0

STOP BODY SHAMING!!

Dasar tulisan ini adalah pengalaman pribadi saya. Namun, mungkin ini juga bisa dialami siapa pun. So, try to read it carefully, gaissss…


BODY SHAMING ternyata tidak hanya terjadi pada orang gemuk, tapi juga yang berbadan kurus. Penilaian setiap orang itu relatif alias tidak selalu sama. Jadi kita sebenarnya tidak bisa menentukan ukuran gemuk atau kurusnya seseorang secara pasti. Walaupun memang ada ukuran “tubuh ideal”.
“Duhh, kamu kok kurusan, sih? Lagi banyak masalah, ya?”
“Ini pasti punya tekanan batin sampai kurus banget badannya”
“Kurus krempeng kayak ikan teri, gak seger blassss (sama sekali)”
Dan masih banyak lagi lainnya yang lebih pedas dari keripik balado.


Kurang lebih seperti itulah yang kerap mampir di telinga saya sebagai salah satu orang dengan bb 41kg. (Tidak bisa bayangkan gimana yang bb nya jauh di bawah saya). Parahnya, yang mengatakan itu menganggap ucapannya hanyalah candaan. Dan kerap dilontarkan dalam suasana bercanda. Akan tetapi, setiap otak manusia punya cara berbeda dalam memproses informasi, karena manusia punya hati yang tingkat sensitivitasnya tidak sama. Jadi, bisa saja candaan itu justru menyinggung orang tersebut dan bisa dikategorikan sebagai bullying.


Beberapa waktu lalu, saya sempat tak sengaja bertemu kenalan lama. Namun dalam pertemuan singkat itu orang tersebut malah langsung menyorot penampilan saya yang terlihat kurus. Walaupun saya tahu beliau tidak ada niat untuk membuli sama sekali, tapi tetap saja, gara-gara satu kalimat “Kok kooourusss sekali kamu sekarang?” itu, orang di samping saya pun langsung menambahi, “Banyak tekanan batin dia, hahaha”. Saya terpaksa tersenyum kecut sambil coba menyangkal. Karena memang hal itu tidak benar. Saya tidak sedang tertekan. Everything is fine with my life.


Pernah juga ada orang yang mengira saya penyakitan (WHAT?!), lagi-lagi karena anggapan bahwa kurus adalah tanda hidup tak bahagia ataupun banyak masalah dan penyakit. Itu adalah anggapan terekstrim dan sangat mengganggu dan tidak sepatutnya dilontarkan sebagai candaan pada siapa pun. Herannya, masih banyak orang yang tidak menyadari candaan yang seperti itu dapat mengganggu orang lain, bahkan mengurangi kepercayaan dirinya.


Melalui tulisan singkat ini, saya harap bisa membuka hati para pembaca yang pernah mengalami atau justru melakukan body shamming baik sengaja atau tidak. Bahwa candaan yang bersifat bullying terhadap bentuk tubuh itu bukanlah hal yang baik, dan harus dihentikan. Kurus ataupun gemuk bukanlah ukuran untuk menilai susah/senangnya hidup seseorang. Juga bukan untuk bahan candaan yang berlebihan. Bentuk dan ukuran tubuh adalah hak pribadi masing-masing. Jikalau ingin memberi saran atau merasa penasaran, baiknya kita sampaikan dengan cara yang santun. So, stop body shamming! Karena tubuh adalah anugerah dari Tuhan yang harus kita jaga dan syukuri. ©️WildaJnh

0

Antalogi Cerpen Remaja Karya Alumni dan Murid KupuKupuBukuWilda

Masa remaja adalah yang terindah, tergokil, terseru, dan tak terlupakan. Masa di mana kita mulai mengenal berbagai hal baru yang belum pernah kita tahu. Banyak hal yang terjadi saat kita menjadi seorang remaja. Mendapat teman baru, bergaul dengan cara dan gaya baru, berkeinginan mencoba hal-hal baru, dan masih banyak lagi. Masalah percintaan adalah yang paling umum terjadi selama masa remaja. Walaupun ada juga remaja yang tidak pernah mengalaminya, namun sebagian besar dari kita pasti tahu apa itu arti “cinta monyet” atau cinta saat masa remaja. Itulah mengapa perihal percintaan remaja selalu digandrungi anak-anak yang mulai beranjak dewasa ini.

Dalam postingan kali ini, saya mempersembahkan beberapa cerpen karya murid-murid saya yang bertemakan percintaan anak remaja masa kini. Enjoy reading it, yaa….

