Auman Hati

Auman Hati 1:

Setiap kali melakukan kesalahan, aku berpikir ‘bagaimana bisa aku melakukannya? Sengaja, kah?’

Sejak kecil, orangtuaku mengajarkan untuk melakukan segala sesuatu dengan niat yang benar. Menurut mereka, dengan terus mengingat niat tersebut, aku bisa lebih hati-hati dan sungguh-sungguh. Juga, mengurangi resiko melakukan kesalahan.

Seiring bertambahnya usia, aktivitas yang kulakukan pun meningkat (kuantitas dan kualitasnya). Di rumah, di sekolah, dan selalu menyita waktu santaiku. Aku pernah komplain kenapa banyak sekali tugas yang harus kulakukan. Namun, ibuku bilang,”semakin banyak tugas yang kau kerjakan, semakin banyak kau belajar”

Aku egois dan masih menggerutu, “Tapi aku sering melakukan kesalahan, bu. Dan aku harus menyediakan waktu tambahan untuk memperbaikinya”

“Nah, itu yang paling berharga. Hasil pekerjaanmu tidak akan sebaik setelah kamu melakukan kesalahan dan kemudian memperbaikinya, sayang.”

Sudah barang tentu bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa. Maklum adanya, asalkan hal itu tidak selalu dijadikan alasan. Kata bung Rhoma Irama:

Orang yang baik bukan yang tidak pernah melakukan kesalahan

Tapi menyadari kesalahannya

Dan memperbaikinya

Cukup satu kali kehilangan tongkat

Cukup satu kali

 Jangan dua kali bersalah yang sama

Jangan dua kali

Tak seorang pun dalam dunia  yang tak pernah berdosa

Karena sudah kodrat manusia

Tempatnya salah dan lupa

Tak seorang pun dalam dunia

Yang tak pernah berdosa

Karena sudah kodrat manusia

Tempatnya salah dan lupa

(Tapi kalau selalu salah) itu sih bukan lupa

(Tapu kalau selalu lupa) itu sih disengaja

 

-Kehilangan Tongkat, Rhoma Irama-

 

Saat mulai mengerjakan tugas, sesungguhnya aku telah berakad ‘berani mengambil resiko dan menghadapi segala kemungkinan’. Kemungkinan berhasil adalah harapan. Sedangkan kemungkinan gagal adalah mimpi buruk. Dan keduanya adalah kepastian. Jadi, aku harus mengerti dan berhati-hati sejak awal. Ingat kembali pada niat kenapa aku mengerjakan tugas itu, untuk apa, dan untuk siapa sejatinya.

Setiap kali berhasil, pujian dan sorak sorai dari hati dan orang-orang sekitar menjadi petasan meriah yang tunggu-tunggu. Memang itu yang membuat gembira. Pencapaian hasil yang maksimal dan sempurna membuahkan kepuasan luar biasa. Tapi, saat gagal, aku merasa sebagai orang paling tersakiti di dunia ini. Apalagi, jika kegagalan itu adalah akibat dari kesalahanku sendiri. Dan, akan lebih menyakitkan bila ditanya kenapa aku bisa melakukannya. Otakku pasti akan berputar ke belakang dan mencari alasan yang sesungguhnya. Perlukah aku berbohong tentang alasan penyebabnya? Tidak! Tidak akan pernah perlu!

Guru bahasa Inggrisku di SMP pernah berkata, “Terdapat ribuan alasan di tong sampah! Tapi hanya ada satu yang benar. Ingat, hanya satu!” perhatianku lantas terpaku pada kata “di tong sampah” dan “hanya satu”.

Tong sampah, itukah tempat yang tepat bagi ‘alasan’? Perlu beberapa waktu untukku menerjemahkannya. Tong sampah adalah tempat bagi barang-barang yang sudah tidak berguna. Ribuan, bahkan puluhan ribu sampah dibuang setiap harinya oleh manusia (yang sebenarnya juga penghasil ribuan sampah tersebut). Dengan kata lain, aku sebenarnya sangat berpotensi untuk menjadi alasan kegagalan tersebut. Alasan yang sudah tidak ada gunanya karena terkikis waktu dan ruang sehingga melahirkan kenyataan.

