0

Antalogi Cerpen Remaja Karya Alumni dan Murid KupuKupuBukuWilda

Masa remaja adalah yang terindah, tergokil, terseru, dan tak terlupakan. Masa di mana kita mulai mengenal berbagai hal baru yang belum pernah kita tahu. Banyak hal yang terjadi saat kita menjadi seorang remaja. Mendapat teman baru, bergaul dengan cara dan gaya baru, berkeinginan mencoba hal-hal baru, dan masih banyak lagi. Masalah percintaan adalah yang paling umum terjadi selama masa remaja. Walaupun ada juga remaja yang tidak pernah mengalaminya, namun sebagian besar dari kita pasti tahu apa itu arti “cinta monyet” atau cinta saat masa remaja. Itulah mengapa perihal percintaan remaja selalu digandrungi anak-anak yang mulai beranjak dewasa ini.

Dalam postingan kali ini, saya mempersembahkan beberapa cerpen karya murid-murid saya yang bertemakan percintaan anak remaja masa kini. Enjoy reading it, yaa….

Sebuah Harapan
Oleh: Rafif Syahrin Wibowo

Sejak aku naik kelas sembilan. Aku sering melihat gadis itu dengan tatapan mata yang tidak aku sangka, saat aku melihat gadis itu dia pun mengalihkan pandangannya. Rupanya dia sering curi-curi pandang kepadaku. Dari situlah, jantungku mulai berdebar. Keesokan harinya aku ingin menyapanya, namun mentalku belum kuat, dan aku berusaha untuk menanyainya namun juga belum bisa.
Aku bertanya pada dirku, kenapa malu? Kurang percaya diri? Ketika aku berjan aku punmelihat nya duduk dikursi koridor sendiri. Kesempatan, pikirku. Aku duduk di sampingnya, dan seketika aku bertanya, “Hai, nama kamu siapa?”
“Claudia” jawabnya simple, “Kamu siapa?” tanyanya.
“Namaku Rafael, ngomong-ngomong kenapa kamu sering lihat ku dengan tatapan yang tajam? Emang aku punya salah ya?” tanyaku dengan menahan debaran jantung.
“Nggak kok.” setelah itu dia pun pergi.
Keesokan harinya aku berangkat sekolah pagi-pagi karena ada bimbingan. Aku tidak sengaja bertemu dengannya di koridor, menyapanya namun dia cuek saja. Aku pun bertanya, “Kenapa kamu cuek? Ada masalah ya?”
“Nggak ada” jawabnya singkat.
“Ya udah kalau gitu aku mau masuk ke kelas dulan, ya.” Jawabku mencoba ramah. Dia tersenyum dan berlalu.
Saat pulang sekolah aku pun mendatangianya untuk meminta nomer whatsappnya, lalu aku bertanya tanya tentang hobi dan lain-lain. Ada perasaan tak terduga yang kurasakan. Perasaaan bahagia dan malu. Tapi aku terus mencoba ngobrol dengannya.
***
Malam harinya, aku mencoba menyapanya lewat whatsapp, “sedang apa, bos?”
“Tungguin masak Mie, nih.” jawabnya
Kemudian aku berpikir untuk mempertahankan percakapan.
“Kok makan mie?”
“Ya, pengin aja.” Balasnya singkat.
Aku terdiam sejenak. Kuputar otakku untuk menemukan kata-kata yang tepat membalasnya. Sepuluh menit berlalu. Aku masih memutar-mutar smartphoneku hingga tak terasa terlepas dan terjatuh. “Aduh! Untung tidak pecah.” kataku.
Segera kuambil smartphone ku dan meneruskan percakapan yang membuat jantungku berdebar itu.
“Gimana mie nya enak?”
“Enak dong Kamu mau?”
“Enggak, mie tu nggak sehat, dan kalau kamu mau sakit Cuma gara-gara makan mie, itu nggak lucu.” Jawabku konyol. Kami bercakap-cakap hingga pukul 21.30, dan tanpa terasa aku tertidur.
Pagi harinya, aku terbangun dan langsung mengecek smartphoneku. Kulihat pesan terakhirku dengannya, aku pun tersipu. Seperti ada sebuah harapan di benakku untuk berpapasan dengannya hari ini. Entah di Kopsis, perpustakaan, atau di pintu gerbang sekolah. Aku diam-diam memendam rasa yang belum pernah kupahami sebelumnya. Perasaan gembira, malu, dan khawatir. Semoga hari ini akan menjadi indah. Aku benar-benar menaruh harapan padanya.