Sebuah Harapan
Oleh: Rafif Syahrin Wibowo

Sejak aku naik kelas sembilan. Aku sering melihat gadis itu dengan tatapan mata yang tidak aku sangka, saat aku melihat gadis itu dia pun mengalihkan pandangannya. Rupanya dia sering curi-curi pandang kepadaku. Dari situlah, jantungku mulai berdebar. Keesokan harinya aku ingin menyapanya, namun mentalku belum kuat, dan aku berusaha untuk menanyainya namun juga belum bisa.
Aku bertanya pada dirku, kenapa malu? Kurang percaya diri? Ketika aku berjan aku punmelihat nya duduk dikursi koridor sendiri. Kesempatan, pikirku. Aku duduk di sampingnya, dan seketika aku bertanya, “Hai, nama kamu siapa?”
“Claudia” jawabnya simple, “Kamu siapa?” tanyanya.
“Namaku Rafael, ngomong-ngomong kenapa kamu sering lihat ku dengan tatapan yang tajam? Emang aku punya salah ya?” tanyaku dengan menahan debaran jantung.
“Nggak kok.” setelah itu dia pun pergi.
Keesokan harinya aku berangkat sekolah pagi-pagi karena ada bimbingan. Aku tidak sengaja bertemu dengannya di koridor, menyapanya namun dia cuek saja. Aku pun bertanya, “Kenapa kamu cuek? Ada masalah ya?”
“Nggak ada” jawabnya singkat.
“Ya udah kalau gitu aku mau masuk ke kelas dulan, ya.” Jawabku mencoba ramah. Dia tersenyum dan berlalu.
Saat pulang sekolah aku pun mendatangianya untuk meminta nomer whatsappnya, lalu aku bertanya tanya tentang hobi dan lain-lain. Ada perasaan tak terduga yang kurasakan. Perasaaan bahagia dan malu. Tapi aku terus mencoba ngobrol dengannya.
***
Malam harinya, aku mencoba menyapanya lewat whatsapp, “sedang apa, bos?”
“Tungguin masak Mie, nih.” jawabnya
Kemudian aku berpikir untuk mempertahankan percakapan.
“Kok makan mie?”
“Ya, pengin aja.” Balasnya singkat.
Aku terdiam sejenak. Kuputar otakku untuk menemukan kata-kata yang tepat membalasnya. Sepuluh menit berlalu. Aku masih memutar-mutar smartphoneku hingga tak terasa terlepas dan terjatuh. “Aduh! Untung tidak pecah.” kataku.
Segera kuambil smartphone ku dan meneruskan percakapan yang membuat jantungku berdebar itu.
“Gimana mie nya enak?”
“Enak dong Kamu mau?”
“Enggak, mie tu nggak sehat, dan kalau kamu mau sakit Cuma gara-gara makan mie, itu nggak lucu.” Jawabku konyol. Kami bercakap-cakap hingga pukul 21.30, dan tanpa terasa aku tertidur.
Pagi harinya, aku terbangun dan langsung mengecek smartphoneku. Kulihat pesan terakhirku dengannya, aku pun tersipu. Seperti ada sebuah harapan di benakku untuk berpapasan dengannya hari ini. Entah di Kopsis, perpustakaan, atau di pintu gerbang sekolah. Aku diam-diam memendam rasa yang belum pernah kupahami sebelumnya. Perasaan gembira, malu, dan khawatir. Semoga hari ini akan menjadi indah. Aku benar-benar menaruh harapan padanya.
Jam 06.30, aku sampai di sekolah. Kulangkahkan kakiku menuju gerbang. Sengaja aku berjalan santai sambil mataku mengembara, mencari keberadaan Claudya. Ternyata benar, dia ada di sana. Berjalan dengan menenteng tas punggung, dan mendekap beberapa buku paket. Aku mempercepat langkahku hingga sekitar dua meter di belakangnya. Jantungku berdebar tak karuan lagi. Mulutku menganga ingin menyapanya. Tapi jantungku berdebar semakin kencang. Hingga kami sampai di depan kelasnya, kuberanikan diri untuk menyapa, “Hai, Clau! Gimana, sarapan mie?”
Dia berbalik dan menatapku, “Oh, Hai, Raf! Haha, enggak lah. Kan mie itu nggak sehat.”
Aku menahan senyum. Kupertahan wajah santaiku sebisa mungkin. Tapi dia tidak berkata apa-apa lagi. Jadi kuputuskan terus berjalan ke kelasku. Sontak jantungku berdebar lebih teratur setelah menyapanya. Aku benar-benar merasa lega. Walau dalam hati sebenarnya aku masih ingin berbicara lebih dengannya. Tapi itu tidak mungkin. Pasti anak-anak lain akan menyoraki kami. Bisa kubayangkan betapa heboh nantinya.
Dua minggu berlalu. Hampir setiap malam kami chatting lewat whatsapp. Tiada hari tanpa harapan bertemu dengannya di sekolah. Claudya juga sepertinya meresponku dengan baik. Dari setiap balasannya, tersirat makna bahwa dia juga merasakan hal yang sama denganku. Hingga suatu malam, kuberanikan diri untuk bicara lebih serius dengannya (masih lewat whatsapp).
“Malam, Claudya. Lagi belajar?”
Tanda centang dobel pada percakapan kami masih berwarna abu-abu, dan itu artinya pesanku belum dibaca olehnya. Mungkin dia sedang belajar, pikirku. Aku menunggu balasannya sambil membaca buku IPA kelas 9, salah satu pelajaran kesukaanku. Namun, kutunggu hingga larut malam tak kungjung ada pesan darinya. Hanya ada pesan di grup teman-teman yang ramai. Aku gelisah, khawatir, dan itu membuatku semakin tidak sabar. Padahal, biasanya dia selalu langsung menjawab pesanku. Tapi, malam ini apa yang sebenarnya terjadi padanya. Aku memandangi layar ponselku hingga tertidur.
Keesokan harinya aku bangun pukul 05.00. Aku bergegas sholat kemudian mandi. Setelah itu, kuperiksa ponselku. Akhirnya! Dia membalas.
“Sorry, Raf. Aku semalam lagi sibuk bantuin ibu ngurus adikku yang baru lahir.”
Senyumku merekah. Dia membalasku. Walaupun sibuk mengurus kelahiran adiknya, dia tetap menyempatkan diri untuk membalas pesanku.
“Wah, punya adik baru,nih. Selamat,ya Mbak Claudya” balasku.
Tak lama kemudian ponselkuk bordering, “Haha, iya. Perempuan lagi. Seneng banget aku jadi punya teman dan nggak kesepian lagi.”
“Hmmm, jadi, selama ini kamu kesepian,ya?”
“Lumayan, sih. Maksudku, kan kalau punya adik aku bakal sibuk bantuin ngurus dia, dan nggak akan sempat balas pesan dari kamu, wekkkkk”
Aku tersipu. Dia memang lucu, dan menyenangkan. Kubalas dengan emoji cemberut. Dia membalas lagi, “Hahaha, marah,ya?”
“Ya, enggak, sih. Tapi beneran, kamu bakal sibuk? Aku donk yang ganti kesepian, huhuhuhu”
“Ummm, kita lihat aja nanti,ya. Pokoknya, nggak ganggu waktu belajar, dan waktu dengan keluarga, ok?”
Wow, yes! Pikirku, terlampau gembira. Ini berarti dia tidak keberatan untuk dekat denganku. Segera kubalas dengan emoji senyum tiga kali. “Ok, jangan khawatir, kita bakal tetap bisa bagi waktu”