Masih segar ingatanku saat gagal di beberapa perlombaan. Selalu saja aku gagal pada detik terakhir, pencapaian juara. Padahal, telah sangat keras upaya dan latihan yang kulakukan. Mental dan tekadku pun besar. Parahnya, itu pun sering terjadi ketika semua orang telah berharap besar kepadaku. Seakan aku menciut setelahnya. Ketika mereka bertanya, “Kenapa bisa gagal?” Aku bertekad untuk tidak menjawab, “Memang bukan rezeki. Belum saatnya mungkin” Haha, itulah salah satu sampah tidak berguna di tong sampah alasan tadi. Alibi untuk menutupi kenyataan. Karena yang sebenarnya adalah aku gagal karena kesalahanku sendiri.

Tidak perlu malu jika orang tertawa sinis saat aku melakukan kesalahan. Jika mereka marah, itu wajar. Terlebih, jika aku salah dalam mengemban tugas yang mereka percayakan. Namun, aku tidak akan pernah belajar jika tidak pernah melakukan kesalahan. Seperti salah satu cerita dari episode 17th ku:

Aku belajar banyak dari setiap kegagalan akibat kebodohan dan kecerobohan. Dalam merintis Kupu-Kupu Buku Wilda, aku dibantu oleh seorang yang sangat berarti, Batman. Dialah yang pontang-panting mencarikan buku dan membuat semua impianku menjadi nyata. Dia selalu ada untukku, kapan pun. Kami berusaha keras berbulan-bulan mewujudkan sebuah perpustakaan mini.

Aku dan Batman bekerja sama dan kami berhasil mengumpulkan buku-buku. Lebih dari kerja sama, kami belajar bagaimana memulai sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Dan bagiku, ribuan peluh dan pikiran tercurah untuk belajar, dari pekerjaan ini, dan tentu saja, darinya. Seorang yang begitu maklum dan mampu menyeimbangiku, tak pernah mengeluh atas setiap kegagalan atas kesalahanku.

Bilamana dia bukan Batman, mugnkin tak akan pernah ada Kupu-Kupu Buku Wilda. Dan aku, tak akan pernah belajar.

 

Yang menyadari entah itu salah, baik, buruk, gagal, atau berhasil adalah satu organ, hati. Ia bahkan satu-satunya yang sebenarnya tahu apakah itu karena kesalahanku sendiri. Jadi, hatilah yang bisa melihat satu-satunya sampah yang masih berguna di tong pembuangan. Satu alasan benar. Satu-satunya. Tidak usah mencoba mengelak dan menutupi, karena menyodorkan sebuah sampah bau, kotor, menjijikan, juga bukanlah ide yang bagus. Walau disemprot parfum berliter-liter, lama kelamaan bau aslinya akan tercium juga.

Ketika akan mengelak, hati seseorang pasti akan mengaum yang sebenarnya. Kebenaran. Yang sebenarnya, dan satu-satunya.

