0

Tulisan Mungil di Hari Libur

Murid-murid yang rajin. Aku yakin mereka bisa menjadi orang luar biasa kelak. Bagaimana tidak, mereka masih bersemangat belajar walau saat libur panjang akhir tahun ini. Mumpung masih dalam suasana libur, kumanfaatkan untuk menjajaki kemampuan bercerita dan menulis mereka. Percayalah, mereka lucu dan hebat!!
Berikut ini adalah cuplikan-cuplikan pengalaman yang mereka tuliskan dan presentasikan. Sebagian besar yang ada di sini sudah kuedit tentunya. Aku tak tega nge-post yang asli (original). Bikin perut kocak 😀

DSC_0847 Liburan ke Mirah Fantasy
Oleh: Rendy
Di saat hari liburan aku dan keluargaku akan mandi aku ke sana ke laut Mirah Fantasy. Aku di sana main flying fox dan bermain air. Aku bermain bersama Reza naik waterbum. Dan saat aku meluncur, paman Didit menangkapku. Sesudah mandi, aku membeli Pop Mie. Kemudian, aku pergi melihat gajah yang amat besar. Setelah itu, aku pulang. Aku senang sekali berlibur ke Mirah Fantasy bersama keluargaku.

Pergi ke Pulau MerahDSC_0846
Oleh: Risdiana
Tahun baru kemarin, aku bertamasya ke Pulau Merah bersama keluargaku yang terdiri dari bapak, ibu, dan para sepupuku. Untuk pergi ke sana, kita naik motor. Di sana kami bermain-main. Kami menangkap kepiting. Ada kepiting yang lumayan besar dan tanganku hampir saja terjapit. Panorama di Pulau Merah sangat indah.

Hari Raya Idul Fitri
Oleh: Lala
Pada hari Minggu aku dan ibuku, ayahku, mas Febi, mbak Linda membersihkan rumah. Mbak Linda dan ibu memasak di dapur, sedangkan aku membersihkan bagian ruang tamu depan, dan ayah membersihkan bagian luar dengan mas Febi. Waktu malam takbir aku sangat senang sekali. Aku menyalakan kembang api/petasan bersama teman-temanku.
Dan waktu hari Senin pagi aku dan ayahku, ibuku, pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat Ied. Aku juga pergi bersama temanku ke masjid yaitu mbak Eva dan mbak Nanda. Setelah sholat aku dan keluargaku pergi ke rumah nenek. Kami bersalam-salaman dengan nenek dan kakekku. Aku sangat senang sekali bisa merayakan malam takbiran bersama teman-temanku dan merayakan Idul Fitri bersama keluargaku.

Saat di Pantai
Oleh: Novi
Saat itu aku berlibur ke pantai bersama keluargaku. Aku meligat ombak bergulung-gulung dan banyak orang di sekitar pantai. Di sebelah pantai ada pantai lagi. Ada juga para nelayan yang akan mencari ikan di laut. Ada banyak ikan, seperti ikan tongkol, ikan paus, kepiting, cumi-cumi, gurita, dan juga ada banyak turis atau orang asing yang berselancar. Ada banyak toko dan tembat bersantai. Aku senang sekali berkunjung ke pantai.

0

Mmbaca Itu Susah-Susah Gampang

Eng, Bukan En… 🙂

Masih basah ingatanku kali pertama mengeja huruf-huruf alfabet. Sekitar umur empat tahun, aku mulai mengenal huruf. Kala itu aku terbata-bata mengucapkan huruf A sampai Z dengan tuntunan kakakku. Begitu telaten ia mengajari hingga akhirnya, setelah berhari-hari menghafalkan A sampai Z, aku berhasil. Tidak cukup sampai di situ, aku belajar menulis huruf-huruf itu. Tangan mungilku sangat akrab dengan pensil dan buku tulis. Tidak peduli ada garis-garis di setiap kertasnya, aku menulis sesuka hatiku dengan ukuran yang menurutku memuaskan. Setiap kali menulis satu huruf, aku merasa bagaikan orang terpintar di dunia ini, dan akan selalu kupamerkan pada ibuku (tentu saja, dia tersenyum bangga).