Tentang Percaya
Oleh: Salsabilla Dhia Marchelia

Pagi yang cerah. Aku terbangun dari tidurku dan mandi. Kemudian aku bersiap untuk sekolah. Hari ini adalah perkenalan siswa-siswi baru di SMP. Aku masuk di kelas 7A dan didampingi kakak OSIS. Dari situ kami semua disuruh memperkenalkan diri.
Saat tiba girilanku, ada kakak OSIS yang bernama Fransisco bertanya kepadaku, “Siapa namamu, dik?”
“Milea Azahra,” ucapku.
“Rumah kamu di mana?”
“Jalan Mawar no.5, Kampung Durian” jawabku dengan malu. Aku tidak tahu kenapa Kak Fransisco hanya menanyaiku, bukan siswa yang lain.
Setelah MPLS berakhir, aku mempunyai teman baru di kelasku bernama Syifa. Dia sangat baik dan asyik sehingga kami berteman dekat. Kami duduk sebangku. Aku sering bercerita kepada Syifa, dan begitu juga sebaliknya, dia sering bercerita kepadaku. Setiap hari kami ngobrol hal-hal ringan, konyol, lucu, dan sering bertukar pikiran.
Sementara itu, seiring waktu aku mulai dekat dengan Kak Fransisco. Aku pun menyimpan rasa kepadanya. Dia adalah kakak kelas yang dikagumi oleh semua siswa dan terkenal akan ketegasannya. Aku sering ngobrol lewat whatsapp dengannya. Terkadang, saat bertemu di kantin atau menunggu jemputan saat pulang sekolah, kami juga sering ngobrol. Dan hal itulah yang membuatku semakin mengenalnya.
Tiga bulan sudah kedekatanku dengan Kak Fransisco. Dia pernah mengajakku berpacaran, namun aku menolak dengan alasan masih ingin fokus belajar. Walau sebenarnya aku ingin sekali berkata ‘mau’. Meski begitu, Kak Fransisco tidak pernah menyerah. Dia tetap berjuang untuk mendekatiku serius. Hingga suatu hari dia mengajakku bertemu di pantai. Saat itu, Kak Fransisco mulai bicara,
“Lea, aku ingin bicara serius denganmu”
Entah kenapa jantungku jadi berdebar lebih kencang, “Mm..mau bicara apa, kak?”
“Untuk yang ketiga kalinya, aku ingin mengungkapkan perasaanku kepada kamu, Lea. Aku sayang sama kamu dan aku ingin hubungan kita serius”
“Mm..maksudnya?”
“Maukah kamu jadi pacarku?”
Mukaku langsung merah, aku tersipu malu. Dalam hatiku berkecamuk antara menerima atau menolaknya. Tapi ini sudah tiga kali, dan aku juga sayang padanya. Akhirnya, kuputuskan untuk menerimanya. “Iya, kak. Aku mau.” Jawabku malu-malu.
Seketika Kak Fransisco melompat dan berteriak girang, “YESSSS!!!!”
****
Dua bulan sudah hubunganku dengan Kak Fransisco. Kami semakin dekat dan saling menyemangati untuk belajar lebih giat. Tak jarang kami belajar bersama. Berpacaran dengan Kak Fransisco tidak hanya membuatku bahagia, tapi juga sangat membantu motivasi belajarku. Kami ngobrol lewat whatsapp sesuai waktu luang saja. Saat tiba waktu belajar, kami saling mengingatkan.
Suatu pagi di kelas, seorang kakak kelas bernama Kak Briliant mendatangiku. “Ada yang namanya Milea?” katanya agak sinis.
“Saya, kak.” Jawabku.
“Kamu pacaran,ya sama Frans?”
“Iya, kak.”
“Hmm…mulai sekarang, jauhi Frans. Kalau kamu ingin bahagia!”
Sontak kalimat setengah memerintah itu membuatku kaget, “Memangnya kenapa saya harus putus sama Kak Frans?”
“Aduh, kamu, tuh, polos banget. Frans itu cuma jadikan kamu pelampiasan aja. Dia nggak serius sama kamu.”
Aku masih terdiam, sementara Kak Briliant pergi. Syifa berbisik padaku, “Dia tuh mantannya Kak Fransisco.” Aku kaget karena aku tidak pernah tahu tentang itu.
****

Setelah beberapa hari kejadian itu, aku jadi bimbang dengan hubungan bersama Kak Fransisco. Karena dia tidak pernah cerita padaku tentang mantannya yang bernama Kak Briliant itu. Padahal, kami pernah berjanji bahwa tidak ada rahasia di antara kami berdua. Beberapa hari aku menjaga jarak darinya. Dengan alasan akan ada ulangan Matematika. Hingga suatu hari Kak Fransisco mengajakku belajar bareng di rumah.
“Kamu kenapa, sih akhir-akhir ini agak cuek sama aku?”
“Enggak, kok”
“Aku bisa merasakannya. Ada apa, Lea? Jujur saja sama aku kalau ada yang ingin kamu sampaikan.”
“Seharusnya Kakak yang jujur sama Lea.”
“Maksudnya?”
“Kak Frans nggak pernah cerita tentang Kak Briliant. Padahal kan kita sudah janji tidak ada rahasia.”
Dia terdiam sejenak, “Aku nggak pernah cerita karena itu masa lalu yang nggak penting, Lea. Aku dan Briliant memang pernah punya hubungan tapi nggak lama, kok. Dan aku sudah putus sama dia jauh sebelum kenal sama kamu.”
“Benar udah nggak ada hubungan? Bukannya aku Cuma pelampiasan aja?”
“Loh, kamu kok berpikir sejauh itu, Lea? Ada apa sebenarnya?”
Aku menceritakan kejadian Kak Briliant mendatangiku dan memintaku putus dengan Kak Frans. Aku tidak kuasa menyembunyikan wajah sedih dan perasaan marahku. Kak Frans mencoba menenangkanku tapi aku menepisnya. Aku kecewa karena dia tidak pernah menceritakan tentang mantannya itu.
Seminggu sudah aku mendiamkan Kak Frans. Chat ‘selamat pagi’, ‘lagi ngapain’ darinya tidak pernah kugubris. Ditambah, Kak Briliant yang sering menerorku melalui whatsapp. Kali ini dia bukan mengancam ataupun marah. Dia justru menceritakan tentang bagaimana manisnya hubungannya dengan Kak Frans dulu. Mereka sangat dekat sering belajar bersama. Mereka juga sering pergi ke perpustakaan bersama. Hal ini membuatku semakin sakit hati dan ingin marah. Aku tidak tahan diperlakukan seperti ini. Kak Frans tetap diam dan tidak mau menceritakan sedikit pun tentang Kak Briliant atau bagaimana mereka bisa putus. Sementara Kak Briliant terus memanasiku dan lama-kelamaan memohon aku untuk memutuskan Kak Frans agar mereka bisa bersama kembali. Karena menurut Kak Briliant, Kak Frans masih menyimpan rasa kepadanya.
Akhirnya aku memutuskan untuk menemui Kak Frans dan meminta penjelasan untuk terakhir kalinya. “Kak, aku Cuma minta Kak Frans jujur. Sebenarnya Kak Frans masih ada rasa, kan sama Kak Briliant?”
“Milea, aku sudah putus sama Briliant? Dia itu masa laluku.”
“Terus kenapa kalian bisa putus? Padahal, Lea dengar hubungan kalian dekat banget dan serius. Romantis pula.”
“Lea, semanis apa pun hubungan kalau akhirnya dikhianati akan jadi kenangan terburuk, kan?”
Aku tetap diam. Tidak menjawab atau pun memandangnya. Aku memikirkan kata-kata terakhirnya. Kemudian dia melanjutkan, “Briliant itu gadis yang baik, tapi dia berubah jadi kurang baik karena diam-diam dia menduakan aku.”
*****