Jam 06.30, aku sampai di sekolah. Kulangkahkan kakiku menuju gerbang. Sengaja aku berjalan santai sambil mataku mengembara, mencari keberadaan Claudya. Ternyata benar, dia ada di sana. Berjalan dengan menenteng tas punggung, dan mendekap beberapa buku paket. Aku mempercepat langkahku hingga sekitar dua meter di belakangnya. Jantungku berdebar tak karuan lagi. Mulutku menganga ingin menyapanya. Tapi jantungku berdebar semakin kencang. Hingga kami sampai di depan kelasnya, kuberanikan diri untuk menyapa, “Hai, Clau! Gimana, sarapan mie?”
Dia berbalik dan menatapku, “Oh, Hai, Raf! Haha, enggak lah. Kan mie itu nggak sehat.”
Aku menahan senyum. Kupertahan wajah santaiku sebisa mungkin. Tapi dia tidak berkata apa-apa lagi. Jadi kuputuskan terus berjalan ke kelasku. Sontak jantungku berdebar lebih teratur setelah menyapanya. Aku benar-benar merasa lega. Walau dalam hati sebenarnya aku masih ingin berbicara lebih dengannya. Tapi itu tidak mungkin. Pasti anak-anak lain akan menyoraki kami. Bisa kubayangkan betapa heboh nantinya.
Dua minggu berlalu. Hampir setiap malam kami chatting lewat whatsapp. Tiada hari tanpa harapan bertemu dengannya di sekolah. Claudya juga sepertinya meresponku dengan baik. Dari setiap balasannya, tersirat makna bahwa dia juga merasakan hal yang sama denganku. Hingga suatu malam, kuberanikan diri untuk bicara lebih serius dengannya (masih lewat whatsapp).
“Malam, Claudya. Lagi belajar?”
Tanda centang dobel pada percakapan kami masih berwarna abu-abu, dan itu artinya pesanku belum dibaca olehnya. Mungkin dia sedang belajar, pikirku. Aku menunggu balasannya sambil membaca buku IPA kelas 9, salah satu pelajaran kesukaanku. Namun, kutunggu hingga larut malam tak kungjung ada pesan darinya. Hanya ada pesan di grup teman-teman yang ramai. Aku gelisah, khawatir, dan itu membuatku semakin tidak sabar. Padahal, biasanya dia selalu langsung menjawab pesanku. Tapi, malam ini apa yang sebenarnya terjadi padanya. Aku memandangi layar ponselku hingga tertidur.
Keesokan harinya aku bangun pukul 05.00. Aku bergegas sholat kemudian mandi. Setelah itu, kuperiksa ponselku. Akhirnya! Dia membalas.
“Sorry, Raf. Aku semalam lagi sibuk bantuin ibu ngurus adikku yang baru lahir.”
Senyumku merekah. Dia membalasku. Walaupun sibuk mengurus kelahiran adiknya, dia tetap menyempatkan diri untuk membalas pesanku.
“Wah, punya adik baru,nih. Selamat,ya Mbak Claudya” balasku.
Tak lama kemudian ponselkuk bordering, “Haha, iya. Perempuan lagi. Seneng banget aku jadi punya teman dan nggak kesepian lagi.”
“Hmmm, jadi, selama ini kamu kesepian,ya?”
“Lumayan, sih. Maksudku, kan kalau punya adik aku bakal sibuk bantuin ngurus dia, dan nggak akan sempat balas pesan dari kamu, wekkkkk”
Aku tersipu. Dia memang lucu, dan menyenangkan. Kubalas dengan emoji cemberut. Dia membalas lagi, “Hahaha, marah,ya?”
“Ya, enggak, sih. Tapi beneran, kamu bakal sibuk? Aku donk yang ganti kesepian, huhuhuhu”
“Ummm, kita lihat aja nanti,ya. Pokoknya, nggak ganggu waktu belajar, dan waktu dengan keluarga, ok?”
Wow, yes! Pikirku, terlampau gembira. Ini berarti dia tidak keberatan untuk dekat denganku. Segera kubalas dengan emoji senyum tiga kali. “Ok, jangan khawatir, kita bakal tetap bisa bagi waktu”

