0

My Novel #1 Love, It’s A Gift

Hengky menghampiri Tony yang baru selesai berbincang dengan kerabat Gita. Ia memeluk sahabatnya itu. “Selamat, ya Bro! Gue doain lancar sampai akad dan seterusnya,” kata Hengky dengan senyum bangga.
“Makasih, Heng.”


Beberapa detik kemudian ponsel Tony berdering. Miscall dan pesan dari Candra.
Candra: Kode merah. Si Gondrong bebas. Bokapnya yang bebasin. Gue lagi ada tugas di luar Jakarta. Sorry, Ton.


Tony berdecak dan seketika ia jadi khawatir akan keselamatan Love. Hengky yang melihat gurat wajah Tony yang berubah langsung menanyainya, “Ada apa?”


“Mahendra bebas.” Tony meremas ponselnya. Jelas sekali koki itu tidak bisa tenang dan masih cemas dengan Love.


“Udah. Lo udah cukup banyak tolongin Love. Lagipula Mahendra gak nyerang dia lagi, kan? Fokus aja sama Gita

“Feeling gue gak enak. Kalau dia bebas berarti ada kemungkinan Love sama ibunya dalam bahaya,” kata Tony yang makin tak tenang. Ponselnya kembali berdering. Pesan dari nomer asing.


+62834675**: mudah banget cari kontak lo. Juru masak ternyata. Chef ganteng, di sini makin panas. Kalau gue ga bisa milikin Love. Then NOBODY can either! Bentar lagi, kembang api kesedihan gue menyala. Tapi Love akan selalu hidup di hati kita.

“SHT!” umpat Tony seketika melihat pesan aneh dari nomer asing yang sudah pasti lelaki gila itu. Ia memejamkan mata. Tony tampak berpikir serius.

“Gue harus pergi, Heng. Otherwise, she’ll die! Gue janji, ini yang terakhir. Setelah urusan ini selesai, gue akan fokus sama Gita. Gimana pun juga gue udah terlibat sama masalah Love dan Mahendra. So, I’ll have to finish it.”


Hengky tak bisa berbuat apapun. Ia mengangguk mantap pada sahabatnya itu dan menepuk pundaknya.
“Tolong bilangin ibuk. Ada sesuatu yang harus gue urus.”
“No worry. Lo hati-hati!”
Tony segera keluar kedai selagi semua orang sibuk berbincang dan tak memperhatikannya. Saat telah berada di depan mobilnya, Tony terperanjat melihat sosok gadis bergaun putih tulang senada dengan kemejanya. Gita.
“Aku ikut,” kata Gita dengan tatapan serius pada Tony.
“I’m sorry, Gita. Aku akan jelasin nanti, tapi aku harus pergi sendiri.” Tony mencoba untuk tidak panik.
“Aku mau ikut, Mas,” paksa Gita masih dengan tatapan tajam pada tunangannya itu.
Tony menghela napas, “Gita, ini mungkin akan bahaya dan aku ….” Belum selesai Tony bicara namun Gita menyela, “That’s why. Aku harus ikut karena ini bahaya. Udahlah, Mas. Aku denger pembicaraan kamu sama Mas Hengky. Aku ini calon istri kamu. Aku perlu dampingin kamu kemana pun kamu pergi.”
Beberapa detik Tony memandangi wajah cantik Gita. Ia lalu menggenggam tangan putih gadis itu dan membukakan pintu mobil. Mereka saling menatap sesaat sebelum masuk ke mobil.
“Apapun yang akan aku lakukan, tolong kamu jangan salah paham. Karena itu semua nggak akan mengubah hubungan kita. Can you trust me?”
Gita meremas pelan tangan Tony dan menciumnya. “Aku percaya kamu, Mas.”


Tony dan Gita tak banyak bicara dalam perjalanan menuju rumah Love. Gita memerhatikan gurat wajah Tony yang cemas luar biasa. Seperti akan menghadapi sesuatu yang besar dan berbahaya. Meskipun ia tahu ini tentang Love, dan kenyataan itu membuatnya tak tenang, Gita lebih khawatir dengan keselamatan tungannya. Dalam hati ia tak henti-hentinya melantunkan doa agar Tony diberi keselamatan.


Mereka tiba di rumah Love. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Tony melarang Gita ikut turun. “Kamu tunggu di sini aja. Jangan turun dari mobil.”
“Tapi …,” Gita hendak memprotes namun Tony memotongnya, “Please, Git. Trust me. Aku Cuma mau kamu aman. So stay,” pinta Tony pada tunangannya. Ia mengecup tangan Gita dan segera turun dari mobil.


Rumah Love tampak tenang dari luar. Tony bergerak mendekat pagar yang tak terkunci. Ia berjalan cepat menuju pintu rumah dan mengetuknya. Tak ada jawaban beberapa saat. Hingga Tony mendengar suara keributan dan beberapa benda jatuh. “Love? Tante Lily? Kalian di dalam?” teriak Tony yang makin cemas. Ia bersiap mendobrak pintu itu namun terhenti karena ponselnya berdering. Panggilan dari nomer ponsel Love.
“Love? Kamu di mana? Are you okay?”
“Sssshh … sabar … satu-satu dong kalau tanya, Bro,” suara Mahendra terdengar dari ponsel Tony.
“Sialan lo! Jangan macem-macem sama Love dan ibunya. Di mana kalian?!” bentak Tony sambil menggebrak pintu.
“Aduh, Chef Tony … jangan gebrak-gebrak pintu gitu dong. Nanti kalau calon mertua gue kaget gimana? Hahaha.” Gelak tawa Mahendra makin menyulut amarah Tony.
“Brengsek lo! Keluar lo sekarang. Dasar cowok gila!” Umpatan dan makian Tony tak terbendung lagi. Ia hendak mendobrak pintu rumah tapi tidak jadi.

Tony berjalan memutar menuju belakang rumah Love. Barangkali ada pintu belakang menuju ke dalam. Ternyata benar, ada pintu menuju dapur namun anehnya tak terkunci. Tony masuk dengan waspada. Ia mendengar suara benda jatuh dari dalam salah satu kamar. Baru saja Tony melangkah menuju kamar itu tiba-tiba pukulan benda keras mengenai tengkuknya. Tony tersungkur dan tak sadarkan diri. Samar-samar ia mendengar suara perempuan berteriak namun tak jelas.


Mahendra menyeret Love yang terikat tali dan mulut diplaster. Love mencoba memberontak namun gagal. “Maaf, sayang. Tapi ini cara terbaik untuk kita bisa bersatu.” Mahendra terus memaksa Love keluar lewat pintu belakang. Meninggalkan Bu Lily yang terikat di tempat tidur dan Tony yang tergeletak di depan kamar Bu Lily.


Ia segera menyeret Love keluar dan meninggalkan Bu Lily dan Tony di dalam rumah yang mulai terbakar api. Love dengan mulut tersumpal dan tangan terikat melilit ke tubuhnya berusaha membelot namun tak kuasa. Mahendra merangkul tubuh Love dengan satu tangan. Sementara tangan lainnya menghidupkan korek api dan melempar ke depan pintu yang ternyata dipenuhi tumpahan minyak gas.