Jadi putusnya Kak Frans dan Kak Briliant karena orang ketiga. Aku lega karena setelah hari itu, Kak Frans menceritakan segalanya padaku. Aku menyesal karena telah marah sama dia. Ternyata, Kak Frans benar-benar sudah menghapus mantanya dari hatinya. Aku juga lega Kak Briliant sudah berhenti menerorku sejak aku dan Kak Frans kembali bersama.
Suatu hari kelasku kedatangan siswa baru pindahan dari Semarang. Saat awal dia masuk kelasku, aku sudah tidak asing dengan wajahnya. Seperti seseorang yang pernah kukenal. “Perkenalkan, Nama saya Gilang Aditya, saya pindahan dari Semarang.” Katanya dengan nada medhok Jawa kental. Ternyata benar, itu Gilang teman kecilku.
Sungguh kebetulan yang luar biasa. Gilang teman kecilku sekarang jadi teman sekelasku. Kami berteman sejak masih umur tiga tahun, kemudian dia pindah ke rumah neneknya di Semarang. Dan baru kembali lagi ke sini sekarang. Entah kenapa, aku senang sekali dia kembali. Dia juga tinggal di dekat rumahku. Jadi sekarang kami bisa main bareng lagi.
“Aku senang kamu masih di sini, Lea. Aku rindu banget pengin manjat pohon manga bareng lagi, hehehe.” Katanya dengan logat Jawa.
“Iya, Lang. Aku juga senang kamu balik lagi ke sini. Jadi bisa bercanda sampai gila lagi deh.hahaha”
Aku dan Gilang sering belajar kelompok. Tapi kalau sama Gilang aku paling tidak bisa menahan tawa, karena dia orangnya suka bercanda dan logat jawanya yang kental setiap bicara sering membuat perutku sakit karena tertawa terlalu lama. Jadi kami belajar sambil ngobrol asyik, sama persis seperti dulu waktu kecil.
******
“Kamu ada hubungan apa dengan Gilang?” tanya Kak Fransisco.
“Nggak ada hubungan apa-apa, kok. Gilang itu teman kecilku, kak. Kami tetanggaan. Dulu tuh dia sama aku sering main bareng. Gilang itu anaknya lucu banget, kak. Gaya bicaranya yang medhok apalagi, selalu buat aku ketawa, aku senang banget dia ada di sini lagi. Kami jadi bisa belajar dan main bareng, hahahah”
Kak Frans terdiam dan memandangku. Aku juga kaget dengan apa yang barusan kuucapkan. Aku tanpa sadar mengatakan semua itu dengan enteng dan tertawa. Kak Frans berdiri dan meninggalkanku di bangku depan sekolah. Aku mencoba mengikutinya dan meminta maaf, aku ingin menjelaskan bahwa aku tidak memiliki hubungan apa pun selain berteman dengan Gilang.
“Jadi, apa yang kamu lakukan sekarang ini, Lea? Ini namanya apa? Kamu pernah marah karena aku nggak pernah cerita tentang Briliant. Tapi sekarang, kamu nggak pernah sedikit pun cerita ke aku tentang Gilang, yang udah beberapa minggu ini main bareng kamu, belajar bareng kamu, dan tertawa sama kamu.”
“Kak, maaf, bukan itu maksudku… kami kerja kelompok, kak, ada anak-anak lain juga kok. Dan aku nggak ada hubungan spesial sama Gilang.”
“Ucapan pertama kamu tentang Gilang tadi adalah yang paling jujur, Lea. Aku percaya sama kamu. Dan aku percaya, kamu benar-benar bahagia sekarang.”
Kak Frans meninggalkanku di tepi jalan. Aku berlari pulang dan menangis. Kak Frans benar, aku sudah kelewatan tentang Gilang. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu atau mengatakan hal itu. Tapi sekarang aku juga bingung, karena aku merasa aku bahagia saat bersama Gilang, tapi aku tidak ingin kehilangan Kak Frans.
*****

Dua tahun kemudian.
Aku sangat gembira diterima di SMA favorit di daerahku. Nilaiku memuaskan dan aku masuk peringkat 10 besar. Percaya atau tidak, aku satu sekolah lagi dengan Kak Frans. Dan dia menjadi pendamping OSIS. Tapi kali ini tidak untuk kelasku. Tanpa kusadari, mataku terus mengikutinya kemana pun dia pergi. Maklum, aku terlampau rindu. Sejak kami bertengkar di tepi jalan saat itu, Kak Frans menjaga jarak denganku, dan kami tidak pernah bicara lagi. Aku hanya bisa melihat status whatsappnya tanpa berani membalas. Dia pun hanya melihat status whatsappku. Meski begitu, rasanya dia seperti ada untukku.
Sementara hubunganku dengan Gilang, kami masih dekat, dan berkali-kali Gilang menyatakan cintanya. Tapi aku tidak bisa menerima karena aku sudah nyaman di zona berteman dengannya. Aku sendiri selama dua tahun terakhir. Aku tidak bisa melupakan Kak Fransisco.
Suatu hari setelah masa pengenalan siswa, aku duduk di bangku depan sekolah menunggu jemputan. Tiba-tiba ada seorang cowok dengan motor dan memakai helm berhenti di depanku, “Mau pulang?”
Mataku terbelalak kaget melihat cowok itu saat membuka kaca helmnya, Kak Fransisco!
“Ehh, iya, kak. Mama belum jemput, nih.”
“Bareng aku aja, yuk!”
Mukaku merah merona. “Ayolah, Lea. Aku tahu kok alamat rumah kamu. Tenang aja, nggak bakal kesasar. Haha”
Kak Frans jadi lebih humoris. Selama di jalan kami ngobrol. Meski awalnya agak canggung, tapi aku merasa nyaman banget. Aku bercerita tentang sulitnya Ujian Nasional dan bagaimana usahaku belajar mati-matian. Sesampainya di depan rumah, Kak Frans bicara padaku lebih serius lagi,
“Selamat, ya, Lea. Kamu berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan. Aku bersyukur banget kita satu sekolah lagi. Aku rindu sama kamu, Lea.”
“Lea juga rindu sama Kak Frans. Rinduuu banget.”
“Selama ini aku jaga jarak sama kamu, dan aku belajar memperbaiki sifatku. Maafkan aku, Lea sayang.”
“Mm..maksudnya, Kak? Jadi kita selama ini…?”
“Iya, kita nggak pernah putus. Aku nggak pernah dan nggak akan pernah putusin kamu. Aku selalu percaya sama kamu.”
“Tapi Lea kan sudah nyakitin Kak Frans karena salah paham dengan Gilang. …”
“Iya aku ngerti, kok. Tapi meski gitu, aku selalu percaya, bahwa kamu nggak akan menduakan aku. Aku saat itu malu sama diriku sendiri, Lea. Aku nggak bisa buat kamu tertawa lepas seperti saat kamu bersama Gilang. Jadi aku berusaha memperbaiki diri.”
Aku tanpa sadar meneteskan air mata.
“Aku selalu percaya yang terbaik adalah bahwa kamu bahagia. Dan kalaupun saat itu kamu mau jadian sama Gilang, aku nggak akan marah. Tapi di sisi lain, aku percaya, sayang kamu ke aku itu tulus. Dan ternyata benar, kamu masih sendiri sampai sekarang.”
“Berarti…kita masih punya hubungan?”
“Selalu, Lea. Karena kita saling percaya.”
Tamat