Tentang Percaya
Oleh: Salsabilla Dhia Marchelia

Pagi yang cerah. Aku terbangun dari tidurku dan mandi. Kemudian aku bersiap untuk sekolah. Hari ini adalah perkenalan siswa-siswi baru di SMP. Aku masuk di kelas 7A dan didampingi kakak OSIS. Dari situ kami semua disuruh memperkenalkan diri.
Saat tiba girilanku, ada kakak OSIS yang bernama Fransisco bertanya kepadaku, “Siapa namamu, dik?”
“Milea Azahra,” ucapku.
“Rumah kamu di mana?”
“Jalan Mawar no.5, Kampung Durian” jawabku dengan malu. Aku tidak tahu kenapa Kak Fransisco hanya menanyaiku, bukan siswa yang lain.
Setelah MPLS berakhir, aku mempunyai teman baru di kelasku bernama Syifa. Dia sangat baik dan asyik sehingga kami berteman dekat. Kami duduk sebangku. Aku sering bercerita kepada Syifa, dan begitu juga sebaliknya, dia sering bercerita kepadaku. Setiap hari kami ngobrol hal-hal ringan, konyol, lucu, dan sering bertukar pikiran.
Sementara itu, seiring waktu aku mulai dekat dengan Kak Fransisco. Aku pun menyimpan rasa kepadanya. Dia adalah kakak kelas yang dikagumi oleh semua siswa dan terkenal akan ketegasannya. Aku sering ngobrol lewat whatsapp dengannya. Terkadang, saat bertemu di kantin atau menunggu jemputan saat pulang sekolah, kami juga sering ngobrol. Dan hal itulah yang membuatku semakin mengenalnya.
Tiga bulan sudah kedekatanku dengan Kak Fransisco. Dia pernah mengajakku berpacaran, namun aku menolak dengan alasan masih ingin fokus belajar. Walau sebenarnya aku ingin sekali berkata ‘mau’. Meski begitu, Kak Fransisco tidak pernah menyerah. Dia tetap berjuang untuk mendekatiku serius. Hingga suatu hari dia mengajakku bertemu di pantai. Saat itu, Kak Fransisco mulai bicara,
“Lea, aku ingin bicara serius denganmu”
Entah kenapa jantungku jadi berdebar lebih kencang, “Mm..mau bicara apa, kak?”
“Untuk yang ketiga kalinya, aku ingin mengungkapkan perasaanku kepada kamu, Lea. Aku sayang sama kamu dan aku ingin hubungan kita serius”
“Mm..maksudnya?”
“Maukah kamu jadi pacarku?”
Mukaku langsung merah, aku tersipu malu. Dalam hatiku berkecamuk antara menerima atau menolaknya. Tapi ini sudah tiga kali, dan aku juga sayang padanya. Akhirnya, kuputuskan untuk menerimanya. “Iya, kak. Aku mau.” Jawabku malu-malu.
Seketika Kak Fransisco melompat dan berteriak girang, “YESSSS!!!!”
****
Dua bulan sudah hubunganku dengan Kak Fransisco. Kami semakin dekat dan saling menyemangati untuk belajar lebih giat. Tak jarang kami belajar bersama. Berpacaran dengan Kak Fransisco tidak hanya membuatku bahagia, tapi juga sangat membantu motivasi belajarku. Kami ngobrol lewat whatsapp sesuai waktu luang saja. Saat tiba waktu belajar, kami saling mengingatkan.
Suatu pagi di kelas, seorang kakak kelas bernama Kak Briliant mendatangiku. “Ada yang namanya Milea?” katanya agak sinis.
“Saya, kak.” Jawabku.
“Kamu pacaran,ya sama Frans?”
“Iya, kak.”
“Hmm…mulai sekarang, jauhi Frans. Kalau kamu ingin bahagia!”
Sontak kalimat setengah memerintah itu membuatku kaget, “Memangnya kenapa saya harus putus sama Kak Frans?”
“Aduh, kamu, tuh, polos banget. Frans itu cuma jadikan kamu pelampiasan aja. Dia nggak serius sama kamu.”
Aku masih terdiam, sementara Kak Briliant pergi. Syifa berbisik padaku, “Dia tuh mantannya Kak Fransisco.” Aku kaget karena aku tidak pernah tahu tentang itu.
****