Walau telah lancar membaca beberapa kata, seperti:

“I N I   B U D I”

“I N I   I B U  B U D I”

“I N I   B A P A K   B U D I”

“I N I   K A K A K    B U D I”

“I N I   A D I K    B U D I.”  Kesimpulanku sampai pada  B U D I adalah anak kedua. Masyarakat indonesia perlu berterima kasih kepada Budi sekeluarga. Karena keluarga B U D I-lah, sebagian besar dari kita bisa membaca J

Masalah terbesarku belajar membaca adalah mengeja kata yang berakhiran –ng. Kakakku berkata, “Ini bacanya eng.” Tapi aku tidak pernah percaya padanya. Bukannya mengeja sebagai eng, aku memngejanya en. Pernah suatu ketika aku membeli sebuah snack “Jagung Bakar” dan membacanya keras-keras di depan teman-temanku, “J A G U N   B A K A R.” Mereka semua terheran-heran dengan cara membacaku. Sala satu temanku menyeringai, “Kok, jagun? Bukannya jagung yang ada?” Aku menatapnya serius, “Bukan aku yang salah. Tulisannya yang salah. Mereka salah mengeja. Selama ini kita dibodohi.” Aku bersikeras dengan pendapatku bahwa “JAGUNG” sebenarnya adalah “JAGUN” tapi kami malah berdebat dan tetap pada pendirian masing-masing. Teman-temanku mulai tak sabar denganku yang super ngeyel. “Apa buktinya kalau mereka salah mengeja?”

Aku naik pita seketika melihat temanku tersulut emosi, “Bagaimana mungkin kalian yakin bahwa itu bacanya “jagung” sementara kalian sendiri tidak tahu asal kata itu dari mana!”

Aku melangkah pergi dengan sekepal kekesalan. “Ejaan eng? Mana ada?!” Tidak sampai di situ, aku menemukan fakta lain tentang bunyi eng yang menyesatkan itu. Bahwa kata “UANG” adalah “UAN.” Dan semua kata yang berakhiran –ng kueja sebagai –n. Alhasil, saat bicara pun aku berusaha mengucapkan UANG sebagai UAN, JAGUNG sebagai JAGUN, KALENG sebagai KALEN, KALUNG sebagai KALUN, JURANG sebagai JURAN, dan sebagainya.

Untungnya, kebiasaan itu tidak berlangsung lama. Aku mulai  menyadari cara mengejaku salah. Semua orang menertawakanku tiap kali aku mengucapkan kata-kata itu. Kakakku membujuk agar aku mau membaca –ng sebagai eng. Lucu sekali ketika menyadari bahwa selama ini aku terlalu keras kepala dengan ejaan itu. Ketidakmautauanku telah menjerumuskan ke lembah kesalahan. Tapi anehnya, aku tidak pernah merasa bersalah atau malu. Pikirku, itu adalah hal yang wajar.

0

SEKAPUR SIRIH

BACALAH!

“I have always imagined that p paradise would be some kind of library” _Jorge Luis

Sejak kecil Si Fulan terbiasa diajari membaca oleh orangtua. Mereka dengan susah payah mengajarkan kita setiap huruf, cara mengejanya, kemudian perlahan merangkai kata dari huruf-huruf tersebut. “Ini A, ini B, ini C.” Saat itu memori Fulan masih belum terlalu penuh oleh hal-hal compleks. Ibarat hardisk, free space-nya masih berlimpah sehingga mudah menyimpan semua yang diajarkan. Kemudian Fulan tumbuh perlahan dengan waktu dan proses. Rangkaian kata yang 01042014(004)diajarkan bertambah, menjadi kalimat-kalimat sederhana. Keingintahuan pun muncul tiap kali matanya melihat huruf-huruf berjajar di papan, buku, televisi, koran, dan lainnya. Sulit sekali awalnya mengeja huruf-huruf itu sehingga menghasilkan bunyi yang benar dari mulut Fulan kecil. Sesekali orang  tertawa mendengar bibir mungil bersusah payah mengeja tulisan. Namun, kawan, disitulah nikmatnya. Saat kita berusaha mengeja kata atau membaca kalimat dengan benar. Karena kesalahan mengeja atau membaca bukanlah harapan kita. Setelah pandai membaca, Fulan gembira dan selalu ingin membaca. Fulan sering berdiam diri di sudut ruangan dengan sebuah buku terbuka di depan matanya. Ia lebih suka membaca tentang hal-hal menarik dan yang sedang dibutuhkannya. Photo1209Dalam benaknya terpikir, ‘Alangkah hebatnya dunia ini. Menyediakan tempat di mana aku bisa berpetualang menelusuri rimba ilmu yang tak ada habisnya. Anda saja umurku mencapai seratus tahun, maka akan kugunakan 98% nya untuk berpetualang dengan buku-buku yang luar biasa.’ Kisah Fulan merupakan potret sederhana bagaimana membaca dapat melelapkan manusia dalam keingintahuan dan membuahkan pemikiran-pemikiran hebat. Para tokoh hebat pun tak pernah lepas dari kegiatan membaca. Mereka bahkan rela menghabiskan waktu berjam-jam dan mengurangi jam tidur untuk membaca buku. Karena mereka tahu, tak ada cara lebih baik untuk memuaskan dahaga akan ilmu, kecuali dengan membaca.

Photo0021Belum terlambat untuk mulai gemar membaca. Siapa pun itu, jika benar-benar penasaran dengan keindahan dunia dan rahasia-rahasia keilmuan yang masih tersimpan, maka, ”Bacalah!”