Rasa yang Terpendam
Oleh: Dita Eka Anggraeni

Namaku Dania. Aku kini duduk di kelas IX SMPN 1 Siliragung. Banyak yang bilang, aku tipe orang pendiam. Aku tidak pernah bercerita atau mengumbar masalah pribadiku, bahkan pada teman terdekatku. Saat ini aku sedang menyukai seseorang. Dia adalah anak terkeren di kelasku, Aldo namanya. Banyak yang mengaguminya karena penampilannya. Tapi Aldo sangat cuek dan memilih diam daripada menanggapi cewek-cewek yang sering mencoba mencuri perhatiannya.
Sebenarnya, aku berusaha menepis perasaanku karena Aldo pasti juga cuek padaku. Lagipula aku juga tidak akan bisa berbuat banyak karena aku tidak suka bercerita tentang masalah percintaanku pada orang lain. Jadi, selama ini aku memendam rasa padanya. Sejak kami satu kelas di kelas VIII.
Suatu hari saat pulang sekolah, aku berniat untuk menceritakan hal ini pada teman dekatku, Salsabila. Karena aku sudah tidak tahan lagi menyembunyikan perasaan ini.
“Sal, aku ingin cerita, nih. Tapi kamu harus janji jangan bilang siapa-siapa, ya soal ini…”
Pintaku pada Salsabila.
“Aduh, Dan. Kamu mau cerita apa, sih memangnya?”
“Udah, deh janji dulu kamu nggak akan ngomong sama siapa pun.”
“Iya, deh. Aku janji.”
“Jadi, selama ini aku sebenarnya memendam rasa sama Aldo…sejak kita kelas 8, Sal.”
“What?? Nggak salah dengar aku, nih???” ucap Salsabila terkejut.
“Tapi bener, ya Sal, janga bilang siapa pun.”
“Iya, Dan. Aku janji, Dania cantik… sejak kelas 8? Lama banget, Dan.”
“Aku juga nggak tau kenapa bisa punya rasa sama si Aldo.”
“Kan emang perasaan itu ajaib. Nggak bisa direncanakan kita mau suka sama siapa dan kapan.”
Sejak saat itu aku merasa sangat lega. Bercerita pada teman memang membuat hati kita jadi lega. Walau aku belum cerita terlalu banyak, tapi setidaknya rasa yang selama ini kusembunyikan kini sedikit kubuka.
****

Hari-hariku di sekolah kini jadi lebih berwarna. Aku cerita ke Salsabila tentang bagaimana biasanya aku mengamati Aldo sembunyi-sembunyi. Tapi Salsabila memberitahuku sebuah gosip bahwa Nesya, teman sekelasnya dulu di kelas 8 juga menyukai Aldo. Dan dia juga seorang gadis pendiam sepertiku. Memang itu tidak mengejutkanku, karena kau yakin pasti banyak cewek yang naksir Aldo. Tapi aku juga khawatir kalau Aldo akhirnya memiliki seseorang di hatinya.
Aku pun mulai berpikir, mengapa aku harus mencintai seseorang yang bahkan tidak menyukaiku? Bertemu saja seperti orang asing. Kami tidak pernah bertegur sapa meski telah satu kelas sejak dua tahun terakhir ini. Entah aku yang terlalu pendiam, atau Aldo yang terlampau cuek. Tapi memang begitulah adanya. Kami tidak pernah bicara.
Suatu ketika, Aldo tiba-tiba mengirim pesan whatsapp padaku. Aku pun terkejut dan merasa canggung karena dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Dia menyapaku, “Hai, Dania!”
Beberapa kali aku mengetik tapi kuhapus lagi. Aku gugup. Hingga 2 menit barulah kubalas, “Hai, Do!”
Langsung dibacanya dan dia pun mengetik lagi, “Kamu sedang belajar, ya?”
“Enggak, lagi santai abis makan malam”
“Oh, makan malam sama apa, Dan?”
“Sayur lodeh, Do”
“Ohh…enak donk”
“Iya, lah. Masakan ibuku juara deh.”
Percakapan kami mengalir begitu saja. Seperti kami telah mengenal satu sama lain. Memang sebenarnya iya, tapi kami belum pernah sedetik pun bicara. Aku dan Aldo terus ngobrol di whatsapp. Kami mambicarakan tentang beberapa tugas sekolah yang akhir-akhir ini banyak sekali. Hanya basa basi, tapi sangat berkesan untukku.
****

Sejak percakapan kami di whatsapp saat itu, Aldo kini sering basa-basi menyapaku di kelas. Entah itu hanya sekedar meminjam alat tulis, atau bertanya beberapa soal pelajaran. Tapi seperti biasa, dia lebih banyak cuek. Dan hanya bicara seperlunya. Awalnya aku merasa gugup dan malu, apalagi, Salsabila selalu menggodaku tentang Aldo. Tapi aku tetap bersikap biasa karena takut anak-anak lain akan mengetahui hal ini.
Aku dan Salsabila pergi ke kantin dan makan berdua. Seperti biasa, kami bergosip tentang Aldo, tapi kali ini ada yang membuatku terkejut.
“Aku dengar Nesya juga ngobrol sama Aldo di whatsapp, lo Dan.” Katanya sambil mencondongkan tubuh ke arahku.
“Masa, sih?”
“Iya, aku dengar dari Rita, katanya dia pernah mergokin Nesya lagi chatting sama Aldo saat mereka pulang kursus malam.”
Aku terdiam. Kuaduk-aduk Mie Ayamku. Perasaanku tidak tenang. Entah kenapa aku merasa cemburu dan marah. Tapi aku berusaha menyembunyikannya dari Salsabila. Lagipula, kenapa aku mesti cemburu? Aldo kan bukan siapa-siapaku. Aku hanya beberapa kali chatting dengan dia, sementara Nesya mungkin lebih sering.
****

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku bergegas keluar kelas. Aku berjalan santai di antara kerumunan anak-anak yang menuju gerbang sekolah. Aku kini berusaha melupakan rasa sukaku pada Aldo. Beberapa hari ini kami memang sering chatting, dan dia menunjukkan sikap seperti menyukaiku. Tapi setiap kali aku ingat cerita Salsabila tentang Nesya, aku merasa sakit hati, dan takut berharap lebih ke Aldo.
Tiba-tiba tanpa sengaja aku mendengar Bayu, teman sebangku Aldo berjalan mendahuluiku sambil berkata, “Cie, gebetan Aldo. Dia suka lo sama kamu, ssstt.” Katanya sambil menyenggol pundakku dan berlalu. Aku bingung apa maksudnya tadi. Gebetan? Aldo suka sama aku? Rasanya seperti mimpi, pikirku. Lagipula itu kan Bayu yang bicara, bukan Aldo langsung.
Berhari-hari aku diliputi rasa penasaran, bimbang, senang, dan bingung. Apakah benar Aldo suka padaku? Dari apa yang dilakukannya akhir-akhir ini, obrolan whatsapp yang hampir setiap malam, dan yang dikatakan Bayu tempo hari, semua itu memang seperti nyata. Tapi, sampai detik ini, Aldo belum pernah menyatakan perasaan apa-apa padaku.
“Mungkin dia juga lagi bimbang, Dan. Atau nggak percaya diri buat ungkapin perasaannya ke kamu. Cowok tuh sebenarnya juga pemalu kayak kita kalau soal cinta,” kata Salsabila.
“Atau mungkin dia sebenarnya dekat juga sama si Nesya.”
“Bisa jadi. Tapi kalau menurutku, kayaknya dia lebih perhatian ke kamu. Buktinya dia sekarang sering basa-basi ke kamu kan di kelas… yahh, walaupun masih tetap cuek bebek…kwek kwekk..”
“Hahaha, bisa aja, kamu. Nggak tau, ah, Sal. Aku bingung sama hubungan kaya gini. Perasaan yang sama-sama terpendam nggak akan bikin lega kalau nggak ada yang mau mulai bicara serius.”
****