Setelah beberapa hari kejadian itu, aku jadi bimbang dengan hubungan bersama Kak Fransisco. Karena dia tidak pernah cerita padaku tentang mantannya yang bernama Kak Briliant itu. Padahal, kami pernah berjanji bahwa tidak ada rahasia di antara kami berdua. Beberapa hari aku menjaga jarak darinya. Dengan alasan akan ada ulangan Matematika. Hingga suatu hari Kak Fransisco mengajakku belajar bareng di rumah.
“Kamu kenapa, sih akhir-akhir ini agak cuek sama aku?”
“Enggak, kok”
“Aku bisa merasakannya. Ada apa, Lea? Jujur saja sama aku kalau ada yang ingin kamu sampaikan.”
“Seharusnya Kakak yang jujur sama Lea.”
“Maksudnya?”
“Kak Frans nggak pernah cerita tentang Kak Briliant. Padahal kan kita sudah janji tidak ada rahasia.”
Dia terdiam sejenak, “Aku nggak pernah cerita karena itu masa lalu yang nggak penting, Lea. Aku dan Briliant memang pernah punya hubungan tapi nggak lama, kok. Dan aku sudah putus sama dia jauh sebelum kenal sama kamu.”
“Benar udah nggak ada hubungan? Bukannya aku Cuma pelampiasan aja?”
“Loh, kamu kok berpikir sejauh itu, Lea? Ada apa sebenarnya?”
Aku menceritakan kejadian Kak Briliant mendatangiku dan memintaku putus dengan Kak Frans. Aku tidak kuasa menyembunyikan wajah sedih dan perasaan marahku. Kak Frans mencoba menenangkanku tapi aku menepisnya. Aku kecewa karena dia tidak pernah menceritakan tentang mantannya itu.
Seminggu sudah aku mendiamkan Kak Frans. Chat ‘selamat pagi’, ‘lagi ngapain’ darinya tidak pernah kugubris. Ditambah, Kak Briliant yang sering menerorku melalui whatsapp. Kali ini dia bukan mengancam ataupun marah. Dia justru menceritakan tentang bagaimana manisnya hubungannya dengan Kak Frans dulu. Mereka sangat dekat sering belajar bersama. Mereka juga sering pergi ke perpustakaan bersama. Hal ini membuatku semakin sakit hati dan ingin marah. Aku tidak tahan diperlakukan seperti ini. Kak Frans tetap diam dan tidak mau menceritakan sedikit pun tentang Kak Briliant atau bagaimana mereka bisa putus. Sementara Kak Briliant terus memanasiku dan lama-kelamaan memohon aku untuk memutuskan Kak Frans agar mereka bisa bersama kembali. Karena menurut Kak Briliant, Kak Frans masih menyimpan rasa kepadanya.
Akhirnya aku memutuskan untuk menemui Kak Frans dan meminta penjelasan untuk terakhir kalinya. “Kak, aku Cuma minta Kak Frans jujur. Sebenarnya Kak Frans masih ada rasa, kan sama Kak Briliant?”
“Milea, aku sudah putus sama Briliant? Dia itu masa laluku.”
“Terus kenapa kalian bisa putus? Padahal, Lea dengar hubungan kalian dekat banget dan serius. Romantis pula.”
“Lea, semanis apa pun hubungan kalau akhirnya dikhianati akan jadi kenangan terburuk, kan?”
Aku tetap diam. Tidak menjawab atau pun memandangnya. Aku memikirkan kata-kata terakhirnya. Kemudian dia melanjutkan, “Briliant itu gadis yang baik, tapi dia berubah jadi kurang baik karena diam-diam dia menduakan aku.”
*****

