kali menulis satu huruf, aku merasa bagaikan orang terpintar di dunia ini, dan akan selalu kupamerkan pada ibuku (tentu saja, dia tersenyum bangga).

Walau telah lancar membaca beberapa kata, seperti:

“I N I   B U D I”

“I N I   I B U  B U D I”

“I N I   B A P A K   B U D I”

“I N I   K A K A K    B U D I”

“I N I   A D I K    B U D I.”  Kesimpulanku sampai pada  B U D I adalah anak kedua. Masyarakat indonesia perlu berterima kasih kepada Budi sekeluarga. Karena keluarga B U D I-lah, sebagian besar dari kita bisa membaca J

Masalah terbesarku belajar membaca adalah mengeja kata yang berakhiran –ng. Kakakku berkata, “Ini bacanya eng.” Tapi aku tidak pernah percaya padanya. Bukannya mengeja sebagai eng, aku memngejanya en. Pernah suatu ketika aku membeli sebuah snack “Jagung Bakar” dan membacanya keras-keras di depan teman-temanku, “J A G U N   B A K A R.” Mereka semua terheran-heran dengan cara membacaku. Sala satu temanku menyeringai, “Kok, jagun? Bukannya jagung yang ada?” Aku menatapnya serius, “Bukan aku yang salah. Tulisannya yang salah. Mereka salah mengeja. Selama ini kita dibodohi.” Aku bersikeras dengan pendapatku bahwa “JAGUNG” sebenarnya adalah “JAGUN” tapi kami malah berdebat dan tetap pada pendirian masing-masing. Teman-temanku mulai tak sabar denganku yang super ngeyel. “Apa buktinya kalau mereka salah mengeja?”

Aku naik pita seketika melihat temanku tersulut emosi, “Bagaimana mungkin kalian yakin bahwa itu bacanya “jagung” sementara kalian sendiri tidak tahu asal kata itu dari mana!”

Aku melangkah pergi dengan sekepal kekesalan. “Ejaan eng? Mana ada?!” Tidak sampai di situ, aku menemukan fakta lain tentang bunyi eng yang menyesatkan itu. Bahwa kata “UANG” adalah “UAN.” Dan semua kata yang berakhiran –ng kueja sebagai –n. Alhasil, saat bicara pun aku berusaha mengucapkan UANG sebagai UAN, JAGUNG sebagai JAGUN, KALENG sebagai KALEN, KALUNG sebagai KALUN, JURANG sebagai JURAN, dan sebagainya.

Untungnya, kebiasaan itu tidak berlangsung lama. Aku mulai  menyadari cara mengejaku salah. Semua orang menertawakanku tiap kali aku mengucapkan kata-kata itu. Kakakku membujuk agar aku mau membaca –ng sebagai eng. Lucu sekali ketika menyadari bahwa selama ini aku terlalu keras kepala dengan ejaan itu. Ketidakmautauanku telah menjerumuskan ke lembah kesalahan. Tapi anehnya, aku tidak pernah merasa bersalah atau malu. Pikirku, itu adalah hal yang wajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s