Akhirnya, Ujian Nasional pun usai. Jantungku berdebar menunggu hasil Ujian Nasional diumumkan. Aku juga khawatir tentang SMA. Hari-hari terakhir di sekolah kami isi dengan ngobrol, dan foto-foto bersama satu kelas. Aku beberapa kali mencuri pandang ke Aldo, yang telah berbulan-bulan dekat denganku tapi tak kunjung memberi kejelasan. Aku berpikir untuk melupakannya saja. Toh, setelah ini kami mungkin tidak akan satu sekolah lagi.
“Hai, Dan. Gimana, kamu jadi sekolah SMA di daerah sini, kan?” tanya Aldo yang tiba-tiba muncul di depanku.
“Belum tau, Do. Ibuku sih penginnya aku sekolah di luar daerah. Tapi semua terserah aku. Kamu gimana?”
“Belum tau juga.”
Kami sama-sama diam.

Hari pelepasan siswa kelas IX pun tiba. Aku lega mendapat nilai memuaskan di Ujian Nasional. Aku bisa melanjutkan sekolah ke SMA favorit. Aku senang dan bersyukur. Akhirnya, usahaku belajar selama ini berhasil. Sedih rasanya meninggalkan SMP tercinta ini. Terutama, teman-teman yang selama ini selalu kompak dan asyik. Aku berharap, di SMA nanti aku juga akan mendapat teman-teman yang baik seperti mereka.
Setelah acara selesai, kami semua berfoto bersama. Aku dan Salsabila sangat terharu dengan suasana perpisahan ini. Kami meneteskan air mata saat bersalaman dengan bapak/ibu guru. Aku berpelukan dengan Salsabila. Tiba-tiba Aldo menepuk pundakku, “Hai, Dan! Hai, Sal, sorry, bisa pinjam Dania bentar, nggak? Aku ada perlu mau ngomong.”
“Iya, Aldo boleh bawa aja.” Ucap Salsabila sambil mencubit tanganku.
Aku dan Aldo berjalan menuju belakang panggung acara. Dia mengeluarkan sebuah kotak dan memberikannya padaku.
“Apa ini, Do?” tanyaku yang terkejut dengan kotak itu.
“Dania, sebenarnya selama ini aku pengin banget ngomong jujur sama kamu.”
“Ngomong apa?”
“Aku suka sama kamu, Dan.”
Aku terdiam. Perasaanku campur aduk. Senang, kecewa, dan marah. Kenapa dia tidak bilang sejak awal. Kenapa harus di hari perpisahan sekolah?
“Aku nggak pernah punya keberanian buat nyatain langsung ke kamu, Dan. Maafin aku. Aku takut kalau kamu akan menolakku atau kamu udah punya seseorang lain di hati kamu. Tapi aku benar- benar suka sama kamu dan memendam perasaan ini berbulan-bulan.”
“Harusnya kamu ngomong sejak awal, Do. Maksud kamu apa ngomong semua ini di hari perpisahan sekolah? Saat semuanya sudah berakhir.”
“Maaf, Dania. Aku memang pengecut. Tapi aku senang banget bisa dekat sama kamu selama ini. Kamu itu motivasiku.”
“Aldoo….” Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Menyesali hari-hari yang telah kami lalui tanpa ada yang menyatakan perasaan satu sama lain. “Seharusnya kamu bicara sejak dulu….”

Dalam kotak itu berisi sebuah boneka Mickey Mouse mungil dengan tulisan “I Love You” di bagian depan. Dan secarik kertas memo bertuliskan, “Maafkan aku, Dania. Aku sayang sama kamu, dan aku harap kamu selalu bahagia. Love, Aldo.” Aku benar-benar berharap Aldo belajar dari semua ini. Begitu juga aku. Bahwa perasaan yang terpendam itu akan tetap terpendam jika tidak ada yang mau mengungkapkan.

0

The Legend :D

Hi, everyone!

Well, judulnya alay, ya? Menurut saya sah-sah sajalah bangga dengan karya sendiri yang melegenda 😀 wkkwkwk karena sudah hampir tiga tahun berlalu, teks sambutan saya ini tetap jadi “buruan” guru/siswa MAN yang akan melaksanakan Graduation Ceremony…
So, I hope by posting this text, semua siswa yang membutuhkan bisa menjadikannya sebagai referensi. Truthfully, teks ini PURE buatan saya sendiri dengan kalimat yang mewakili apa yang saya rasakan dan (semoga) teman-teman rasakan selama bersekolah di MAN.
Anyway, walau bagaimanapun, lidah setiap orang berbeda sehingga rasa yang timbul ketika teks ini dibacakan pun akan berbeda. Akan tetapi, saya percaya, sambutan perwakilan siswa pasti akan tersampaikan dengan sempurna jika dibacakan dengan ketulusan yang dalam.
So, that’s ok. You may copy my text, sebagai referensi, atau copy utuh…. Hahaha.. Tapi jujur, saya sangat puas dulu bisa membuat sekaligus menyampaikannya sendiri, hehe.. Selamat membaca, temans!!

Yth. Para alim ulama’
Yth. Kepala Madrasah Aliyah Negeri Pesanggaran, Bapak Drs. H. Saeroji, M. Pd. I, M.Ag.
Yang kami hormati Bapak/Ibu guru MAN Pesanggaran
Yang kami hormati bapak/ibu wali murid kelas XII
Dan teman-teman kelas XII yang saya sayangi

Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah mencurahkan rahmat dan hidayahNya sehingga kita dapat hadir bersama di acara bersejarah ini, pelepasan siswa/siswi kelas XII Madrasah Aliyah Negeri Pesanggaran tahun ajaran 2014/2015. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Rasul terakhir, yang senantiasa kita rindukan, dan kita harapkan syafaatnya kelak di yaumul qiyamah.