Jadi putusnya Kak Frans dan Kak Briliant karena orang ketiga. Aku lega karena setelah hari itu, Kak Frans menceritakan segalanya padaku. Aku menyesal karena telah marah sama dia. Ternyata, Kak Frans benar-benar sudah menghapus mantanya dari hatinya. Aku juga lega Kak Briliant sudah berhenti menerorku sejak aku dan Kak Frans kembali bersama.
Suatu hari kelasku kedatangan siswa baru pindahan dari Semarang. Saat awal dia masuk kelasku, aku sudah tidak asing dengan wajahnya. Seperti seseorang yang pernah kukenal. “Perkenalkan, Nama saya Gilang Aditya, saya pindahan dari Semarang.” Katanya dengan nada medhok Jawa kental. Ternyata benar, itu Gilang teman kecilku.
Sungguh kebetulan yang luar biasa. Gilang teman kecilku sekarang jadi teman sekelasku. Kami berteman sejak masih umur tiga tahun, kemudian dia pindah ke rumah neneknya di Semarang. Dan baru kembali lagi ke sini sekarang. Entah kenapa, aku senang sekali dia kembali. Dia juga tinggal di dekat rumahku. Jadi sekarang kami bisa main bareng lagi.
“Aku senang kamu masih di sini, Lea. Aku rindu banget pengin manjat pohon manga bareng lagi, hehehe.” Katanya dengan logat Jawa.
“Iya, Lang. Aku juga senang kamu balik lagi ke sini. Jadi bisa bercanda sampai gila lagi deh.hahaha”
Aku dan Gilang sering belajar kelompok. Tapi kalau sama Gilang aku paling tidak bisa menahan tawa, karena dia orangnya suka bercanda dan logat jawanya yang kental setiap bicara sering membuat perutku sakit karena tertawa terlalu lama. Jadi kami belajar sambil ngobrol asyik, sama persis seperti dulu waktu kecil.
******
“Kamu ada hubungan apa dengan Gilang?” tanya Kak Fransisco.
“Nggak ada hubungan apa-apa, kok. Gilang itu teman kecilku, kak. Kami tetanggaan. Dulu tuh dia sama aku sering main bareng. Gilang itu anaknya lucu banget, kak. Gaya bicaranya yang medhok apalagi, selalu buat aku ketawa, aku senang banget dia ada di sini lagi. Kami jadi bisa belajar dan main bareng, hahahah”
Kak Frans terdiam dan memandangku. Aku juga kaget dengan apa yang barusan kuucapkan. Aku tanpa sadar mengatakan semua itu dengan enteng dan tertawa. Kak Frans berdiri dan meninggalkanku di bangku depan sekolah. Aku mencoba mengikutinya dan meminta maaf, aku ingin menjelaskan bahwa aku tidak memiliki hubungan apa pun selain berteman dengan Gilang.
“Jadi, apa yang kamu lakukan sekarang ini, Lea? Ini namanya apa? Kamu pernah marah karena aku nggak pernah cerita tentang Briliant. Tapi sekarang, kamu nggak pernah sedikit pun cerita ke aku tentang Gilang, yang udah beberapa minggu ini main bareng kamu, belajar bareng kamu, dan tertawa sama kamu.”
“Kak, maaf, bukan itu maksudku… kami kerja kelompok, kak, ada anak-anak lain juga kok. Dan aku nggak ada hubungan spesial sama Gilang.”
“Ucapan pertama kamu tentang Gilang tadi adalah yang paling jujur, Lea. Aku percaya sama kamu. Dan aku percaya, kamu benar-benar bahagia sekarang.”
Kak Frans meninggalkanku di tepi jalan. Aku berlari pulang dan menangis. Kak Frans benar, aku sudah kelewatan tentang Gilang. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu atau mengatakan hal itu. Tapi sekarang aku juga bingung, karena aku merasa aku bahagia saat bersama Gilang, tapi aku tidak ingin kehilangan Kak Frans.
*****

Dua tahun kemudian.
Aku sangat gembira diterima di SMA favorit di daerahku. Nilaiku memuaskan dan aku masuk peringkat 10 besar. Percaya atau tidak, aku satu sekolah lagi dengan Kak Frans. Dan dia menjadi pendamping OSIS. Tapi kali ini tidak untuk kelasku. Tanpa kusadari, mataku terus mengikutinya kemana pun dia pergi. Maklum, aku terlampau rindu. Sejak kami bertengkar di tepi jalan saat itu, Kak Frans menjaga jarak denganku, dan kami tidak pernah bicara lagi. Aku hanya bisa melihat status whatsappnya tanpa berani membalas. Dia pun hanya melihat status whatsappku. Meski begitu, rasanya dia seperti ada untukku.
Sementara hubunganku dengan Gilang, kami masih dekat, dan berkali-kali Gilang menyatakan cintanya. Tapi aku tidak bisa menerima karena aku sudah nyaman di zona berteman dengannya. Aku sendiri selama dua tahun terakhir. Aku tidak bisa melupakan Kak Fransisco.
Suatu hari setelah masa pengenalan siswa, aku duduk di bangku depan sekolah menunggu jemputan. Tiba-tiba ada seorang cowok dengan motor dan memakai helm berhenti di depanku, “Mau pulang?”
Mataku terbelalak kaget melihat cowok itu saat membuka kaca helmnya, Kak Fransisco!
“Ehh, iya, kak. Mama belum jemput, nih.”
“Bareng aku aja, yuk!”
Mukaku merah merona. “Ayolah, Lea. Aku tahu kok alamat rumah kamu. Tenang aja, nggak bakal kesasar. Haha”
Kak Frans jadi lebih humoris. Selama di jalan kami ngobrol. Meski awalnya agak canggung, tapi aku merasa nyaman banget. Aku bercerita tentang sulitnya Ujian Nasional dan bagaimana usahaku belajar mati-matian. Sesampainya di depan rumah, Kak Frans bicara padaku lebih serius lagi,
“Selamat, ya, Lea. Kamu berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan. Aku bersyukur banget kita satu sekolah lagi. Aku rindu sama kamu, Lea.”
“Lea juga rindu sama Kak Frans. Rinduuu banget.”
“Selama ini aku jaga jarak sama kamu, dan aku belajar memperbaiki sifatku. Maafkan aku, Lea sayang.”
“Mm..maksudnya, Kak? Jadi kita selama ini…?”
“Iya, kita nggak pernah putus. Aku nggak pernah dan nggak akan pernah putusin kamu. Aku selalu percaya sama kamu.”
“Tapi Lea kan sudah nyakitin Kak Frans karena salah paham dengan Gilang. …”
“Iya aku ngerti, kok. Tapi meski gitu, aku selalu percaya, bahwa kamu nggak akan menduakan aku. Aku saat itu malu sama diriku sendiri, Lea. Aku nggak bisa buat kamu tertawa lepas seperti saat kamu bersama Gilang. Jadi aku berusaha memperbaiki diri.”
Aku tanpa sadar meneteskan air mata.
“Aku selalu percaya yang terbaik adalah bahwa kamu bahagia. Dan kalaupun saat itu kamu mau jadian sama Gilang, aku nggak akan marah. Tapi di sisi lain, aku percaya, sayang kamu ke aku itu tulus. Dan ternyata benar, kamu masih sendiri sampai sekarang.”
“Berarti…kita masih punya hubungan?”
“Selalu, Lea. Karena kita saling percaya.”
Tamat