Pohon yang Meneduhkan

Malam itu aku menyadari satu hal, yang tampaknya telah kuabaikan beberapa saat lamanya.
Kami jalan-jalan seharian penuh. Menyusuri jalanan kota apel yang sejuk. Berkunjung ke beberapa tempat hebat. Bukan untuk senang-senang, tapi untuk berjuang, untuk rencana dan misi hebat kami. Kucoba sekuat tenaga menahan perutku yang sakit melilit. Melihatnya senang saat itu sungguh membuatku lega dan lupa sejenak akan efek datang bulanku. Tak terasa aku telah terbiasa berjalan dengannya. Walaupun orang-orang selalu memandangi kami dengan tatapan bervariasi, aku cuek dan mengabaikan mereka. Barangkali mereka heran bagaimana orang sepertiku bisa berjalan dengannya. (ouh, sudahlah! Tidak usah pusing memikirkannya. Apa pun bisa terjadi di dunia ini).
Malamnya, ia kecapekan hingga lupa mandi dan langsung menuju kamarnya di pojok. Pintu kamarnya terbuka sehingga aku dapat menyaksikannya terlentang. Kuamati lekuk wajahnya. Matanya terpejam rapat denga bulu mata yang lentik (yang kusuka). Tubuhnya berbaring lurus. Dada bidangnya kembang-kempis. Ia begitu pulas. Sesekali mulutnya menganga dan itu membuatku tersenyum geli. Tak kusangka orang ini telah mewarnai lembaranku yang ke tujuh belas. Ia berbeda dengan orang-orang yang biasa kutemui. Namun, tak pernah kuperhatikan perbedaan itu. Bagiku, ia beda karena spesial. Belum pernah terpikir di batok kepalaku akan hal semacam ini. Bahwa inilah yang terjadi; kehadirannya yang meneduhkan bagiku. Rupanya Tuhan telah mengatur takdir ini. Dua cabang yang bertemu di satu dahan.
Sembari memandanginya terlelap, pikiranku melanglang buana. Memoriku berputar balik arah ke hari-hariku bersamanya. Tak terasa telah lama. Rasanya baru kemarin kulihatnya duduk di mushola sekolahku. Ada banyak kenangan yang kami lalui. Dan ada banyak pelajaran yang kupetik darinya (pelajaran yang belum tentu dapat kupetik dari orang yang beda).
Kakiku sempat tertahan untuk melangkah sejak pertama kali aku berada di ‘tempat’ ini. Pikiranku tertawan. Tubuhku mengerang seketika. Hatiku perih merintih. Dan mataku terasa pedih tiap kali kulihat bengunan-bangunan ini beserta seluruh perabotannya. Serta mulutku, tentu saja, harus selalu berusaha menyangkal bahwa aku sebenarnya tersiksa. Akan tetapi, semua itu tak bertahan lama. Di saat yang sama aku mendapati orang sepertinya ada di dekatku. Semakin lama ia semakin dekat. Menuntunku perlahan melangkahkan kakiku yang telah lemas, keram, dan tak berdaya ini untuk memulai sebuah pijakan kuat. Sebuah pijakan yang butuh waktu lama untuk mempersiapkannya.
Akhirnya aku melangkah juga. Berkat dukungannya (dukungan dalam segala hal). Sungguh bahagianya aku, bertemu dengannya di saat aku penasaran akan diriku sendiri; tentang siapa aku. Sikapnya yang terkadang membuat orang jengkel karena sering ‘aneh’ atau lebih tepatnya orang jawa bilang ‘ngawur’, tak membuatku jera bicara dengannya. Kurasa itu tidak terlalu penting. Toh, aku juga bisa menyangkal ( walau itu berarti kami harus berdebat). Tapi akhirnya aku yang selalu mengalah. Dalam arti sebenarnya ‘menang’. Kulakukan itu karena ia sangat penting.
Aku masih betah memandanginya tidur. Kuamati dari ujung kakinya yang berselaput kaos kaki hitam (yang jika kaos kaki itu dibuka, terlihatlah warna kulit kakinya yang amat putih hingga juluran nadinya terlihat) hingga kepalanya yang seperti sunshine. Barulah aku sadar, walau apapun jua yang telah dilakukannya, ia tak lebih hanyalah seorang manusia. Dia bukan jelmaan setan dan bukan juga malaikat. Hanya manusia yang secara fisik jauh lebih tinggi dan berat badannya dua kali lipat dariku. Seperti pohon yang meneduhkan.
“Terima kasihku untukmu tak kan pernah cukup hanya dengan ungkapan. Entah apa yang bisa kukembalikan agar semua setimpal. Kurasa, hanya Tuhan yang berhak membalas.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s