Hadirin yang saya hormati,

Pada 09 Juli 2012, kami resmi menjadi siswa Madrasah Aliyah Negeri Pesanggaran. Untuk pertama kalinya kami memakai seragam putih abu-abu, berangkat ke sekolah, bertemu teman-teman baru, dan bertemu bapak/ibu guru. Saat itu, di benak kami terpikir, bahwa tiga tahun akan menjadi waktu yang sangat lama, berat, dan penuh tantangan. Namun, agaknya anggapan kami itu tidak sepenuhnya benar. Karena sebaliknya, sekarang kami berpikir, rasanya baru kemarin kami mengikuti MOS di madrasah ini. Dan tiba-tiba sekarang kami sudah berada di sini, bukan dengan pakaian putih abu-abu lagi, tidak menenteng tas berisi buku pelajaran lagi, tidak duduk di bangku kelas lagi. Rupanya kami telah sampai pada penghujung hari, di mana kami harus bersiap untuk segera meninggalkan madrasah tercinta ini.
Saya di sini mewakili teman-teman kelas XII, ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak/ibu guru yang telah dengan sangat sabar membimbing kami selama tiga tahun ini. Ilmu, pengalaman, dan prestasi tidak akan kami dapatkan dengan sendiri, melainkan dengan bantuan dan dukungan dari Bapak/Ibu guru sekalian. Buku memanglah jendela ilmu, tetapi, kami tidak akan mampu mencerna segala materi yang ada di buku pelajaran tanpa ada bapak/ibu guru sebagai perantara menyampaikannya kepada kami. Sungguh besar jasa panjenengan sehingga kami tidak bisa menghitungnya. Bahkan membalas dengan utuh pun kami tak sanggup. Sebaliknya, kami anak-anak kelas XII sering membuat bapak/ibu guru jengkel, marah, kami berbuat tidak sopan, tidak dapat diatur, selalu mengecewakan panjenengan semua dengan sikap kami. Kami mohon maaf sebesar-besarnya bapak/ibu guru. Kami hanyalah anak-anak yang selalu menuruti ego dan tidak mau belajar.

Bapak/ibu guru, panjenengan adalah pengganti orangtua bagi kami di sekolah ini. Orangtua yang sangat menyayangi kami, senantiasa mengingatkan jika kami berbuat salah, memberi semangat dan dukungan ketika kami sedang terpuruk, dan mengajarkan kebaikan di setiap kesempatan. Panjenengan adalah orangtua yang amat kami hormati, kami sayangi, dan akan selalu kami ingat selamanya. Benar-benar tidak patut kami lulus dari madrasah ini tanpa memohon maaf sebesar-besarnya dan berterima kasih yang setulus-tulusnya kepada bapak/ibu guru sekalian. ….. kami tidak akan lupa dengan bapak/ibu guru. Ke manapun kami pergi nantinya, jasa, nasihat bapak/ibu guru akan selalu terpatri di hati kami….

Kemudian, untuk teman-teman kelas XII. Telah banyak kenangan yang kita ukir bersama selama tiga tahun ini. Susah senang kita rasakan mulai di kelas X, saat kita masih malu-malu, lugu, takut, kemudian beranjak ke kelas XI, di mana kenakalan kita melunjak, dan egoisme kita mulai terlihat, hingga kemudian di kelas XII, di mana kita mulai bisa berpikir dewasa dan mengurangi kenakalan kita. Tiga tahun bersama, telah menjadikan rasa persaudaraan antara kita semakin erat. Tertawa bersama saat senang, saling menguatkan saat ada yang terjatuh. Jangan sampai persaudaraan ini terputus karena hal apapun.

Teman-teman sekalian, Lulusnya kita dari madrasah ini bukanlah akhir perjalanan kita untuk belajar. Justru inilah awal bagi kita untuk menata masa depan yang sesunggugnya. Karena dunia yang akan kita hadapi setelah ini akan terasa lebih luas, lebih berat, dan lebih kejam. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan ilmu yang telah kita dapat selama di madrasah ini, menjadi orang yang ulet dan pantang menyerah. Ke mana pun kita melangkah selanjutnya, baik ke perguruan tinggi atau bekerja, kita harus membuktikan, bahwa kita adalah produk MAN Pesanggaran yang berkualitas. Selalu jaga nama baik almamater, dan buat bapak/ibu guru bangga karena melihat kita menjadi orang beriman, berakhlak, berilmu, dan sukses. Amin ya Rabbal alamin.

Dan untuk adik-adik kelas X, dan XI. Kami, kakak-kakak kelas XII mengucapkan terima kasih karena adik-adik selalu mendukung dan mendoakan kami selama ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena selama menjadi kakak kelas kalian, kami seringkali berbuat salah, menyakiti adik-adik, baik dengan perkataan maupun perbuatan kami. Sesungguhnya kami amat menyayangi kalian semua, dan tidak ingin kalian mencontoh perbuatan-perbuatan tidak baik yang telah kami lakukan selama ini. Ambilah contoh yang baik. Dan kami berpesan kepada adik-adik semua, untuk terus semangat belajar, hormati bapak/ibu guru, kembangkan terus potensi kalian, cetak prestasi, dan buat almamater kita bangga. Jangan hanya puas menjadi juara 1 di madrasah ini. Kami yakin, kalian bisa mencetak prestasi lebih baik dan membanggakan daripada kami.

Hadirin yang saya hormati,

Seperti yang Ki Hajar Dewantara ibaratkan, sekolah adalah taman bagi siswa. dan madrasah ini telah menjadi taman pula bagi kami. Taman untuk menunutut ilmu. Dan kami sedih karena akan segera meninggalkan taman ini, tidak akan bisa melihat bapak/ibu guru lagi setiap pagi. Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada panjenengan bapak/ibu guru.

(Penutupnya “Rahasia” :p karena dulu diajari ayah saya…wkwkwkwk)

thanks for reading!

0

A Poem to My Father

Every single word that father says,

means a lot to his daughter.

It echoes to the whole world she’s thinking.dsc_4803

It sinks deeply into the bottom of her heart.

It seems like twinkle stars

when she keeps her eyes closed.

It is literally a WISH, a HOPE, an ADVICE, a GUIDE, and a LIGHT,

for her dark moments, for her nightmares,

for her defense against egoism.

F A T H E R,

I remember how you’d always tell me stories

before I sleep.

And kiss my cheeks

to wake me up in the morning.

©Wilda, November 3rd,2016.

I was inspired by this awesome book of Obama that I occasionally read this morning. It reflected how father feels for his daughter. So I wrote this poem, as a reflection of how I feel for my father. (It’s my true story, btw).

0

Landriendship

photo0002Once upon a time, there was a prosperous land called Landriendship. This is where we can grow old with our lovers for an eternity. Since friendship never dies, this land will be prosperous as well. And I believe, that this is kind of what people want, to live in Landriendship.

I’ll never forget the day when I was standing on a stage with Ita at Kindergarten. We were there for reciting Quran, it’s called “Qiro’ah”. We were dressed on the same colors, green. And I could tell that we were nervous, though I’d practiced with my father for many times. I laughed aloud when my brother played my Kindergarten Graduation CD. “It’s embarrassing!” I said. But he told me that I and Ita looked very cute on that day.

That was 14 years ago.

Ita is one of my closest friend. But, truthfully, we don’t talk very much about our private things. We do share good things to each other though. Maybe that’s why, we never get in a fight. Haha.