Rasa yang Terpendam
Oleh: Dita Eka Anggraeni

Namaku Dania. Aku kini duduk di kelas IX SMPN 1 Siliragung. Banyak yang bilang, aku tipe orang pendiam. Aku tidak pernah bercerita atau mengumbar masalah pribadiku, bahkan pada teman terdekatku. Saat ini aku sedang menyukai seseorang. Dia adalah anak terkeren di kelasku, Aldo namanya. Banyak yang mengaguminya karena penampilannya. Tapi Aldo sangat cuek dan memilih diam daripada menanggapi cewek-cewek yang sering mencoba mencuri perhatiannya.
Sebenarnya, aku berusaha menepis perasaanku karena Aldo pasti juga cuek padaku. Lagipula aku juga tidak akan bisa berbuat banyak karena aku tidak suka bercerita tentang masalah percintaanku pada orang lain. Jadi, selama ini aku memendam rasa padanya. Sejak kami satu kelas di kelas VIII.
Suatu hari saat pulang sekolah, aku berniat untuk menceritakan hal ini pada teman dekatku, Salsabila. Karena aku sudah tidak tahan lagi menyembunyikan perasaan ini.
“Sal, aku ingin cerita, nih. Tapi kamu harus janji jangan bilang siapa-siapa, ya soal ini…”
Pintaku pada Salsabila.
“Aduh, Dan. Kamu mau cerita apa, sih memangnya?”
“Udah, deh janji dulu kamu nggak akan ngomong sama siapa pun.”
“Iya, deh. Aku janji.”
“Jadi, selama ini aku sebenarnya memendam rasa sama Aldo…sejak kita kelas 8, Sal.”
“What?? Nggak salah dengar aku, nih???” ucap Salsabila terkejut.
“Tapi bener, ya Sal, janga bilang siapa pun.”
“Iya, Dan. Aku janji, Dania cantik… sejak kelas 8? Lama banget, Dan.”
“Aku juga nggak tau kenapa bisa punya rasa sama si Aldo.”
“Kan emang perasaan itu ajaib. Nggak bisa direncanakan kita mau suka sama siapa dan kapan.”
Sejak saat itu aku merasa sangat lega. Bercerita pada teman memang membuat hati kita jadi lega. Walau aku belum cerita terlalu banyak, tapi setidaknya rasa yang selama ini kusembunyikan kini sedikit kubuka.
****

Hari-hariku di sekolah kini jadi lebih berwarna. Aku cerita ke Salsabila tentang bagaimana biasanya aku mengamati Aldo sembunyi-sembunyi. Tapi Salsabila memberitahuku sebuah gosip bahwa Nesya, teman sekelasnya dulu di kelas 8 juga menyukai Aldo. Dan dia juga seorang gadis pendiam sepertiku. Memang itu tidak mengejutkanku, karena kau yakin pasti banyak cewek yang naksir Aldo. Tapi aku juga khawatir kalau Aldo akhirnya memiliki seseorang di hatinya.
Aku pun mulai berpikir, mengapa aku harus mencintai seseorang yang bahkan tidak menyukaiku? Bertemu saja seperti orang asing. Kami tidak pernah bertegur sapa meski telah satu kelas sejak dua tahun terakhir ini. Entah aku yang terlalu pendiam, atau Aldo yang terlampau cuek. Tapi memang begitulah adanya. Kami tidak pernah bicara.
Suatu ketika, Aldo tiba-tiba mengirim pesan whatsapp padaku. Aku pun terkejut dan merasa canggung karena dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Dia menyapaku, “Hai, Dania!”
Beberapa kali aku mengetik tapi kuhapus lagi. Aku gugup. Hingga 2 menit barulah kubalas, “Hai, Do!”
Langsung dibacanya dan dia pun mengetik lagi, “Kamu sedang belajar, ya?”
“Enggak, lagi santai abis makan malam”
“Oh, makan malam sama apa, Dan?”
“Sayur lodeh, Do”
“Ohh…enak donk”
“Iya, lah. Masakan ibuku juara deh.”
Percakapan kami mengalir begitu saja. Seperti kami telah mengenal satu sama lain. Memang sebenarnya iya, tapi kami belum pernah sedetik pun bicara. Aku dan Aldo terus ngobrol di whatsapp. Kami mambicarakan tentang beberapa tugas sekolah yang akhir-akhir ini banyak sekali. Hanya basa basi, tapi sangat berkesan untukku.
****

Sejak percakapan kami di whatsapp saat itu, Aldo kini sering basa-basi menyapaku di kelas. Entah itu hanya sekedar meminjam alat tulis, atau bertanya beberapa soal pelajaran. Tapi seperti biasa, dia lebih banyak cuek. Dan hanya bicara seperlunya. Awalnya aku merasa gugup dan malu, apalagi, Salsabila selalu menggodaku tentang Aldo. Tapi aku tetap bersikap biasa karena takut anak-anak lain akan mengetahui hal ini.
Aku dan Salsabila pergi ke kantin dan makan berdua. Seperti biasa, kami bergosip tentang Aldo, tapi kali ini ada yang membuatku terkejut.
“Aku dengar Nesya juga ngobrol sama Aldo di whatsapp, lo Dan.” Katanya sambil mencondongkan tubuh ke arahku.
“Masa, sih?”
“Iya, aku dengar dari Rita, katanya dia pernah mergokin Nesya lagi chatting sama Aldo saat mereka pulang kursus malam.”
Aku terdiam. Kuaduk-aduk Mie Ayamku. Perasaanku tidak tenang. Entah kenapa aku merasa cemburu dan marah. Tapi aku berusaha menyembunyikannya dari Salsabila. Lagipula, kenapa aku mesti cemburu? Aldo kan bukan siapa-siapaku. Aku hanya beberapa kali chatting dengan dia, sementara Nesya mungkin lebih sering.
****

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku bergegas keluar kelas. Aku berjalan santai di antara kerumunan anak-anak yang menuju gerbang sekolah. Aku kini berusaha melupakan rasa sukaku pada Aldo. Beberapa hari ini kami memang sering chatting, dan dia menunjukkan sikap seperti menyukaiku. Tapi setiap kali aku ingat cerita Salsabila tentang Nesya, aku merasa sakit hati, dan takut berharap lebih ke Aldo.
Tiba-tiba tanpa sengaja aku mendengar Bayu, teman sebangku Aldo berjalan mendahuluiku sambil berkata, “Cie, gebetan Aldo. Dia suka lo sama kamu, ssstt.” Katanya sambil menyenggol pundakku dan berlalu. Aku bingung apa maksudnya tadi. Gebetan? Aldo suka sama aku? Rasanya seperti mimpi, pikirku. Lagipula itu kan Bayu yang bicara, bukan Aldo langsung.
Berhari-hari aku diliputi rasa penasaran, bimbang, senang, dan bingung. Apakah benar Aldo suka padaku? Dari apa yang dilakukannya akhir-akhir ini, obrolan whatsapp yang hampir setiap malam, dan yang dikatakan Bayu tempo hari, semua itu memang seperti nyata. Tapi, sampai detik ini, Aldo belum pernah menyatakan perasaan apa-apa padaku.
“Mungkin dia juga lagi bimbang, Dan. Atau nggak percaya diri buat ungkapin perasaannya ke kamu. Cowok tuh sebenarnya juga pemalu kayak kita kalau soal cinta,” kata Salsabila.
“Atau mungkin dia sebenarnya dekat juga sama si Nesya.”
“Bisa jadi. Tapi kalau menurutku, kayaknya dia lebih perhatian ke kamu. Buktinya dia sekarang sering basa-basi ke kamu kan di kelas… yahh, walaupun masih tetap cuek bebek…kwek kwekk..”
“Hahaha, bisa aja, kamu. Nggak tau, ah, Sal. Aku bingung sama hubungan kaya gini. Perasaan yang sama-sama terpendam nggak akan bikin lega kalau nggak ada yang mau mulai bicara serius.”
****