She thought that I was a good influence for her. And so do I, I think she’s just a very nice girl to be friend…

We started at the very beginning stage together, and then we separated in Junior High School, then we met again at High School, and now, I think we’ve found our own paths. I don’t know where this path is heading me, but I do hope that we’ll end it in a Landriendship. A peaceful fantasy land I’ve been thinking, but it seems real to me.

0

The Boy Who Always Asks Me, “Adalah apa, mbak?”

His name is Rizal, a seven year old boy, second grader of Elementary School. He is one of my “baby students” who comes every 5 pm to study at Kupu-Kupu Buku Wilda. (I call them “baby students” because they are tiny and very crowded).

Rizal couldn’t read or write properly for the first he studied at Kupu-Kupu Buku Wilda. His mother said he would never want to practice reading or writing at home, (that’s why she sent him to me). But I believed that all humankind are basically able to READ. So I told him to read aloud one page every meeting, then write the first and the last paragraph of it. For one month, I see a progress from this method. He is now better on reading,

Rizal, the "adalah apa, mbak" boy.

Rizal, the “adalah apa, mbak” boy.

and faster on writing (although I still find some wrong words, but that’s better than before). Unlike the other second graders, he seems good at subtraction on Math. I knew, that he must be smart at some point.

Overall, he is still confused understanding questions. He’d read the questions while I’m teaching the other students, and at the end of reading he’d ask me, “Adalah apa, Mbak?” because most of those questions on the text books are ended with “adalah” which means “is”.

0

Waktu

img_20160820_105039Waktu yang hakikat.

Bagi para pesakitan, waktu adalah musuh yang mereka tipu saban hari dengan harapan. Namun, di sana, di balik jeruji yang dingin itu, waktu menjadi paduka raja, tak pernah terkalahkan. Bagi para politisi dan olahragawan, waktu adalah kesempatan yang singkat, brutal, dan mahal.

Bagi para seniman kadang kala melihat waktu bagai angin, hantu, baha kimia, seorang putri, payung, seuntai tasbih, atau sebuah reazim. Salvador Dalo telah melihat waktu dapat meleleh.

Bagi para ilmuwan, waktu umpama garis yang ingin mereka lipat dan putar-putar. Atau lorong, yang dapat melemparkan manusia dari masa ke masa, maju atau mundur. Bagi mereka yang terbaring sakit, tergolek lemah tanpa harapan, waktu mereka panggil-panggil, tak datang-datang.

Bagi para petani, waktu menjadi tiran. Padanya mereka tunduk patuh. Kapan menanam, kapan menyiram, dan kapan memanen adalah titah dari sang waktu yang sombong. Tak bisa diajak berunding. Tak mempan disogok.

Bagi yang tengah jatuh cinta, waktu mengisi relung dada mereka dengan kegembiraan, sekaligus kecemasan. Karena teristimewa untuk cinta, waktu menjelma menjadi jerat. Semakin cinta melekat, semakin kuat waktu mejerat. Jika cinta yang lama itu menukik, jerat itu mencekik.

(Andrea Hirata.2011. Padang Bulan. Bentang: Yogyakarta.)

 

 

0

Fresh Collection

img_20160825_171553

When my love sent me this, I was totally excited. It was August 25th, and I thought I was the first one in Indonesia who had that super famous book. So now, my library has a new collection that was most-wanted. Harry Potter and The Cursed Child is the 7th book of the Harry Potter series by JK.Rowling. As we know, these series has become legend since it first released.

0

“Saat lelah berlari, aku akan berjalan cepat apapun yang terjadi agar sampai tepat waktu. Jika beruntung, kau akan berjumpa denganku di ujung.”

Aku tidak pernah bermain musik. Tapi pernah berangan-angan menjadi seorang musisi. Di hutan ini, kudengar irama alam yang menyejukkan….

IMG_20141225_132408

0

Tulisan Mungil di Hari Libur

Murid-murid yang rajin. Aku yakin mereka bisa menjadi orang luar biasa kelak. Bagaimana tidak, mereka masih bersemangat belajar walau saat libur panjang akhir tahun ini. Mumpung masih dalam suasana libur, kumanfaatkan untuk menjajaki kemampuan bercerita dan menulis mereka. Percayalah, mereka lucu dan hebat!!
Berikut ini adalah cuplikan-cuplikan pengalaman yang mereka tuliskan dan presentasikan. Sebagian besar yang ada di sini sudah kuedit tentunya. Aku tak tega nge-post yang asli (original). Bikin perut kocak 😀

DSC_0847 Liburan ke Mirah Fantasy
Oleh: Rendy
Di saat hari liburan aku dan keluargaku akan mandi aku ke sana ke laut Mirah Fantasy. Aku di sana main flying fox dan bermain air. Aku bermain bersama Reza naik waterbum. Dan saat aku meluncur, paman Didit menangkapku. Sesudah mandi, aku membeli Pop Mie. Kemudian, aku pergi melihat gajah yang amat besar. Setelah itu, aku pulang. Aku senang sekali berlibur ke Mirah Fantasy bersama keluargaku.

Pergi ke Pulau MerahDSC_0846
Oleh: Risdiana
Tahun baru kemarin, aku bertamasya ke Pulau Merah bersama keluargaku yang terdiri dari bapak, ibu, dan para sepupuku. Untuk pergi ke sana, kita naik motor. Di sana kami bermain-main. Kami menangkap kepiting. Ada kepiting yang lumayan besar dan tanganku hampir saja terjapit. Panorama di Pulau Merah sangat indah.

Hari Raya Idul Fitri
Oleh: Lala
Pada hari Minggu aku dan ibuku, ayahku, mas Febi, mbak Linda membersihkan rumah. Mbak Linda dan ibu memasak di dapur, sedangkan aku membersihkan bagian ruang tamu depan, dan ayah membersihkan bagian luar dengan mas Febi. Waktu malam takbir aku sangat senang sekali. Aku menyalakan kembang api/petasan bersama teman-temanku.
Dan waktu hari Senin pagi aku dan ayahku, ibuku, pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat Ied. Aku juga pergi bersama temanku ke masjid yaitu mbak Eva dan mbak Nanda. Setelah sholat aku dan keluargaku pergi ke rumah nenek. Kami bersalam-salaman dengan nenek dan kakekku. Aku sangat senang sekali bisa merayakan malam takbiran bersama teman-temanku dan merayakan Idul Fitri bersama keluargaku.

Saat di Pantai
Oleh: Novi
Saat itu aku berlibur ke pantai bersama keluargaku. Aku meligat ombak bergulung-gulung dan banyak orang di sekitar pantai. Di sebelah pantai ada pantai lagi. Ada juga para nelayan yang akan mencari ikan di laut. Ada banyak ikan, seperti ikan tongkol, ikan paus, kepiting, cumi-cumi, gurita, dan juga ada banyak turis atau orang asing yang berselancar. Ada banyak toko dan tembat bersantai. Aku senang sekali berkunjung ke pantai.