Akhirnya, Ujian Nasional pun usai. Jantungku berdebar menunggu hasil Ujian Nasional diumumkan. Aku juga khawatir tentang SMA. Hari-hari terakhir di sekolah kami isi dengan ngobrol, dan foto-foto bersama satu kelas. Aku beberapa kali mencuri pandang ke Aldo, yang telah berbulan-bulan dekat denganku tapi tak kunjung memberi kejelasan. Aku berpikir untuk melupakannya saja. Toh, setelah ini kami mungkin tidak akan satu sekolah lagi.
“Hai, Dan. Gimana, kamu jadi sekolah SMA di daerah sini, kan?” tanya Aldo yang tiba-tiba muncul di depanku.
“Belum tau, Do. Ibuku sih penginnya aku sekolah di luar daerah. Tapi semua terserah aku. Kamu gimana?”
“Belum tau juga.”
Kami sama-sama diam.

Hari pelepasan siswa kelas IX pun tiba. Aku lega mendapat nilai memuaskan di Ujian Nasional. Aku bisa melanjutkan sekolah ke SMA favorit. Aku senang dan bersyukur. Akhirnya, usahaku belajar selama ini berhasil. Sedih rasanya meninggalkan SMP tercinta ini. Terutama, teman-teman yang selama ini selalu kompak dan asyik. Aku berharap, di SMA nanti aku juga akan mendapat teman-teman yang baik seperti mereka.
Setelah acara selesai, kami semua berfoto bersama. Aku dan Salsabila sangat terharu dengan suasana perpisahan ini. Kami meneteskan air mata saat bersalaman dengan bapak/ibu guru. Aku berpelukan dengan Salsabila. Tiba-tiba Aldo menepuk pundakku, “Hai, Dan! Hai, Sal, sorry, bisa pinjam Dania bentar, nggak? Aku ada perlu mau ngomong.”
“Iya, Aldo boleh bawa aja.” Ucap Salsabila sambil mencubit tanganku.
Aku dan Aldo berjalan menuju belakang panggung acara. Dia mengeluarkan sebuah kotak dan memberikannya padaku.
“Apa ini, Do?” tanyaku yang terkejut dengan kotak itu.
“Dania, sebenarnya selama ini aku pengin banget ngomong jujur sama kamu.”
“Ngomong apa?”
“Aku suka sama kamu, Dan.”
Aku terdiam. Perasaanku campur aduk. Senang, kecewa, dan marah. Kenapa dia tidak bilang sejak awal. Kenapa harus di hari perpisahan sekolah?
“Aku nggak pernah punya keberanian buat nyatain langsung ke kamu, Dan. Maafin aku. Aku takut kalau kamu akan menolakku atau kamu udah punya seseorang lain di hati kamu. Tapi aku benar- benar suka sama kamu dan memendam perasaan ini berbulan-bulan.”
“Harusnya kamu ngomong sejak awal, Do. Maksud kamu apa ngomong semua ini di hari perpisahan sekolah? Saat semuanya sudah berakhir.”
“Maaf, Dania. Aku memang pengecut. Tapi aku senang banget bisa dekat sama kamu selama ini. Kamu itu motivasiku.”
“Aldoo….” Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Menyesali hari-hari yang telah kami lalui tanpa ada yang menyatakan perasaan satu sama lain. “Seharusnya kamu bicara sejak dulu….”

Dalam kotak itu berisi sebuah boneka Mickey Mouse mungil dengan tulisan “I Love You” di bagian depan. Dan secarik kertas memo bertuliskan, “Maafkan aku, Dania. Aku sayang sama kamu, dan aku harap kamu selalu bahagia. Love, Aldo.” Aku benar-benar berharap Aldo belajar dari semua ini. Begitu juga aku. Bahwa perasaan yang terpendam itu akan tetap terpendam jika tidak ada yang mau mengungkapkan.